Periskop.id - Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan bakal mengumumkan kesepakatan nuklir sipil dengan Arab Saudi pada Rabu (22/7) waktu setempat. Kesepakatan ini muncul bersamaan dengan memanasnya kembali pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran.

Kabar tersebut dilaporkan AFP, mengutip dua pejabat AS yang tak disebutkan namanya. Media The New York Times sebelumnya melaporkan pada Selasa (21/7) waktu setempat, bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump berencana menandatangani sekaligus mengumumkan kesepakatan itu secara resmi keesokan harinya.

Pemerintahan Trump menyebut kesepakatan tersebut bakal mengalirkan miliaran dolar AS bagi industri nuklir Amerika. Skema kerja sama ini disebut akan berlangsung selama 30 tahun.

Salah satu ketentuan dalam kesepakatan, menurut laporan Wall Street Journal, mewajibkan perusahaan-perusahaan asal Amerika membangun fasilitas pengayaan uranium di Arab Saudi. Ketentuan itu berlaku jika studi bersama menyimpulkan pembangunan fasilitas tersebut memang diperlukan.

Rencana ini menuai penolakan dari sejumlah anggota parlemen AS lintas partai, termasuk pejabat Israel. Mereka menilai proyek nuklir sipil itu berisiko dialihfungsikan untuk mengembangkan senjata nuklir di kemudian hari.

Kesepakatan tersebut rencananya bakal diajukan ke Kongres AS dalam beberapa hari mendatang. Langkah itu disebut hanya formalitas, sebab persetujuan Kongres sebenarnya tidak diperlukan agar kesepakatan sah berlaku.

Di sisi lain, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran turut berimbas ke kawasan Yaman. Houthi, sekutu Iran di Yaman, mengancam bakal memperluas perang dalam waktu dekat.

Kelompok tersebut bahkan telah mengumumkan rencana blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi. Ancaman ini muncul seiring meningkatnya eskalasi konflik antara Riyadh dan milisi yang disokong Teheran itu.

Arab Saudi dan Houthi sempat saling baku tembak pekan lalu, untuk kali pertama dalam beberapa tahun terakhir. Insiden ini mengancam keberlangsungan gencatan senjata yang telah terjalin sejak 2022.

Eskalasi tersebut membuat posisi Arab Saudi, sebagai raksasa minyak Teluk, kian rawan di tengah rencana penandatanganan kesepakatan nuklir dengan Amerika Serikat. Situasi ini menempatkan kesepakatan nuklir sipil tersebut dalam sorotan, baik dari sisi geopolitik kawasan maupun kekhawatiran proliferasi senjata nuklir.