Periskop.id - Pemerintah Jepang mengirimkan sinyal kepercayaan diri yang kuat di tengah guncangan pasokan energi global. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menegaskan pada Senin (27/4) bahwa negaranya tidak akan memberlakukan langkah-langkah penghematan bahan bakar maupun menyusun anggaran tambahan. 

Kebijakan ini diambil sebagai bentuk optimisme terhadap ketahanan energi nasional meskipun jalur distribusi minyak mentah di Selat Hormuz sedang mengalami gangguan akibat blokade.

PM Takaichi menyatakan bahwa menjaga momentum pertumbuhan ekonomi menjadi prioritas utama saat ini. Ia menolak saran untuk membatasi konsumsi energi karena dianggap dapat menghambat produktivitas nasional.

“Saya telah mendengar berbagai usulan, termasuk proposal untuk mendorong pengurangan penggunaan bahan bakar, tetapi saya tidak percaya ini saatnya memperlambat aktivitas ekonomi. Itulah sebabnya kami bekerja mendesak untuk mengamankan pasokan bahan bakar yang dibutuhkan secara keseluruhan,” kata Takaichi kepada Komite Anggaran Majelis Tinggi sebagaimana dikutip oleh The Japan Times.

Strategi Pasokan dan Perbedaan Sikap dengan Korea Selatan

Sikap tegas Takaichi ini memperkuat pernyataan pejabat senior pemerintah awal bulan ini yang menjamin bahwa rumah tangga maupun pelaku usaha tidak akan diminta mengurangi konsumsi listrik atau minyak setidaknya hingga berakhirnya periode libur Golden Week pada awal Mei mendatang.

Langkah Tokyo ini tergolong kontras jika dibandingkan dengan negara tetangganya. Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, justru telah mendesak warga negaranya untuk menghemat setiap tetes bahan bakar sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian pasokan global.

Meski Jepang sangat bergantung pada Selat Hormuz untuk sekitar 90% impor minyak mentahnya, Takaichi menilai stabilitas fiskal saat ini masih mencukupi. Ia menolak desakan oposisi untuk menyusun anggaran tambahan meskipun konflik di Iran terus meningkat. 

Takaichi mencatat bahwa pemerintah telah mengalokasikan dana cadangan kontinjensi fiskal 2025 sebesar 794,8 miliar Yen pada bulan lalu, sehingga total dana yang tersedia kini melampaui 1 triliun Yen.

“Pada titik ini, saya tidak percaya situasinya mengharuskan penyusunan anggaran tambahan,” ujarnya. 

Ia juga menambahkan bahwa jika diperlukan, pemerintah masih memiliki cadangan kontinjensi yang tercantum dalam anggaran fiskal 2026.

Stok Aman Hingga Akhir Tahun

Menteri Perindustrian Jepang, Ryosei Akazawa, memberikan rincian teknis mengenai ketersediaan energi. 

Jepang dikabarkan telah mengamankan pasokan minyak alternatif untuk bulan Mei yang setara dengan 60% dari volume impor tahun lalu. Pasokan ini berasal dari sumber sumber yang jalurnya tidak melewati Selat Hormuz.

“Secara keseluruhan, kami telah mengamankan prospek yang cukup untuk pengadaan minyak Jepang guna menopang negara ini hingga akhir tahun,” tutur Akazawa.

Terkait risiko pada sektor industri petrokimia, PM Takaichi menjelaskan bahwa stok nafta sebagai bahan baku utama plastik dan bahan kimia masih dalam posisi aman.

Saat ini, persediaan produk antara atau turunan nafta sanggup mencakup kebutuhan domestik selama dua bulan, sementara produksi domestik produk kimia berbasis nafta diprediksi mampu bertahan setidaknya selama enam bulan ke depan.

Untuk memperkuat ketahanan tersebut, pemerintah Jepang terus menjaga operasional kilang domestik sambil mempercepat perluasan impor dari pemasok di luar kawasan Timur Tengah agar periode ketersediaan bahan baku dapat terus diperpanjang.