Periskop.id - Sebuah jajak pendapat terbaru CNN yang dirilis, Senin (2/3) menunjukkan, 59% warga Amerika Serikat (AS) tidak menyetujui keputusan AS untuk mengambil tindakan militer terhadap Iran. Jajak pendapat tersebut, yang dilakukan oleh SSRS dilakukan segera setelah pasukan AS dan Israel melancarkan serangan.

Sebanyak 60% responden mengatakan mereka tidak yakin Presiden AS Donald Trump memiliki rencana yang jelas untuk menangani situasi itu. Lalu, 62% responden mengatakan, dia seharusnya mendapatkan persetujuan Kongres untuk setiap tindakan militer lebih lanjut.

Sekitar 39% responden mengatakan AS tidak melakukan upaya yang cukup dalam diplomasi sebelum menggunakan kekuatan militer. Sementara itu, hanya 27% yang merasa AS telah melakukan upaya yang cukup, dan 33% lainnya tidak yakin.

Sekitar 56% responden melihat konflik militer jangka panjang antara AS dan Iran sebagai sesuatu yang setidaknya cukup mungkin terjadi. Kemudian, 24% melihatnya sebagai hal yang sangat berpotensi terjadi. Jajak pendapat terbaru itu dirilis sehari setelah jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan 43% warga AS menentang serangan terhadap Iran.

Kedua jajak pendapat tersebut dirilis di tengah perpecahan tajam di antara kubu Demokrat dan Republik di parlemen mengenai serangan terhadap Iran.

Para anggota dari Partai Republik jauh lebih mungkin menyetujui tindakan militer itu dibandingkan anggota dari Partai Demokrat, dengan hanya 18% anggota Partai Demokrat dan 32% independen yang menyetujui, dibandingkan dengan 77% anggota Partai Republik, menurut jajak pendapat CNN.

Para anggota parlemen dari Partai Demokrat mengecam tindakan tersebut, dengan alasan tidak ada ancaman yang bersifat mendesak. Serangan itu juga tidak diotorisasi oleh Kongres. Mereka juga memperingatkan, Trump berpotensi menyeret AS ke dalam konflik Timur Tengah yang berkepanjangan lainnya.

Pelucutan Senjata
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio, Senin (2/3) mengatakan, AS memang ingin melihat terjadinya perubahan rezim di Iran, namun hal tersebut bukan tujuan utama duet serangan AS-Israel.

“Kami tentu ingin melihat rezim ini digantikan. Seperti yang telah disampaikan Presiden Donald Trump, ia ingin rakyat Iran memanfaatkan momentum ini sebagai kesempatan untuk bangkit dan menyingkirkan para pemimpin tersebut,” ujar Rubio kepada wartawan.

Meski demikian, ia menegaskan, Washington memiliki sasaran lain dalam melancarkan serangan terhadap Iran. “Tujuan dari misi ini adalah memastikan mereka tidak memiliki senjata yang dapat mengancam kami dan sekutu kami di kawasan. Itulah alasan kami melakukan apa yang kami lakukan saat ini,” tambahnya.

Rubio menjelaskan, target utama adalah mencegah Iran memiliki kemampuan menggunakan rudal balistik untuk mengancam negara-negara tetangganya, pangkalan militer AS, serta kehadiran AS di kawasan tersebut.

Pada Sabtu (28/2), AS dan Israel melancarkan serangan terhadap banyak target di Iran, termasuk di Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban jiwa di kalangan sipil. Iran membalas dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel, serta ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah sebagai bentuk pertahanan diri.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dilaporkan gugur akibat serangan pada hari itu, bersama sejumlah pejabat senior pemerintah dan militer Iran lainnya, sebagaimana dikonfirmasi otoritas setempat, Minggu (1/3).

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan tersebut, sebagai pelanggaran sinis terhadap seluruh norma moralitas manusia dan hukum internasional.