Periskop.id - Di saat instansi terkait di Indonesia mungkin masih sibuk dengan urusan birokrasi yang berbelit atau sekadar memandang sebelah mata potensi buah lokal, Thailand justru sudah berlari kencang mengamankan "emas hijau" mereka. 

Sangat kontras dengan kondisi di tanah air di mana komoditas durian sering kali dibiarkan berjuang sendiri tanpa peta jalan yang jelas dari pemerintah, Thailand justru menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin pasar yang visioner. 

Sementara kita masih terjebak dalam retorika swasembada yang tak kunjung konkret, para pejabat di Bangkok sudah turun ke lapangan sejak tiga bulan lalu demi memastikan petani mereka tidak merugi akibat melimpahnya hasil panen. 

Sungguh sebuah sindiran keras bagi instansi di Indonesia yang seolah tidak melirik potensi ekonomi raksasa dari aroma durian yang mendunia ini.

Melansir pemberitaan Bangkok Post pada Rabu (29/4), Menteri Perdagangan Thailand, Suphajee Suthumpun, mengungkapkan bahwa Thailand memproyeksikan kenaikan tajam pada hasil panen durian tahun ini. 

Produksi durian diperkirakan melonjak lebih dari 33% hingga mencapai angka sekitar dua juta ton. Peningkatan drastis ini langsung diantisipasi dengan intervensi dini guna mencegah terjadinya kelebihan pasokan yang dapat menekan harga di tingkat petani.

Langkah Antisipasi dan Strategi Tiga Pilar

Kementerian Perdagangan Thailand tidak bekerja secara mendadak. Langkah langkah respons telah disiapkan setidaknya tiga bulan sebelumnya setelah prediksi menunjukkan bahwa pasokan akan melampaui permintaan pasar. 

Strategi yang diterapkan mencakup perluasan saluran distribusi domestik, percepatan ekspor, dan promosi produk durian olahan guna menyerap buah dengan kualitas kelas lebih rendah sekaligus menjamin ketersediaan sepanjang tahun.

"Kita tidak bisa menunggu sampai ke ujung rantai pasok untuk menyelesaikan masalah ini," tegas Suphajee.

Lebih lanjut, mengutip informasi dari Vietnam+, Kementerian Perdagangan Thailand tengah meningkatkan strategi tiga pilar utama yang terdiri dari konsumsi domestik, ekspor, dan pengolahan. 

Fokus utama dari rencana ini adalah memanfaatkan e-commerce dan platform digital untuk menjangkau konsumen dari kalangan generasi muda. Target yang ditetapkan sangat ambisius, yaitu pendistribusian 450.000 ton di dalam negeri dan ekspor lebih dari 1 juta ton ke pasar internasional.

Kolaborasi dengan TikTok dan Pasar Tiongkok

Upaya ekspor Thailand akan difokuskan pada perluasan jangkauan ke kota kota sekunder di Tiongkok. Sementara itu, untuk pasar domestik, pemerintah setempat menggandeng para influencer baik dari dalam maupun luar negeri melalui kampanye live commerce daring.

Salah satu langkah paling konkret adalah penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Perdagangan Thailand dengan TikTok untuk mempromosikan penjualan buah melalui TikTok Shop dan saluran daring lainnya. 

Kerja sama ini bertujuan meningkatkan pendapatan petani serta memperluas basis konsumen, terutama di kalangan anak muda dan wisatawan asing.

Pihak TikTok Thailand menyatakan bahwa penjualan produk pertanian di platform mereka telah tumbuh antara 15% hingga 20%, didukung oleh lebih dari 1,8 juta kreator. 

Sebagai bentuk dukungan nyata, TikTok meluncurkan kampanye dengan diskon dan subsidi pengiriman senilai lebih dari 6,5 juta baht Thailand atau sekitar US$200.000 dolar AS. Mereka juga menerapkan strategi bertajuk “Start–Skill–Scale” untuk melatih para petani agar mahir berjualan secara digital.