periskop.id - Setelah satu dekade, akhirnya militer AS menarik seluruh kekuatannya dari Suriah. Seluruh kendali kini telah diserahkan kepada otoritas interim Suriah. Otoritas yang menangani urusan luar negeri Suriah menyatakan bahwa wilayah Damaskus telah dipulihkan, khususnya kawasan timur laut dan sepanjang perbatasan.

Otoritas tersebut juga menyebut langkah ini sebagai kelanjutan dari upaya mengintegrasikan negara di bawah satu payung pemerintahan sekaligus menyatukan pasukan Kurdi ke dalam institusi negara.

Kini, Pemerintah Suriah akan sepenuhnya bertanggung jawab dalam memerangi terorisme dan mengatasi berbagai tantangan keamanan di dalam negeri.

Sebelumnya, militer AS telah menarik seluruh pasukannya dari pangkalan-pangkalan di Suriah yang selama ini menjadi basis mereka, seperti pangkalan Al-Tanf, Al-Shaddadi, Qasrak, dan Rmeilan.

Awal Mula Langkah Penarikan Militer AS dari Suriah

Proses penarikan militer AS dari Suriah dimulai pada Februari lalu, ditandai dengan penyerahan pangkalan Al-Tanf di perbatasan Irak dan Yordania dan pangkalan Al-Shaddadi di Hasakah kepada pasukan Suriah.

Selanjutnya, pada Maret 2026, pangkalan Rmeilan di Al-Hasakah yang berdekatan dengan perbatasan Irak juga diserahkan kepada pasukan Suriah. Setelah itu, pengambilalihan pangkalan terakhir dilakukan di Qasrak yang dilengkapi landasan udara.

Menurut pengamat Suriah, Charles Lister, pasukan yang mengambil alih pangkalan-pangkalan tersebut adalah Divisi ke-60 tentara Suriah yang sebagian besar anggotanya merupakan pejuang Kurdi yang berafiliasi dengan Pasukan Demokratik Suriah atau Syrian Democratic Forces (SDF), mitra lama AS.

Alasan AS Melakukan Penarikan Pasukan

Langkah AS menarik pasukan dari Suriah dilakukan setelah Presiden interim Suriah, Ahmed al-Sharaa, berhasil mengalahkan Bashar al-Assad pada Desember 2024. Kekalahan tersebut menandai berakhirnya perang saudara yang berlangsung selama satu dekade.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintahan baru Suriah, AS sempat menempatkan sekitar 1.000 personel militernya di negara itu. AS juga memfasilitasi kesepakatan antara SDF dan Damaskus yang mengalihkan peran pemberantasan kelompok teroris kepada pemerintah Suriah.

Sementara itu, analis menilai penarikan militer AS dari Suriah merupakan bagian dari strategi Presiden Donald Trump untuk lebih fokus pada kekuatan besar lainnya. Langkah tersebut dinilai sebagai upaya mengalihkan sumber daya militer dan intelijen yang selama ini terpusat di Timur Tengah menuju persaingan strategis dengan Cina dan Rusia.

Selain itu, kebijakan ini juga dipandang sebagai cara mengurangi beban finansial dan logistik operasi militer darat di kawasan yang kini tidak lagi dianggap sebagai kepentingan vital bagi keamanan nasional AS. Sebagai gantinya, AS mengalihkan peran kepada kemitraan keamanan regional dan fokus pada investasi minyak dan gas sejalan dengan konsep America First.

Pengamat Charles Lister juga menyatakan bahwa penarikan pasukan AS dilakukan untuk menghindari potensi serangan dari kelompok paramiliter Irak yang didukung Iran.

Risiko Penarikan Pasukan AS

Meskipun militer AS telah menarik pasukannya dari Suriah dan menyatakan kemenangan atas ISIS, langkah tersebut tidak langsung menjamin keamanan penuh bagi Suriah maupun menghilangkan ancaman kelompok teroris seperti ISIS.

Berdasarkan laporan dari PBB pada Februari 2026, sel-sel tidur ISIS kembali menunjukkan aktivitas di sejumlah kota besar, termasuk Damaskus.

Ancaman tersebut muncul akibat melemahnya sistem pemantauan terhadap kelompok milisi. Selain itu, proses integrasi SDF ke dalam militer pemerintahan Suriah dinilai berisiko mengganggu jaringan intelijen yang sebelumnya dibangun AS untuk melacak keberadaan sel-sel teroris.