Periskop.id - Kelangkaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) dalam skala nasional tengah melanda India, memaksa ribuan restoran di seluruh negeri untuk berhenti menggunakan kompor gas mereka.
Krisis ini memaksa para pelaku usaha bergantung pada kompor induksi listrik, hotplate yang dipesan secara mendadak, hingga kembali ke metode tradisional seperti penggunaan arang dan kayu bakar untuk tetap beroperasi.
Mengutip Finansial Times pada Kamis (23/4), dampak krisis ini begitu nyata hingga banyak dapur tidak lagi mampu menyajikan menu andalan yang ekstra besar dan renyah. Hal ini dikarenakan hidangan tersebut membutuhkan nyala api besar dari gas yang stabil agar mencapai tingkat kematangan sempurna.
Penyebab utama dari krisis ini adalah pecahnya perang Iran yang memangkas tajam pasokan LPG ke India.
Sebagai negara berpenduduk terbesar di dunia, India merupakan importir LPG terbesar kedua secara global dengan ketergantungan mencapai 90% dari kawasan Timur Tengah. Sebagian besar pengiriman tersebut harus melewati Selat Hormuz yang saat ini sedang berada dalam kondisi blokade.
Sebagai langkah darurat, pemerintah India mulai menerapkan kebijakan penjatahan pasokan bagi pengguna komersial dan mencoba memesan LPG dari lokasi yang lebih jauh seperti Amerika Serikat.
Namun, upaya tersebut dinilai belum mampu meredam kekurangan pasokan yang kini telah berubah menjadi isu politik yang sensitif. Seorang manajer investasi India menyebut situasi ini sebagai “bola panas politik” mengingat besarnya portofolio yang terdampak krisis energi ini.
Dari Rumah Tangga hingga Kafe Elit
Krisis gas ini telah menghantam lini kehidupan rumah tangga, di mana sekitar 85% hingga 90% LPG di India digunakan untuk keperluan domestik. Hal ini disebabkan hanya 5% rumah di India yang terhubung dengan jaringan gas pipa.
Antrean panjang masyarakat untuk mendapatkan tabung gas kini menjadi pemandangan umum, diiringi dengan lonjakan pembelian kompor induksi yang cepat ludes di berbagai situs e-commerce dan toko peralatan rumah tangga.
Dampak krisis juga merambah ke sektor bisnis makanan. Banyak pedagang kecil terpaksa beralih ke kompor diesel atau bahkan menutup usaha mereka karena tidak sanggup menanggung lonjakan biaya listrik.
Kondisi ini bahkan memaksa banyak buruh harian meninggalkan kota akibat harga tabung gas di pasar gelap yang tidak lagi terjangkau.
Bahkan, restoran kelas atas pun tidak luput dari imbas kelangkaan ini. Bread & Chocolate, sebuah kafe populer di wilayah Puducherry, harus memasang pengumuman di pintu masuk mereka:
“Karena kelangkaan gas saat ini kami untuk sementara tidak menjual roti… namun kami akan tetap buka dan berusaha menjalankan operasional selama mungkin,” tulis peringatan tersebut.
Kafe tersebut kini memindahkan sebagian besar operasional ke kompor listrik dan mengurangi aktivitas pemanggangan secara drastis.
“Kami benar-benar terkejut dengan ini. Biasanya kami membuat 60 hingga 90 kali panggangan per hari; sekarang kami hanya memanggang 30,” ujar seorang pegawai kafe tersebut.
Tantangan Politik dan Masa Depan Energi India
Waktu terjadinya krisis energi ini dinilai sangat tidak menguntungkan bagi Partai Bharatiya Janata (BJP) yang dipimpin Perdana Menteri Narendra Modi.
Situasi ini terjadi saat pemerintah tengah berupaya meraih kemajuan menjelang pemilu di negara bagian oposisi seperti Benggala Barat dan Tamil Nadu. Dalam pidatonya di parlemen pada akhir Maret, PM Modi menyebut situasi kelangkaan ini sangat mengkhawatirkan.
Sebagian analis mengingatkan bahwa krisis ini menjadi pengingat keras bagi India mengenai kerentanan mereka terhadap impor minyak dan gas.
“Ketahanan energi India telah diuji dua kali dalam waktu singkat, pertama oleh gangguan pasokan minyak Rusia, dan sekarang oleh perang Iran. Elektrifikasi bukan lagi pilihan,” ujar para analis dari Bernstein dalam laporan terbarunya.
Sebagai solusi jangka panjang, pemerintah India mulai melirik potensi besar energi surya dan batu bara, serta mulai membuka sektor tenaga nuklir bagi investor swasta.
Untuk saat ini, pemerintahan Modi fokus meredam aksi panic buying dan melakukan penggerebekan terhadap pihak-pihak yang menimbun atau melakukan praktik pasar gelap.
Menteri Perminyakan dan Gas India, Hardeep Singh Puri, berusaha menenangkan publik melalui pernyataan di media sosialnya.
“India tetap menjadi oasis ketahanan energi, ketersediaan, dan keterjangkauan. Penting bagi kita untuk tetap tenang, bertanggung jawab, dan bersatu,” tulisnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar