Periskop.id - Negara-negara Eropa sepakat untuk menolak seruan Amerika Serikat (AS) untuk mengerahkan pasukan angkatan laut ke Selat Hormuz. Mereka menekankan tidak berniat untuk terlibat secara militer dalam konflik yang meningkat dengan Iran.

Hal ini disampaikan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas, dikutip Selasa (17/2) setelah pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, seraya menekankan bahwa Eropa "tidak tertarik pada perang tanpa akhir."

Kallas menyoroti, Uni Eropa memang berfokus pada penguatan keamanan maritim, tetapi menegaskan tidak ada keinginan di antara negara-negara anggota untuk memperluas misi saat ini seperti Operasi Aspides di Laut Merah atau memperluasnya ke Selat Hormuz.

"Tidak ada yang ingin secara aktif terlibat dalam perang ini," katanya, seraya menegaskan, prioritas blok tersebut tetaplah menjaga kebebasan navigasi dan mengintensifkan upaya diplomatik.

Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani menyerukan hal yang sama, ia menggarisbawahi, misi angkatan laut Uni Eropa yang bertugas mengawal kapal dagang dan operasi anti-pembajakan, tidak dirancang untuk beroperasi di Selat Hormuz.

“Kami bersedia memperkuat misi-misi ini,” katanya.

“Tetapi saya rasa misi-misi tersebut tidak dapat diperluas hingga mencakup Selat Hormuz,” serunya. 

Jerman juga menolak mengirim pasukan ke Teluk. Kanselir Friedrich Merz mengatakan, Berlin “tidak akan melakukannya” dan menyerukan solusi politik yang cepat untuk konflik tersebut. 

Bukan Perang Kami
Sementara itu, Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius memperingatkan, pengerahan pasukan di luar wilayah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), membutuhkan persetujuan hukum dan persetujuan parlemen.

“Ini bukan perang kami; kami tidak memulainya. Kami menginginkan solusi diplomatik dan penyelesaian konflik yang cepat," ujarnya. 

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menolak tekanan AS untuk bergabung dalam upaya militer di wilayah tersebut. Ia menyatakan Inggris “tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas” dan menekankan bahwa setiap pengerahan harus memiliki mandat hukum.

Polandia dan Belgia juga menegaskan kembali fokus mereka pada diplomasi dan stabilitas regional, menolak seruan dari Washington untuk menyumbangkan aset angkatan laut.

Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski mengkritik Presiden AS Donald Trump, karena menggambarkan NATO sebagai entitas terpisah dari AS. Namun di sisi lain, mendesak partisipasi Eropa dalam operasi militer di Teluk.

Perdana Menteri Belgia Bart De Wever menegaskan posisi pemerintahnya, dengan mengatakan kepada parlemen bahwa Belgia tidak akan bergabung dalam serangan apa pun bersama AS dan Israel.

Sebelumnya pada hari Senin, Trump mengatakan "banyak negara" sedang bersiap untuk membantu AS dalam membuka kembali Selat Hormuz. Tetapi ia tidak menyebutkan nama-nama negara tersebut, dengan alasan kekhawatiran, mereka dapat menjadi sasaran Iran.

Selat Hormuz telah menjadi pusat perhatian pasar energi global sejak Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan penutupannya bagi sebagian besar kapal di tengah serangan AS-Israel terhadap negara tersebut yang dimulai pada 28 Februari. Sebelum perang, sekitar 20 juta barel minyak melewati selat tersebut setiap hari. Gangguan yang terjadi telah mendorong harga minyak melonjak.

Keluhan Trump
Menyikapi hal ini, Presiden AS Donald Trump mengeluhkan negara-negara yang selama ini "dilindungi" AS tetapi enggan mengirimkan kapal penyapu ranjau ke Selat Hormuz.

"Banyak negara telah memberi tahu saya bahwa mereka sedang menuju lokasi, beberapa sangat antusias, beberapa tidak. Beberapa adalah negara yang telah kami bantu selama bertahun-tahun," kata Trump pada Senin (16/3).

"Kami ingin tahu, 'Apakah Anda memiliki kapal penyapu ranjau?' Mereka menjawab, 'Kami lebih suka tidak terlibat.' Selama 40 tahun, kami melindungi Anda, dan Anda tidak ingin terlibat dalam hal yang sangat kecil," ujarnya.

Pada Sabtu, Trump meminta China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara lain untuk mengirimkan kapal perang ke Selat Hormuz. Trump juga mengaku tidak yakin sekutu NATO akan membela AS, berbeda dengan komitmen AS terhadap aliansi pertahanan tersebut.