Periskop.id Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah Teheran mengancam akan menjadikan Teluk Oman sebagai “kuburan kapal” jika Washington tidak menghentikan blokade laut terhadap Iran. Ancaman itu muncul di tengah meningkatnya eskalasi konflik Timur Tengah yang turut mengguncang jalur perdagangan energi global dan memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas Selat Hormuz.

Pernyataan keras tersebut disampaikan Anggota Dewan Kemaslahatan Iran Mayjen Mohsen Rezaei, menyusul kebijakan blokade angkatan laut Amerika Serikat yang mulai diberlakukan sejak 13 April 2026.

"Saran saya kepada AS adalah mundurlah, sebelum Teluk Oman berubah menjadi kuburan bagi kapal-kapal Anda. Jika tidak, maka yang kami pahami adalah bahwa blokade laut merupakan tindakan perang dan meresponsnya adalah hak alami kami," kata Mayjen Mohsen Rezaei dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran dikutip Senin (18/5). 

Rezaei menegaskan, Iran tidak akan terus bersikap pasif menghadapi tekanan militer dan ekonomi dari Washington maupun sekutunya di kawasan. "Jika kami telah bersabar hingga sekarang, maka itu bukan berarti kami menerimanya," ucapnya.

Ia juga mempertanyakan keberadaan armada militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia yang dinilai sudah tidak lagi memiliki alasan geopolitik seperti era Perang Dingin. "Amerika datang ke sini dan membawa kapal-kapal perangnya. Siapa musuh mereka? Dulu mereka mengatakan datang untuk menghadapi Uni Soviet. Uni Soviet sudah tidak ada lagi," tuturnya.

Kehadiran Militer Asing
Iran menegaskan, Selat Hormuz tetap terbuka bagi aktivitas perdagangan internasional, namun menolak kehadiran militer asing yang dianggap mengancam keamanan kawasan. "Selat Hormuz terbuka untuk perdagangan, tetapi akan ditutup bagi penumpukan militer dan segala upaya yang mengganggu keamanan," tegasnya.

Seperti diketahui, ketegangan regional meningkat tajam sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari 2026. Serangan tersebut memicu balasan Teheran terhadap fasilitas militer Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk.

Konflik itu kemudian berdampak langsung terhadap jalur energi global, khususnya di Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia. Menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20% perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz setiap harinya.

Gangguan terhadap jalur pelayaran di kawasan itu langsung memicu lonjakan harga energi dunia, termasuk minyak mentah dan gas alam cair. Sejumlah perusahaan pelayaran internasional juga mulai mengalihkan rute distribusi untuk mengurangi risiko keamanan.

Meski sempat tercapai gencatan senjata pada 8 April melalui mediasi Pakistan, perundingan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen antara kedua pihak. Situasi kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu sambil tetap mempertahankan tekanan militer dan blokade terhadap aktivitas maritim Iran.

Ultimatum Trump

Dalam pernyataan terbaru di platform Truth Social, Trump kembali melontarkan ultimatum keras kepada Teheran. "Untuk Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya bergerak, CEPAT, atau tidak akan ada lagi yang tersisa dari mereka. WAKTU SANGAT KRUSIAL!" tulis Trump.

Media Amerika Serikat Axios melaporkan, Trump dijadwalkan menggelar pertemuan bersama tim keamanan nasional di Gedung Putih pada Selasa (19/5), untuk membahas berbagai opsi militer terhadap Iran.

Sebelumnya, Trump juga dikabarkan melakukan pembicaraan via telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait langkah lanjutan menghadapi Iran.

Sejumlah negara mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi konflik terbuka di kawasan Teluk Persia. Italia sebelumnya mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa pembatasan maupun pungutan diskriminatif demi menjaga stabilitas perdagangan global.

Sementara itu, Iran juga telah mulai mengatur jalur pelayaran khusus bagi kapal-kapal asing yang melintas di Selat Hormuz. Media pemerintah Iran IRIB melaporkan sejumlah kapal internasional, termasuk kapal terkait China dan India, telah melintasi jalur aman di bawah pengawasan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Analis geopolitik menilai ketegangan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi memperpanjang ketidakpastian pasar energi global. Terutama jika konflik meluas menjadi konfrontasi militer terbuka di kawasan Teluk.