Periskop.id - Korps Brigade Mobil (Korbrimob) Polri mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), imbas kenaikan harga minyak dunia akibat konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran.
Komandan Korbrimob Polri Komjen Pol. Ramdani Hidayat mengatakan, pihaknya menindaklanjuti pemetaan potensi gangguan kamtibmas dari Badan Intelijen dan Keamanan (Baintelkam) Polri.
“Dari BIK (Badan Intelijen dan Keamanan) sudah dipetakan. Tinggal kami mengantisipasi,” katanya seusai acara Apel Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Korbrimob Polri di Mako Brimob Polri, Depok, Jawa Barat, Selasa (21/4).
Pemetaan itu, kata dia, dikoordinasikan hingga ke satuan wilayah (satwil) dan instansi terkait. Ia juga mengungkapkan, hingga saat ini belum ada laporan gangguan kamtibmas yang signifikan.
“Alhamdulillah, masih tertangani semuanya. Makanya saya bilang, unjuk rasa yang ada sekarang, masih bisa diatasi oleh kewilayahan. Yang jelas, kami harus siap saja semuanya,” ujarnya.
Lebih lanjut, jenderal polisi bintang tiga itu mengungkapkan pula, di dalam rakernis, pihaknya mendapatkan arahan dari Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo untuk mempersiapkan personel hingga sarana dan prasarana, dalam menghadapi potensi gangguan kamtibmas.
Menanggapi arahan tersebut, ia mengatakan, Brimob Polri akan melaksanakan evaluasi, modernisasi peralatan, hingga penguatan sistem pelatihan.
Situasi Geopolitik
Sekadar informasi, Selasa ini, Korbrimob Polri menggelar Apel Rakernis yang dihadiri kurang lebih sebanyak 7.000 personel. Apel tersebut dipimpin oleh Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo dan dihadiri sejumlah pejabat utama (PJU) Mabes Polri.
Dalam amanatnya pada Apel Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Korbrimob Polri, Depok, Selasa, Kapolri menjelaskan, situasi geopolitik dunia saat ini tengah meningkat dengan adanya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik itu, lanjutnya, bisa menjadi ancaman apabila tidak segera didamaikan.
Ia mencontohkan serangan pada kilang-kilang minyak di Arab Saudi serta serangan di Selat Hormuz berdampak pada situasi energi dunia. "Diperkirakan apabila Selat Hormuz terus mengalami gangguan maka harga minyak bisa terus menaik. Beberapa waktu yang lalu kita sudah tembus di atas US$100 per barel, dan kalau ini terus berlanjut ini bisa mencapai angka US$200 per barel," ucapnya.
Gangguan pada sumber energi tersebut, kata Kapolri, dapat mengganggu sendi-sendi dan stabilitas ekonomi di semua negara, termasuk Indonesia. Pada Indonesia, ia menyebut bahwa saat ini terjadi kenaikan harga BBM dan elpiji nonsubsidi.
Kenaikan itu, imbuhnya, akan berdampak pada naiknya harga-harga kebutuhan yang dapat menimbulkan potensi masalah keamanan dalam negeri. Oleh karena itu, pemimpin Korps Bhayangkara tersebut meminta personel Korbrimob Polri untuk waspada dan bersiap untuk menghadapi berbagai potensi gangguan kamtibmas.
"Tentunya evaluasi, simulasi, latihan, kekompakan antar seluruh anggota pada saat di lapangan tentunya menjadi kunci keberhasilan kita dalam melaksanakan misi ataupun tugas," tuturnya.
Kapolri meyakini, Korbrimob sebagai special force pada Polri, akan menjadi salah satu tim yang menjadi andalan pada saat situasi gangguan kamtibmas meningkat. Ia pun berpesan agar para personel mempelajari betul situasi dan eskalasi yang terjadi.
"Pelajari kondisi dan medan di lapangan. Persiapkan peralatan yang rekan-rekan miliki sehingga pada saat rekan-rekan turun, peralatan-peralatan yang ada, yang melekat pada diri rekan-rekan, siap untuk digunakan," ucapnya.
Ia juga berpesan kepada para personel untuk bertugas dengan rasa kemanusiaan agar masyarakat bisa merasakan kehadiran Brimob dalam bertugas.
Tinggalkan Komentar
Komentar