iklan periskop
Investasi

Investasi RI Tembus Rp1.434 Triliun hingga September 2025, Didominasi Modal Dalam Negeri

Investasi Indonesia hingga September 2025 tumbuh kuat, seimbang antara modal domestik dan asing, didominasi sektor mineral, petrokimia, dan pertanian, ciptakan nilai tambah & lapan...

8 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Investasi RI Tembus Rp1.434 Triliun hingga September 2025, Didominasi Modal Dalam Negeri
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan Investasi di Indonesia hingga September 2025 menunjukkan tren yang kuat dan berimbang antara modal domestik dan asing.Dok foto/ANTARA/Muzdaffar Fauzan
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menilai investasi di Indonesia hingga September 2025 menunjukkan tren yang kuat. Ia menambahkan bahwa pembagian investasi juga berimbang antara modal domestik dan asing.

Secara rinci, Rosan melaporkan penanaman modal dalam negeri mencapai Rp789,7 triliun atau tumbuh 55,1%. Sementara itu, investasi asing menyumbang Rp644,6 triliun atau 44,9%.

Secara geografis, kontribusi investasi di Pulau Jawa sedikit lebih rendah dibandingkan luar Jawa, dengan Pulau Jawa menyumbang Rp692,5 triliun atau 48,3% dan luar Jawa Rp741,8 triliun (51,7%).

"Kalau kita lihat dari sisi geografis antara luar Jawa dan Jawa, luar Jawa ini kontribusinya sedikit di atas Pulau Jawa," ucap Rosan di kompleks Senayan, Selasa (2/12).

Dari sisi lokasi, lima provinsi utama yang menyerap hampir setengah total investasi masih didominasi Jawa Barat, diikuti Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Banten.

Sementara lima provinsi di luar Jawa yang masuk sepuluh besar adalah Sulawesi Tengah, Kalimantan Timur, Maluku Utara, Riau, dan Sumatera Selatan.

Sektor mineral, yang mencakup pertambangan dan pengolahan logam seperti nikel, bauksit, dan emas, menyumbang 67,6% dari total investasi 2025. Diikuti sektor perkebunan dan kehutanan sebesar 24% atau setara Rp103,3 triliun, minyak dan gas 7,6% atau senilai Rp32,6 triliun, serta perikanan dan kelautan 0,9% atau Rp3,9 triliun.

"Investasi di sektor mineral juga mendorong pengolahan menjadi produk bernilai tambah, seperti bauksit diolah menjadi alumina," tutur Rosan.

Selain itu, Rosan menyoroti proyek petrokimia terbesar di Asia Tenggara yang berlokasi di Banten senilai Rp14 triliun, yang diperkirakan bisa mengurangi kebutuhan impor bahan baku hingga 70%.

Sektor pertanian dan perkebunan juga mulai ramai. Contohnya proyek kelapa di Tulan Morowali senilai US$100 juta yang diprediksi menyerap 10 ribu tenaga kerja dan menghasilkan 500 juta butir kelapa per tahun saat pabrik rampung pada pertengahan 2026.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai investasi, Kementerian Investasi dan Hilirisasi / BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, penanaman modal, investasi domestik, investasi asing, dan Ekonomi Indonesia dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.