Periskop.id - Gelombang panas atau heatwave kembali menghantam Eropa pada musim panas 2026, mencatat ribuan korban jiwa dan memicu kerusakan infrastruktur. Banyak yang bertanya-tanya, apakah Indonesia bisa mengalami hal serupa?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa kemungkinan Indonesia dilanda heatwave seperti Eropa sangatlah kecil. Posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan ekuatorial menjadi faktor utama yang membedakannya dari wilayah-wilayah rawan heatwave.

Dampak Gelombang Panas Eropa 2026

Sejak 21 Juni 2026, setidaknya 1.300 kematian berlebih (excess deaths) telah tercatat di seluruh Eropa akibat suhu ekstrem yang datang lebih awal dari biasanya.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan data tersebut melalui unggahannya di X pada Minggu (28/6/2026). Ia menerangkan bahwa Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, dengan laju kenaikan suhu dua kali lipat dibanding rata-rata global.

"Didorong oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang sebelumnya dianggap hanya terjadi sekali dalam satu generasi kini hampir terjadi setiap tahun," ujar Tedros.

Tedros juga memperingatkan bahwa infrastruktur di Eropa belum dirancang untuk menghadapi suhu setinggi ini, sehingga dampaknya meluas ke berbagai sektor, termasuk layanan transportasi.

Di sejumlah negara seperti Jerman, Republik Ceko, dan Polandia, termometer menyentuh angka 40 derajat Celsius. Prancis mencatat kondisi paling parah, dengan sekitar 1.000 kematian berlebih yang dikaitkan langsung dengan gelombang panas. Suhu rata-rata di sana mencapai 29,8 derajat Celsius, sementara beberapa wilayah bahkan menyentuh 44 derajat Celsius sebelum akhirnya badai menerpa sejumlah daerah.

Apakah Indonesia Bisa Terkena Heatwave?

Pelaksana harian (Plh.) Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardani menyampaikan bahwa Indonesia sangat kecil kemungkinannya mengalami heatwave seperti yang melanda Eropa.

Ida menjelaskan, fenomena ini pada umumnya terjadi di kawasan lintang menengah hingga tinggi, seperti Asia Tengah, Eropa, dan Amerika. Indonesia tidak masuk dalam kategori tersebut.

"Secara geografis wilayah Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi," tuturnya pada Rabu (1/7/2026).

Mengapa Posisi Ekuatorial Indonesia Jadi Pelindung?

Letak Indonesia di garis khatulistiwa menghasilkan dinamika atmosfer yang khas. Kondisi ini membuat pola cuaca di Indonesia tidak proporsional untuk membentuk gelombang panas berkepanjangan seperti yang terjadi di Eropa.

Ida menambahkan, wilayah Indonesia juga memiliki variabilitas perubahan cuaca yang berlangsung sangat cepat. Artinya, kondisi atmosfer di sini jarang stagnan dalam waktu lama seperti yang menjadi pemicu utama heatwave.

"Maka dapat dikatakan bahwa di wilayah Indonesia tidak terjadi fenomena yang dikenal dengan Gelombang Panas atau Heatwave," pungkas Ida.

Meski demikian, perubahan iklim global tetap berdampak pada Indonesia dalam bentuk lain, seperti pergeseran musim dan cuaca ekstrem. Terus memantau informasi cuaca dari BMKG tetap menjadi langkah bijak bagi masyarakat.