Periskop.id - Rupiah kembali melemah pada perdagangan Rabu (1/7), ditutup di level Rp17.950 per dolar AS atau turun sekitar 0,24% dari penutupan sebelumnya di Rp17.906. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat melemah hingga 70 poin sebelum akhirnya ditutup turun 43 poin.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik, terutama penguatan indeks dolar AS serta meningkatnya ketidakpastian global.

Dari sisi global, ketidakpastian atas negosiasi perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran masih mempertahankan premi risiko geopolitik di pasar. Hal ini terjadi meskipun produksi minyak mentah AS mencetak rekor tertinggi yang menunjukkan peningkatan pasokan global.

“Tidak adanya pembicaraan langsung telah memperkuat ketidakpastian tentang seberapa cepat Washington dan Teheran dapat menyelesaikan masalah yang belum terselesaikan dalam kerangka negosiasi 60 hari mereka,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (1/7).

Ia menjelaskan, pelaku pasar kini fokus pada perkembangan di Doha setelah Iran menolak pembicaraan langsung dengan utusan senior AS dan memilih jalur mediator teknis. Kondisi ini mengaburkan peluang tercapainya kesepakatan damai jangka panjang, meskipun gencatan senjata telah berlangsung selama dua pekan.

Di sisi lain, pergerakan harga minyak juga menjadi sorotan. Harga minyak Brent tercatat anjlok sekitar 38% pada kuartal II setelah sebelumnya melonjak 94% pada kuartal I. Bahkan pada Juni, harga minyak turun sekitar 21% setelah sebelumnya melemah 19% pada Mei, mencerminkan meredanya kekhawatiran gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati data ekonomi Amerika Serikat. Laporan JOLTS menunjukkan jumlah lowongan kerja naik menjadi 7,594 juta pada Mei, melampaui ekspektasi pasar sebesar 7,3 juta. Sementara itu, indeks kepercayaan konsumen AS pada Juni juga membaik.

Fokus investor kini tertuju pada rilis data ketenagakerjaan lanjutan, yakni laporan ADP serta Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis lebih awal pekan ini seiring libur nasional di AS. Data tersebut dinilai akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.

Dari dalam negeri, sentimen negatif datang dari rilis neraca perdagangan Indonesia Mei 2026 yang mencatat defisit sebesar US$1,61 miliar. Ini merupakan defisit pertama dalam enam tahun terakhir setelah sebelumnya Indonesia mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Defisit tersebut dipicu oleh nilai impor yang lebih tinggi dibandingkan ekspor. Impor tercatat sebesar US$24,81 miliar, sementara ekspor hanya mencapai US$23,20 miliar. Secara rinci, defisit terbesar berasal dari sektor migas sebesar US$3,76 miliar, terutama dari komoditas hasil minyak dan minyak mentah.

Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat impor meningkat 22,16% secara tahunan pada Mei 2026. Impor migas naik signifikan sebesar 70,78% yoy menjadi US$4,51 miliar, sedangkan impor nonmigas mencapai US$20,30 miliar atau tumbuh 14,69%.

Selain itu, tekanan juga datang dari sisi inflasi. Inflasi tahunan pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,34% (yoy), didorong oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, perawatan pribadi, dan transportasi. Meski demikian, angka tersebut masih berada dalam kisaran target Bank Indonesia.

Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan berfluktuasi dengan kecenderungan melemah.

“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.010 per dolar AS,” jelasnya.