Periskop.id - Harga minyak dunia meningkat menjelang tenggat yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran, untuk menyetujui tuntutan Amerika Serikat dan menyepakati gencatan senjata.

Pada Selasa (7/4) pukul 06.30 GMT (13.30 WIB), harga minyak Brent naik 1,5% menjadi sekitar US$111,4 (sekitar Rp1,95 juta) per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) meningkat 2,7% menjadi US$115,3 per barel.

Trump sebelumnya menyatakan, jika tidak tercapai kesepakatan hingga batas waktu tersebut, pasukan AS akan melancarkan serangan luas terhadap target-target sipil di Iran. Ia juga mengeklaim, militer AS mampu "menghancurkan" seluruh negara itu dalam satu malam.

"Seluruh negara itu bisa dihancurkan dalam satu malam, dan itu bisa terjadi besok malam," tuturnya.

Trump menetapkan tenggat hingga Selasa pukul 20.00 EDT (Rabu 07.00 WIB) dan memperingatkan, infrastruktur seperti jembatan dan pembangkit listrik di Iran akan "dihancurkan" jika tidak ada kesepakatan.

Sementara itu, militer Israel memperingatkan warga Iran untuk tidak menggunakan kereta api secara nasional pada Selasa, serta menjauhi area di sekitar jalur rel.

Iran Siapkan Respons
Sebelumnya, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei, Senin (6/4), mengatakan, negaranya telah menyiapkan respons terhadap rencana 15 poin yang diajukan Amerika Serikat (AS) untuk mengakhiri perang Namun, Baghaei menyebut pihaknya akan mengungkap rincian tersebut pada waktu yang tepat.

Pernyataan tersebut disampaikan Baghaei dalam konferensi pers mingguan di Teheran, saat menjawab pertanyaan mengenai apakah ada rencana baru antara Iran dan AS untuk mengakhiri konflik itu. Baghaei mengatakan beberapa hari yang lalu, rencana 15 poin AS telah disampaikan kepada Iran melalui perantara, termasuk Pakistan dan sejumlah "negara sahabat" lainnya.

"Pada saat itu, kami mengumumkan bahwa rencana tersebut berisi tuntutan yang sangat berlebihan, tidak biasa, dan tidak masuk akal," tuturnya. 

Dia mengatakan ,meskipun terdapat syarat-syarat "yang dapat diterima", Iran telah menyusun serangkaian tuntutan berdasarkan kepentingan dan pertimbangan sendiri.

"Kami sudah tahu sebelumnya apa yang kami inginkan dan garis merah mana yang tidak ingin kami lewati, dan posisi kami kini jelas. Kami telah menyusun respons kami (terhadap rencana gencatan senjata yang diusulkan AS) sejak awal ketika isu ini diangkat, dan akan memberikan informasi mengenai pengumuman tersebut serta cara pengumumannya kapan pun diperlukan," jelas Baghaei.

Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran dan beberapa kota Iran lainnya, yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei, beserta para komandan militer senior dan warga sipil. Iran membalas dengan melancarkan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset-aset AS di Timur Tengah.

Dalam wawancara dengan Wall Street Journal pada Minggu (5/4), Presiden AS Donald Trump mengancam akan menghancurkan semua pembangkit listrik Iran jika para pemimpin negara tersebut tidak setuju untuk membuka kembali Selat Hormuz, Selasa (7/4) malam waktu setempat.

Selain itu, AS, Iran, dan mediator regional sedang membahas kemungkinan gencatan senjata selama 45 hari yang dapat mengarah pada "penghentian perang secara permanen," demikian dilansir Axios pada Minggu, mengutip sumber-sumber anonim dari AS, Israel, dan kawasan.