Periskop.id - Gelombang panas ekstrem (heatwave) dilaporkan melanda sejumlah wilayah di Eropa, tak terkecuali Prancis. Fenomena alam ini tidak hanya mengubah ritme harian warga lokal, tetapi juga membawa tantangan tersendiri bagi para diaspora Indonesia yang menetap di sana.
Anisyah, seorang ibu rumah tangga sekaligus pekerja paruh waktu (part-time) asal Indonesia yang kini menetap di Antibes, wilayah Prancis Selatan, membenarkan situasi mencekam tersebut.
"Bener banget, Ya Allah," ujarnya saat dihubungi Periskop pada Jumat (3/7), menggambarkan betapa teriknya suhu udara yang harus ia hadapi belakangan ini.
Menurut Anisyah, cuaca ekstrem ini sangat menguras energi dan mengganggu aktivitas sehari-harinya bersama sang suami.
"Lumayan mengganggu ya karena cuaca panas yang ekstrem bikin badan jauh lebih gampang capek. Ditambah kalau summer, waktu siang jadi lebih panjang. Kayak jam setengah 10 malam baru terbenam dan jam 5 pagi biasanya sudah mulai terbit matahari. Hal ini bikin waktu istirahat juga jadi berkurang," keluhnya.
Kendati situasi lingkungan cukup berat, Anisyah menilai pemerintah dan fasilitas kesehatan di Prancis bergerak tanggap dalam memitigasi dampak buruk gelombang panas.
"Biasanya di Prancis kalau ada issue yang sifatnya masif seperti heatwave ini, di rumah sakit dibentuk semacam emergency khusus untuk menangani issue tersebut," jelasnya.
Tak hanya itu, perhatian ekstra juga diberikan kepada kelompok rentan seperti lansia yang tinggal sebatang kara.
"Karena cuaca ekstrem kayak heatwave gini lumayan berdampak buat kesehatan ya, terutama orang tua. Contohnya sesak napas, sakit kepala, dehidrasi, dan lain-lain," tambah Anisyah.
Pemerintah daerah setempat mengerahkan petugas khusus untuk melakukan pemeriksaan berkala dari rumah ke rumah. Layanan darurat medis darurat 24 jam bernama SAMU juga disiagakan penuh untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akut akibat gelombang panas.
Terkait regulasi ketenagakerjaan, Anisyah memaparkan bahwa sejauh ini tidak ada kebijakan pengurangan jam kerja atau penyesuaian khusus dari perusahaan akibat cuaca panas. Para pekerja tetap dituntut untuk menuntaskan kewajiban mereka seperti biasa.
"Sebenarnya efeknya biasanya ke kesehatan, cuma untuk pekerjaan sendiri tidak ada penyesuaian terkait issue tersebut sih, tetap bekerja seperti biasa saja,” jelasnya.
Meski begitu, Prancis memiliki aturan ketat mengenai hak berlibur yang kini banyak dimanfaatkan pekerja untuk menyelamatkan diri dari sengatan gelombang panas.
“Tapi kalau di Prancis ada kewajiban ambil cuti minimal 1 minggu periode April - Oktober. Nah, banyak pekerja memanfaatkannya buat vacation ke negara-negara Asia Tenggara atau negara lainnya buat menghindari heatwave, termasuk saya," pungkasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar