periskop.id - SpaceX dilaporkan resmi menetapkan harga penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) sebesar US$ 135 per lembar saham.
Perusahaan dirgantara ini sukses menghimpun modal raksasa hingga US$ 75 miliar melalui penjualan sekitar 555,56 juta lembar saham.
Laporan media Amerika Serikat (AS) pada Kamis (11/6) menyebutkan, akumulasi modal tersebut berhasil diraih melalui aksi korporasi yang masif.
Penjualan aset ekuitas ini sekaligus menandai langkah besar perusahaan dalam memperkuat struktur permodalan global mereka.
Melalui laporan keuangan tersebut, IPO ini tercatat memberi valuasi total bagi SpaceX mencapai kisaran US$ 1,77 triliun.
Saham korporasi teknologi antariksa ini dijadwalkan mulai melantai dan diperdagangkan secara resmi di bursa Nasdaq pada Jumat (12/6) waktu setempat.
Data publik menunjukkan, perolehan dana segar tersebut otomatis memecahkan rekor tertinggi dalam sejarah penawaran umum perdana di pasar modal.
Angka fantastis ini langsung menempatkan emiten baru tersebut ke dalam jajaran sepuluh besar perusahaan paling bernilai di AS.
Analisis pasar mengungkapkan bahwa skema pencatatan saham entitas ini sengaja menabrak beberapa aturan konvensi konvensional di Wall Street.
Langkah tidak biasa tersebut diambil dengan menentukan harga perdana di awal serta mengalokasikan porsi saham yang cukup tinggi bagi para investor ritel.
Berbagai media juga mengabarkan bahwa Elon Musk dipastikan tetap memegang kendali suara secara mutlak atas arah kebijakan korporasi pasca-IPO.
Struktur kepemilikan saham yang dirancang sedemikian rupa membuat hak veto sang pendiri tidak tergoyahkan oleh pemegang saham baru.
Dampak dari nilai kapitalisasi baru ini dinilai bakal mengerek total kekayaan bersih pribadi sang taipan secara sangat signifikan.
Lonjakan valuasi masif tersebut diproyeksikan mampu menobatkan pria kelahiran Afrika Selatan ini sebagai triliuner pertama di dunia.
Sebagai informasi, entitas bisnis ini didirikan oleh Elon Musk pada tahun 2002 dengan fokus awal pada industri penjelajahan antariksa.
Saat ini, sektor operasinya telah meluas ke lini layanan peluncuran wahana luar angkasa, jaringan internet satelit Starlink, hingga pengembangan kecerdasan buatan.
Langkah strategis pelepasan saham ke publik tersebut langsung memicu perhatian dan antusiasme yang luar biasa tinggi di kalangan pelaku pasar modal.
Namun, angka kapitalisasi yang kelewat besar ini juga memicu perdebatan sengit di antara para pengamat finansial global.
Para analis kini tengah menyoroti proyeksi keuntungan riil korporasi serta keberlanjutan grafik pertumbuhan bisnis mereka di masa depan.
Skema bisnis luar angkasa yang membutuhkan modal jumbo menjadi dasar utama munculnya skeptisisme sekaligus optimisme dari para investor internasional.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar