Periskop.id - Dominasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta kian mengkhawatirkan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) menargetkan populasi ikan invasif ini bisa ditekan drastis hingga hanya 20% dalam dua tahun ke depan.
Langkah ini diambil setelah populasi ikan sapu-sapu di sejumlah perairan umum Jakarta dilaporkan telah mencapai 60 hingga 80%. Kondisi ini mengancam keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan ikan lokal.
"Target keberhasilan yang ingin kami capai dalam dua tahun, populasi ikan sapu-sapu yang sekarang bisa mencapai 60 sampai 80% di perairan umum Jakarta dapat dikendalikan menjadi 20%," kata Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok dalam webinar bertema "Dari Sungai ke Literasi" yang membahas fenomena ikan sapu-sapu di perairan Jakarta, di Jakarta, Kamis (7/5).
Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) dikenal sebagai spesies invasif yang memiliki daya adaptasi tinggi dan berkembang biak cepat. Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020, ikan ini termasuk dalam 14 spesies invasif yang dilarang untuk dipelihara maupun dilepasliarkan di perairan Indonesia.
Keberadaannya terbukti merusak ekosistem. Selain mengancam populasi ikan endemik, ikan sapu-sapu juga merusak struktur tanggul karena kebiasaannya membuat lubang sebagai tempat bertelur. "Ikan sapu-sapu memang terbukti merusak turap tanggul sebagai tempat bertelur," ujar Hasudungan.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menunjukkan, spesies invasif menjadi salah satu penyebab utama menurunnya keanekaragaman hayati perairan di Indonesia, terutama di wilayah perkotaan dengan tekanan lingkungan tinggi.
Penangkapan Massal
Untuk mengendalikan populasinya, Pemprov DKI mengintensifkan penangkapan massal di berbagai titik perairan. Jakarta Timur menjadi salah satu wilayah dengan aktivitas penangkapan paling aktif.
Pada 17 April 2026, Dinas KPKP mencatat sebanyak 68.880 ekor ikan sapu-sapu berhasil ditangkap dalam operasi serentak di lima wilayah Jakarta. Total berat tangkapan mencapai 6.979,5 kilogram atau hampir 7 ton.
Jakarta Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan 63.600 ekor atau sekitar 5.300 kg dari kawasan Setu Babakan. Sementara Jakarta Timur menghasilkan 4.128 ekor dengan total 825,5 kg dari 10 titik kecamatan.
Selain itu, pemerintah juga telah menyusun standar operasional prosedur (SOP) terkait metode penangkapan dan pemusnahan ikan sapu-sapu agar lebih efektif dan terukur. Namun, metode pemusnahan tetap menjadi perhatian karena harus memperhatikan aspek kesejahteraan hewan.
"Kami sudah bersurat ke MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk meminta petunjuk terkait metode pemusnahan yang efektif, tetapi tetap tidak menyalahi kaidah animal welfare," tuturnya.
Jika populasi ikan sapu-sapu berhasil ditekan, pemerintah berencana melakukan restorasi ekosistem melalui program restocking atau penebaran kembali ikan lokal. Langkah ini dinilai penting untuk mengembalikan keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan keanekaragaman hayati di perairan Jakarta.
Upaya pengendalian ini juga sejalan dengan strategi pengelolaan lingkungan perkotaan berkelanjutan yang dicanangkan Pemprov DKI Jakarta, terutama dalam menjaga kualitas air dan ekosistem sungai.
Dengan kombinasi penangkapan massal, regulasi ketat, serta edukasi masyarakat, Pemprov optimistis dominasi ikan sapu-sapu bisa ditekan secara signifikan dalam dua tahun ke depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar