Periskop.id - Harga minyak dunia mengalami penurunan signifikan pada awal pekan ini di tengah perkembangan terbaru terkait jalur energi global yang krusial.
Melansir Investing, harga minyak turun sekitar 3% pada Senin (16/3) setelah sejumlah kapal berhasil melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.
Penurunan ini terjadi meskipun sekutu Amerika Serikat (AS) menolak permintaan Presiden Donald Trump untuk membantu membuka kembali jalur tersebut secara penuh.
Di saat yang sama, kepala International Energy Agency menyatakan bahwa lebih banyak cadangan minyak dapat dilepas untuk menekan lonjakan biaya energi yang dipicu konflik dengan Iran.
Penurunan harga terjadi pada dua acuan utama minyak dunia.
Kontrak berjangka Brent tercatat turun sebesar US$2,93 atau sekitar 2,8% menjadi US$100,21 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate atau WTI dari Amerika Serikat turun lebih dalam, yakni US$5,21 atau 5,3% menjadi US$93,50 per barel.
Penurunan yang lebih tajam pada WTI dipengaruhi oleh sejumlah faktor domestik di Amerika Serikat.
Para analis menjelaskan bahwa harga minyak AS turun lebih dalam karena produksi domestik yang mendekati rekor tertinggi. Kondisi ini diperkuat oleh tambahan pasokan dari impor minyak Venezuela serta rencana pemerintah AS untuk melepas cadangan minyak strategis.
Selain faktor fundamental, tekanan juga datang dari sisi teknis pasar. Sejumlah pelaku pasar menjual kontrak WTI untuk pengiriman April menjelang jatuh tempo di New York Mercantile Exchange pada 20 Maret.
Sebelum penurunan ini, harga minyak sempat melonjak tajam.
Pada Jumat (13/3), Brent ditutup pada level tertinggi sejak Agustus 2022, sementara WTI mencapai level tertinggi sejak Juli 2022. Secara keseluruhan, kedua acuan tersebut telah naik hampir 40 persen sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.
Lonjakan tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Selat Hormuz menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika harga minyak. Jalur ini merupakan salah satu rute pelayaran paling vital di dunia karena dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global.
Presiden AS, Donald Trump kembali menyerukan agar negara negara lain membantu membuka jalur tersebut. Namun, respons dari sekutu tidak terlalu positif.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa para menteri luar negeri Uni Eropa saat ini “tidak memiliki keinginan” untuk memperluas misi angkatan laut ke wilayah tersebut.
Di sisi lain, Iran memberikan izin kepada beberapa kapal India untuk melintasi Selat Hormuz. Namun, Iran juga meminta India untuk membebaskan tiga kapal tanker yang disita pada Februari sebagai bagian dari negosiasi untuk menjamin keamanan pelayaran.
“Pasar minyak sedang mengalami aksi jual karena laporan bahwa beberapa tanker berhasil melintasi Selat Hormuz dan karena Trump meminta bantuan untuk mengawal kapal tanker,” kata analis dari firma konsultan energi Ritterbusch and Associates.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa Amerika Serikat “tidak keberatan” jika kapal dari Iran, India, dan China melintas di Selat Hormuz untuk sementara waktu.
Ia juga menegaskan bahwa upaya untuk menekan harga energi akan sangat bergantung pada durasi konflik yang sedang berlangsung.
Meskipun harga minyak turun, risiko lonjakan biaya energi masih membayangi.
Pemerintah di berbagai negara saat ini berupaya melindungi konsumen dari dampak kenaikan harga energi akibat terganggunya pasokan global.
Negara negara anggota International Energy Agency juga membuka opsi untuk melepas lebih banyak minyak dari cadangan strategis. Sebelumnya, mereka telah menyepakati pelepasan terbesar dalam sejarah, yakni sebesar 400 juta barel.
Di tengah penurunan harga, konflik geopolitik masih menjadi faktor utama yang dapat mengubah arah pasar secara cepat.
Israel disebut telah menyiapkan rencana operasi militer setidaknya untuk tiga minggu ke depan, sementara serangan terhadap target di Iran masih berlangsung.
Menteri Energi AS Chris Wright memperkirakan konflik ini dapat berakhir dalam beberapa minggu ke depan. Ia menilai pasokan minyak akan kembali normal dan biaya energi berpotensi turun setelah konflik mereda.
Namun, eskalasi masih mungkin terjadi. Presiden Trump bahkan mengancam akan melancarkan serangan tambahan ke Pulau Kharg di Iran, yang menangani sekitar 90 persen ekspor minyak negara tersebut.
Ketidakpastian pasar juga diperburuk oleh gangguan infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.
Perusahaan minyak nasional Abu Dhabi, ADNOC, sempat menghentikan aktivitas pemuatan minyak di Pelabuhan Fujairah setelah serangan drone memicu kebakaran di terminal ekspor utama.
Meski demikian, sebagian aktivitas telah kembali berjalan. Dua dari tiga titik tambat utama untuk kapal tanker dilaporkan sudah kembali beroperasi.
Tinggalkan Komentar
Komentar