Periskop.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku belum yakin negaranya bisa segera mencapai kesepakatan dengan Iran, di tengah negosiasi yang masih berlangsung terkait program nuklir Teheran dan eskalasi konflik di Timur Tengah.

Pernyataan itu muncul saat ketegangan geopolitik kawasan masih tinggi pascaserangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memicu krisis energi global serta gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Advertisement

“Saya tidak tahu. Jika mereka tidak melakukannya, mereka akan menghadapi situasi yang sangat buruk. Mereka punya kepentingan untuk mencapai kesepakatan,” kata Trump kepada koresponden BFMTV di Amerika Serikat, dikutip Minggu (17/5). 

Sejumlah media internasional melaporkan, Trump diperkirakan akan mengambil keputusan penting dalam beberapa jam mendatang terkait kelanjutan operasi militer terhadap Iran setelah perundingan diplomatik sejauh ini belum menghasilkan titik temu.

Konflik memanas sejak 28 Februari ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Teheran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel serta fasilitas militer milik sekutu AS di kawasan Teluk.

Situasi itu turut memicu penutupan Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi salah satu urat nadi distribusi minyak dan gas dunia. Meski gencatan senjata sempat diberlakukan pada 8 April melalui mediasi Pakistan, pembicaraan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen. 

Trump kemudian memperpanjang status gencatan senjata tanpa batas waktu, namun blokade terhadap kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran masih tetap berlangsung. Kondisi tersebut membuat arus perdagangan energi global terganggu dan meningkatkan kekhawatiran pasar internasional terhadap lonjakan harga minyak dunia.

Buka Selat Hormuz
Di tengah ketegangan itu, Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mendesak agar Selat Hormuz kembali dibuka tanpa pungutan maupun pembatasan diskriminatif demi menjaga stabilitas ekonomi global.

“Yang pertama adalah pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pungutan atau pembatasan diskriminatif, karena kemakmuran tidak hanya kawasan Mediterania dan Teluk, tetapi juga seluruh dunia bergantung pada kebebasan navigasi,” kata Meloni saat berbicara dalam Forum Eropa-Teluk di Costa Navarino, Yunani.

Meloni juga menegaskan Italia siap membantu mendukung keamanan pelayaran internasional apabila kondisi memungkinkan. Ketegangan di Selat Hormuz kini menjadi perhatian utama dunia karena sekitar 20 persen distribusi minyak global melewati jalur tersebut setiap harinya. 

Data Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) menunjukkan, jalur itu menjadi rute vital ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk menuju Asia, Eropa, dan Amerika. Sejumlah analis geopolitik menilai ketidakpastian negosiasi AS-Iran berpotensi memperpanjang instabilitas di Timur Tengah sekaligus memperbesar tekanan terhadap pasar energi internasional.

Sebelumnya, Iran juga mengumumkan kapal-kapal asing yang ingin melintasi Selat Hormuz wajib berkoordinasi dengan militer Iran karena adanya ranjau dan hambatan keamanan di kawasan tersebut. Situasi itu membuat sejumlah negara Eropa mulai membuka komunikasi langsung dengan otoritas Iran guna memastikan keamanan jalur pelayaran internasional tetap terjaga.