Periskop.id - Militer Iran menyatakan siap menyerang target yang telah ditentukan, jika Amerika Serikat melancarkan serangan baru terhadap negara itu. Hal ini diungapkan televisi pemerintah Iran, Rabu (22/4).

Peringatan itu disampaikan juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyusul apa yang disebutnya sebagai ancaman berulang dari Presiden Donald Trump dan komandan militer AS.

"Pasukan kami yang kuat dan mumpuni telah lama berada dalam kondisi siaga penuh dan siap bertindak kapan saja," kata Zolfaghari.

Ia menambahkan, jika terjadi agresi atau tindakan apa pun terhadap Republik Islam Iran, pasukan Iran, lanjutnya, akan segera menyerang target yang telah ditentukan dengan kekuatan penuh. Pernyataan tersebut muncul setelah Trump Selasa (21/4) mengatakan, akan memperpanjang gencatan senjata dengan Iran atas permintaan Pakistan.

Ia juga menegaskan blokade laut terhadap pelabuhan Iran tetap diberlakukan dan telah memerintahkan militer AS untuk mempertahankannya. Menurut Trump, gencatan senjata akan diperpanjang hingga Iran mengajukan apa yang ia sebut sebagai "proposal terpadu."

Trump mengatakan, pembukaan Selat Hormuz diduga akan membuat kesepakatan apa pun dengan Iran menjadi mustahil. "Empat hari lalu, orang-orang mendatangi saya dan berkata, 'Tuan, Iran ingin membuka Selat, segera.' Tetapi jika kita melakukan itu, tidak akan pernah ada kesepakatan dengan Iran," kata Trump di Truth Social, Selasa.
Perundingan Lanjutan
Pada 13 April, Angkatan Laut AS mulai memblokade semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz, yang menyumbang sekitar 20% dari pasokan minyak, produk petroleum, dan LNG dunia.

Washington menegaskan, kapal-kapal non-Iran bebas melintasi Selat Hormuz selama mereka tidak membayar bea kepada Teheran. Sementara, otoritas Iran belum mengumumkan pemberlakuan bea tersebut, tetapi telah membahas rencana tersebut.

Di sisi lain, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengharapkan agar perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat dilanjutkan dan gencatan senjata saat ini diperpanjang.

"Kami sangat berharap dialog antara AS dan Republik Islam Iran dapat dilanjutkan, gencatan senjata diperpanjang, dan diplomasi dijalankan sepenuhnya," kata Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric.

Dujarric dalam konferensi pers harian mengatakan, Guterres beserta utusan pribadinya untuk konflik Timur Tengah Jean Arnault terus menjalin berbagai komunikasi. Gencatan senjata antara AS dan Iran yang berlangsung selama dua pekan dijadwalkan berakhir pada Rabu.