Periskop.id - Suku Dinas Kesehatan (Sudinkes) Jakarta Timur (Jaktim) mengingatkan masyarakat akan risiko gangguan kesehatan jika bekat mengonsumsi ikan sapu-sapu dari perairan di Jakarta. Diare hingga penyakit kronis mengancam. 

"Yang paling cepat itu biasanya gangguan pencernaan seperti diare. Karena ikan tersebut bisa saja mengandung bakteri E-coli," kata Kepala Sudinkes Jakarta Timur Herwin Meifendy, Rabu (22/4). 

Menurut Herwin, ikan sapu-sapu berpotensi membawa bakteri berbahaya yang dapat memicu infeksi saluran pencernaan. Bakteri tersebut umumnya ditemukan di lingkungan yang tercemar limbah, termasuk kotoran manusia dan hewan, sehingga dampak tersebut merupakan efek akut atau yang paling cepat dirasakan setelah konsumsi ikan sapu-sapu.

Herwin menjelaskan, habitat ikan sapu-sapu yang berada di sungai atau kali dengan tingkat pencemaran tinggi, menjadi faktor utama tingginya risiko kontaminasi. Konsekoensinya, saat ikan tersebut dikonsumsi tanpa pengolahan yang tepat, bakteri yang ada dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan gangguan kesehatan.

Selain itu, gejala yang muncul tidak hanya diare, tetapi juga dapat disertai keluhan lain seperti mual, muntah, dan sakit perut. Dalam beberapa kasus, kondisi ini bisa semakin parah apabila tidak segera ditangani, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan.

Selain diare, Herwin juga menyebutkan kemungkinan munculnya gangguan kesehatan lain dalam jangka pendek, seperti gangguan pernapasan. Namun demikian, dia menekankan, diare menjadi salah satu indikasi paling umum dan cepat terjadi.

"Yang akut itu salah satunya diare, jadi masyarakat harus waspada," ucap Herwin.

Herwin mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih sumber pangan, terutama ikan yang berasal dari perairan yang tidak terjamin kebersihannya. Ia juga melanjutkan, ancaman penyakit kronis akibat konsumsi ikan sapu-sapu yang diduga mengandung logam berat berbahaya.

"Efek mengonsumsi ikan sapu-sapu tidak selalu langsung terlihat. Justru yang perlu diwaspadai adalah dampak jangka panjang yang bisa memicu penyakit kronis," kata Herwin.

Menurut dia, dampak konsumsi ikan tersebut tidak selalu dirasakan secara langsung, namun berpotensi muncul dalam jangka panjang. Kandungan logam berat seperti merkuri, timbal (Pb), arsen, dan kadmium dalam ikan sapu-sapu dapat terakumulasi di dalam tubuh manusia. 

Akumulasi ini berisiko memicu berbagai penyakit serius, terutama jika dikonsumsi secara terus-menerus. Ia menjelaskan, merkuri dapat menyerang sistem saraf, otak, hingga organ vital seperti ginjal dan paru-paru.

Sementara timbal diketahui berdampak pada saraf pusat yang dapat menyebabkan penurunan kecerdasan serta gangguan perilaku. Adapun arsen memiliki sifat karsinogenik yang berpotensi menyebabkan kanker, sedangkan kadmium dapat merusak ginjal serta sistem pernapasan. 

Paparan dalam jangka panjang dari zat-zat tersebut juga dikaitkan dengan munculnya penyakit degeneratif. "Jika terus terakumulasi, bukan tidak mungkin memicu gangguan serius seperti penurunan fungsi otak hingga penyakit kronis lainnya," jelas Herwin.

Meskipun, ada anggapan, pengolahan tertentu dapat mengurangi risiko, namun hingga saat ini belum ada metode yang benar-benar dapat menghilangkan kandungan logam berat secara aman. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi ikan sapu-sapu dan beralih ke jenis ikan lain yang lebih aman dan bergizi.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menggencarkan penangkapan ikan sapu-sapu di sejumlah perairan. Langkah ini tidak hanya untuk menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga sebagai upaya pencegahan risiko kesehatan bagi masyarakat.

Peningkatan Pengawasan
Anggota Komisi A DPRD Provinsi DKI Jakarta Hilda Kusuma Dewi sebelumnya mendorong peningkatan pengawasan terhadap potensi peredaran makanan olahan yang menggunakan bahan ikan sapu-sapu.

"Sapu-sapu ini memang perkembangbiakannya sangat cepat dan itu sangat membahayakan tentunya jika dijadikan makanan olahan," kata Hilda.

Menurut Hilda, pedagang jajanan seperti siomay yang kedapatan menggunakan bahan baku ikan sapu-sapu menjadi sorotan. Hal ini dinilai dapat menimbulkan masalah lantaran ikan tersebut biasanya didapat dari lingkungan sungai yang tercemar, sehingga daging ikan yang digunakan mengandung bakteri serta kontaminasi logam berat, seperti timbal.

"Jadi mari kita sama-sama jaga dengan cara secara berkesinambungan. Ini perlu pemantauan dan kepedulian kita semua supaya ini tetap bisa terjaga ekosistem sungainya tetap bersih, dan juga masyarakat aman supaya ini tidak dikonsumsi atau diambil secara gratis oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab," kata Hilda.

Ia pun meminta pihak Pemkot Jakarta Barat untuk merutinkan penangkapan ikan sapu-sapu di wilayah setempat. Sementara itu, Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah menyebut, sejauh ini pihaknya belum menerima laporan adanya praktik pembuatan siomay atau makanan olahan lain berbahan dasar ikan sapu-sapu.

"Saya tidak menemukan itu di Jakarta Barat, sejauh ini informasinya tidak ada di Jakarta Barat ya. Tapi nanti mungkin kalau hal itu memang ada, tentu kami akan lakukan secara ketentuan yang jelas, karena memang kan tidak boleh," kata Iin.

Meski demikian, Iin memastikan akan terus berkoordinasi dengan Unit Kerja Perangkat Daerah (UKPD) terkait guna memperketat pengawasan. Menurut Iin, larangan konsumsi ikan sapu-sapu akan ditegakkan secara tegas mengingat ikan tersebut memang bertahan hidup dengan menyerap racun di sungai.

"Kandungan makanan yang dimakan oleh ikan sapu-sapu ini adalah polutan dan ini adalah ikan jenis predator, jadi berbahaya memang," jelas Iin.