periskop.id - Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah serangan beruntun antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pada Minggu (1/3), tiga negara Eropa yang tergabung dalam kelompok E3, Inggris, Prancis, dan Jerman, menyatakan kesiapan mereka mengambil langkah pertahanan yang dianggap “diperlukan dan proporsional” untuk melindungi kepentingan nasional maupun sekutu di kawasan.

Dalam pernyataan bersama, para pemimpin E3 menegaskan bahwa serangan rudal Iran yang dilancarkan secara “tanpa pandang bulu” telah membahayakan personel militer dan warga sipil. 

“Kami menyerukan kepada Iran untuk segera menghentikan serangan sembrono ini. Kami akan mengambil langkah untuk membela kepentingan kami dan sekutu kami di kawasan, termasuk dengan memungkinkan tindakan defensif yang diperlukan dan proporsional untuk menghancurkan kemampuan Iran dalam meluncurkan rudal dan drone dari sumbernya,” demikian isi pernyataan tersebut mengutip Antara, Senin (2/3).

Langkah ini menandai konsolidasi politik Eropa bersama Amerika Serikat (AS) dan sekutu regional. Ketiganya sepakat memperkuat koordinasi dengan Washington, menyusul serangan udara AS-Israel pada Sabtu (28/2) yang menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Teheran meluncurkan serangkaian rudal dan drone yang menargetkan Israel, aset militer Amerika Serikat, serta beberapa negara Teluk. Serangan ini memperburuk eskalasi yang sudah lama membara, terutama setelah serangan terhadap fasilitas nuklir Iran beberapa tahun terakhir.

Menurut laporan lembaga riset keamanan internasional SIPRI, Iran memiliki salah satu program rudal balistik paling besar di Timur Tengah, dengan jangkauan hingga 2.000 km. 

Kapabilitas ini membuat negara-negara Eropa merasa ancaman langsung terhadap kepentingan mereka semakin nyata, terutama karena jalur perdagangan energi di Teluk Persia sangat vital bagi pasokan global.

Selain itu, Organisasi Maritim Internasional telah mengimbau kapal-kapal internasional untuk menghindari Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi titik transit hampir 20% perdagangan minyak dunia. Kondisi ini menambah kekhawatiran akan dampak ekonomi global jika konflik terus berlanjut.

Dengan meningkatnya risiko, E3 menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas kawasan bersama sekutu. Namun, para analis menilai bahwa langkah defensif yang direncanakan bisa memperluas lingkaran konflik, mengingat Iran memiliki jaringan sekutu non-negara seperti Hezbollah di Lebanon dan kelompok bersenjata di Irak maupun Yaman.