periskop.id - Kanker paru-paru masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat kanker di Indonesia. Secara nasional, penyakit ini menempati peringkat kedua kanker terbanyak, namun dikenal sebagai salah satu yang paling mematikan. Salah satu penyebab utamanya adalah kanker paru kerap terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut, sehingga peluang kesembuhan menjadi terbatas.

Konsultan Senior Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre, Dr. Tanujaa Rajasekaran, menjelaskan bahwa kanker paru bermula dari perubahan genetik pada sel normal yang kemudian tumbuh tanpa kendali. Sel-sel abnormal tersebut berkembang secara agresif dan dapat mengganggu fungsi paru-paru sebagai organ vital pernapasan.

“Sel kanker ini tumbuh terus-menerus tanpa mekanisme berhenti. Seiring pertumbuhannya, fungsi paru-paru akan terganggu dan yang paling berbahaya, sel kanker bisa menyebar ke organ lain seperti hati, tulang, hingga otak,” ujar Dr. Tanujaa dalam acara Demografi Kanker di Jakarta, Jumat (27/2).

Beban kanker paru di Indonesia tergolong tinggi. Pada kelompok laki-laki, kanker paru tercatat sebagai jenis kanker paling sering ditemukan. Sementara pada perempuan, kanker ini berada di peringkat kelima. Jika digabungkan antara laki-laki dan perempuan, kanker paru menempati posisi kedua secara nasional dengan tingkat kematian yang tinggi.

“Kanker paru adalah kanker nomor satu pada pria dan nomor lima pada wanita di Indonesia. Jika digabungkan, posisinya menjadi nomor dua dan angka fatalitasnya juga tinggi,” katanya.

Tingginya angka kematian tersebut tidak terlepas dari keterlambatan diagnosis. Dibandingkan kanker lain seperti kanker payudara, prostat, atau kolorektal yang lebih sering terdeteksi pada tahap awal, kanker paru justru banyak ditemukan saat penyakit sudah menyebar ke luar paru-paru atau bermetastasis.

“Sebagian besar pasien kanker paru datang ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut. Pada kondisi ini, kemungkinan untuk sembuh tentu jauh lebih kecil,” jelas Dr. Tanujaa.

Keterlambatan diagnosis ini dipicu oleh minimnya gejala pada fase awal. Pada stadium dini, penderita umumnya tidak merasakan keluhan yang signifikan. Gejala baru muncul ketika kanker berkembang dan mulai memengaruhi fungsi organ.

“Pada stadium awal, kanker paru biasanya tidak menimbulkan gejala. Ketika muncul batuk menetap, sesak napas, atau batuk berdarah, sering kali kanker sudah berada pada stadium lanjut,” ujarnya.

Gejala juga dapat bervariasi tergantung lokasi penyebaran kanker. Penyebaran ke tulang dapat menyebabkan nyeri hebat, sementara jika mencapai otak, pasien dapat mengalami sakit kepala.

Untuk menekan angka kematian, deteksi dini menjadi kunci, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi seperti perokok berat. Salah satu metode yang direkomendasikan adalah skrining menggunakan CT scan dosis rendah.

“Penelitian menunjukkan skrining CT scan dosis rendah pada perokok berat usia 55 hingga 74 tahun dapat menurunkan angka kematian akibat kanker paru hingga 20%,” kata Dr. Tanujaa.

Menurutnya, peningkatan kesadaran terhadap skrining dan deteksi dini menjadi langkah penting untuk memperbaiki angka keselamatan pasien kanker paru di masa mendatang.

“Semakin dini kanker paru ditemukan, semakin besar peluang pasien mendapatkan hasil pengobatan yang lebih baik,” pungkasnya.