Periskop.id - Presiden Donald Trump menyatakan, pasukan AS akan meninggalkan Iran dalam dua hingga tiga pekan. Hal ini menandai berakhirnya serangan terhadap negara itu.

"Yang harus saya lakukan hanya meninggalkan Iran, dan kami akan segera melakukannya," kata Trump kepada wartawan, Selasa (31/3).

"Kami akan segera pergi," katanya, seraya menambahkan hal itu akan terjadi dalam "mungkin dua minggu, mungkin tiga minggu," serunya. 

"Jika Prancis atau negara lain ingin mendapatkan minyak atau gas, mereka akan melalui Selat (Hormuz). Mereka akan mampu membela diri sendiri. Saya pikir itu akan sangat aman, tetapi kami tak ada hubungannya dengan itu," katanya.

Seperti diketahui, AS dan Israel telah melakukan serangan udara terhadap Iran sejak 28 Februari, yang hingga kini menewaskan lebih dari 1.340 orang, menurut pemerintah Iran. Kemudian, Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta sejumlah wilayah yang menampung aset militer AS di negara-negara Teluk.

Menurut data resmi AS, sedikitnya 13 prajurit mereka telah tewas sejak perang dimulai. Konflik tersebut juga mendorong kenaikan harga energi dan mengganggu pelayaran di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak global.

Trump mengeklaim, tujuan pemerintahan AS untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir telah tercapai. "Mereka tak akan memiliki senjata nuklir. Dan tujuan itu telah tercapai," serunya.

Serangan AS sangat melemahkan kemampuan militer Iran, kata Trump, seraya menambahkan, Iran memerlukan '15 hingga 20 tahun" untuk membangun lagi kekuatannya.

"Jika mereka datang ke meja perundingan, itu bagus. Tetapi tak masalah mereka datang atau tidak, kami telah membuat mereka mundur," cetusnya.

Trump juga mengeklaim telah terjadi "perubahan rezim" di Iran dengan merujuk pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

"Kami telah menjatuhkan satu rezim, lalu menjatuhkan rezim kedua. Sekarang ada kelompok yang sangat berbeda," katanya. "Menurut saya, mereka jauh lebih moderat," lanjutya.

Selat Hormuz
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada para stafnya bahwa dia siap mengakhiri operasi militer terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz sebagian besar masih ditutup. Laporan itu ditulis The Wall Street Journal, Senin (30/3), dengan mengutip sejumlah pejabat pemerintahan Amerika, sebagaimana dikutip RIA Novosti, Selasa.

Menurut laporan tersebut, dalam beberapa hari terakhir, Trump dan para stafnya menyimpulkan, misi untuk membuka Selat Hormuz secara penuh berpotensi memperpanjang konflik di luar rencana awal operasi, yang diperkirakan berlangsung antara empat hingga enam pekan.

Trump memutuskan, Washington sebaiknya berfokus pada tujuan utamanya, yakni membatasi kemampuan angkatan laut Iran dan persediaan rudalnya, serta meredakan permusuhan yang sedang berlangsung. Sambil secara bersamaan menekan Teheran untuk memulihkan kelancaran arus perdagangan.

Jika upaya tersebut tidak membuahkan hasil, Washington disebut akan mendorong sekutu-sekutunya di Eropa dan negara-negara Teluk Persia, untuk mengambil peran lebih besar dalam membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Laporan itu juga menyebutkan, Trump masih mempertimbangkan opsi militer tambahan, tetapi langkah tersebut bukan menjadi prioritas utama dalam strateginya saat ini.

Pada akhir Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran, yang menyebabkan kerusakan serta korban di kalangan sipil. Iran kemudian membalas dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika yang berada di Timur Tengah.

Eskalasi di sekitar Iran tersebut telah menyebabkan blokade de facto di Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global. Situasi itu juga berpengaruh terhadap tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan, sehingga mendorong kenaikan harga bahan bakar di sebagian besar negara di dunia.