Periskop.id - Gelombang panas ekstrem yang tengah melanda daratan Eropa kini mulai mengubah total pola hidup sehari-hari masyarakatnya, termasuk para diaspora asal Indonesia yang menetap di sana.

Diana yang bekerja sebagai karyawan swasta di Den Haag, membagikan pengalamannya dalam menghadapi fenomena iklim ini. Menurutnya, kabar mengenai panasnya suhu di Belanda bukanlah isapan jempol belaka, meskipun intensitasnya bervariasi tergantung wilayah.

“Iya (benar panas), dan panasnya tergantung di wilayah mana. Di Den Haag temperaturnya bisa 3-4 derajat Celsius di bawah kota lain seperti Eindhoven,” ujar Diana kepada Periskop, Rabu (1/7).

Ia mengatakan, puncak gelombang panas di Belanda terjadi pada Jumat (26/6), saat suhu mencapai 38 derajat Celsius. Setelah itu, kondisi mulai berangsur membaik pada akhir pekan.

"Puncaknya yang di Belanda soal heatwave itu di hari jumat tanggal 26 sampai 38 derajat, setelah itu sabtu minggunya udah mendingan," kata Diana.

Namun, tantangan terbesar bagi masyarakat di Belanda bukan sekadar suhu udara di luar ruangan, melainkan kondisi di dalam gedung dan rumah tinggal yang minim sirkulasi udara dingin.

“Bangunan-bangunan di Belanda dibuat untuk memerangkap panas karena dulu temperatur tidak mencapai setinggi sekarang. Jadi kalau di luar 33 derajat, di dalam rumah bisa lebih panas lagi,” ungkap Diana.

Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa mayoritas infrastruktur di sana tidak dipersiapkan untuk menghadapi musim panas yang masif. 

“Kantor-kantor dan bangunan umum lainnya tidak dirancang untuk mengatasi panas di atas 30 derajat Celsius. Jarang juga rumah pribadi, rumah makan, atau toko yang memiliki AC,” tambahnya.

Suhu ekstrem ini pada akhirnya memaksa Diana dan keluarganya untuk mengubah gaya hidup mereka.

“Untuk tahun ini kami memutuskan untuk membeli AC. Jadi tidak terganggu untuk kegiatan indoor. Namun, untuk tahun-tahun sebelumnya, karena pertimbangan dampak AC kepada lingkungan, kami kesulitan untuk tidur dan berkegiatan sehari-hari,” tuturnya.

Dari sektor ketenagakerjaan, sistem kerja yang fleksibel menjadi penyelamat bagi sebagian besar pekerja kantoran.

"Kebanyakan dari kami bisa kerja dari rumah," urai Diana.

Sementara itu, bagi perusahaan tempat Diana bernaung, pihak manajemen juga menunjukkan kepedulian nyata dengan membagikan fasilitas perlindungan fisik dan nutrisi secara cuma-cuma di area kerja.

"Untuk perusahaan saya sendiri memberikan sunscreen (tabir surya) gratis dan mendorong karyawan-karyawannya untuk minum air mineral lebih banyak agar tidak dehidrasi," jelasnya.

Terkait fasilitas kesehatan, Diana mengatakan beberapa tempat praktik kesehatan, seperti praktik dokter umum, sudah memiliki AC.

“Namun saya tidak tahu lebih lengkapnya apakah fasilitas kesehatan memberikan pelayanan yang berbeda kepada pasien pada saat panas ekstrem ini,” katanya.

Terkait upaya mitigasi, Diana menjelaskan bahwa bantuan dari pemerintah Belanda sejauh ini lebih banyak berbentuk informasi dan peringatan publik.

“Pemerintah Belanda sendiri memiliki website berisikan pemberitahuan dan informasi mengenai panas ekstrem, seperti pemberitahuan untuk tidak keluar rumah dan tips dari professional agar tetap sehat,” pungkasnya.