Periskop.id - Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Sorong mencatat jumlah kasus HIV/AIDS di wilayah tersebut terus meningkat hingga mencapai 4.431 kasus per April 2026. Dari jumlah itu, sebanyak 86 kasus baru ditemukan hanya dalam periode Januari hingga April 2026, dengan mayoritas penderita berasal dari kelompok usia produktif.
Sekretaris KPA Kota Sorong Jeny Isir mengatakan, tren penyebaran HIV di Kota Sorong masih menjadi perhatian serius karena banyak ditemukan pada kelompok usia muda hingga masyarakat yang sudah menikah. “Jadi total keseluruhan kasus HIV di Kota Sorong sampai April 2026 sebanyak 4.431 kasus,” ujarnya di Sorong, Rabu (13/5)
Data KPA menunjukkan, total kasus HIV hingga akhir 2025 tercatat sebanyak 4.345 kasus. Angka itu kemudian bertambah 86 kasus baru dalam empat bulan pertama tahun ini.
Berdasarkan jenis kelamin, perempuan menjadi kelompok dengan jumlah kasus tertinggi. Tercatat sebanyak 1.865 perempuan terinfeksi HIV, sementara laki-laki mencapai 1.381 kasus. "Selain itu, jumlah penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia tercatat sebanyak 486 orang," jelasnya.
KPA Kota Sorong juga menemukan tingginya kasus HIV pada kelompok usia produktif. Kasus tertinggi ditemukan pada rentang usia 20-29 tahun, kemudian usia 30-39 tahun dan 40-49 tahun.
Tak hanya itu, KPA mencatat sebanyak 314 kasus ditemukan pada kelompok usia 15-19 tahun. Bahkan, kasus HIV juga ditemukan pada anak usia 1-4 tahun yang diduga berkaitan dengan penularan dari ibu ke anak.
“Kasus HIV masih didominasi usia produktif sehingga perlu perhatian serius dari semua pihak,” tuturnya.
Dari sisi status perkawinan, mayoritas penderita HIV berasal dari kelompok yang sudah menikah dengan total 2.904 kasus. Sementara penderita yang belum menikah tercatat sebanyak 1.639 kasus dan kelompok cerai sebanyak 612 kasus.
Adapun berdasarkan tingkat pendidikan, kasus HIV paling banyak ditemukan pada lulusan SMA dengan 1.930 kasus. Kemudian disusul lulusan SMP sebanyak 952 kasus, SD 747 kasus, perguruan tinggi 487 kasus, dan tidak sekolah sebanyak 249 kasus.
KPA Kota Sorong juga memetakan kelompok berisiko dari temuan kasus baru sepanjang 2026. Dari total 86 kasus baru, sebanyak 49 kasus berasal dari populasi umum.
Selain itu, terdapat enam kasus pada laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), satu kasus pada waria, enam kasus pada wanita pekerja seks (WPS), 14 kasus pada pasien tuberkulosis (TBC), 12 kasus pada ibu hamil, dan empat kasus pada pasangan orang dengan HIV positif.
"Hingga saat ini sebanyak 831 orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) di Kota Sorong masih aktif menjalani pengobatan antiretroviral (ARV)," ujarnya.
Menurut Jeny, KPA terus mendorong edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini HIV, penggunaan layanan kesehatan, serta kepatuhan menjalani terapi ARV untuk menekan risiko penularan dan kematian akibat HIV/AIDS.
Dia mengatakan, KPA Kota Sorong juga terus mendorong peningkatan edukasi, deteksi dini, dan kepatuhan pengobatan guna menekan penyebaran HIV/AIDS di daerah itu.
Data Kementerian Kesehatan menunjukkan Papua dan Papua Barat termasuk wilayah dengan prevalensi HIV tinggi di Indonesia. Faktor mobilitas penduduk, rendahnya kesadaran tes HIV, hingga stigma sosial masih menjadi tantangan utama dalam penanganan kasus HIV/AIDS di kawasan timur Indonesia.
Sebelumnya dikabarkan, sejumlah daerah mulai memperkuat skrining HIV untuk mencegah penularan lebih luas. Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara misalnya menggandeng Balai Karantina untuk memperkuat skrining HIV bagi pendatang, sementara pemerintah pusat terus mendorong peningkatan tes HIV dan akses pengobatan ARV secara nasional.
Kementerian Kesehatan sendiri menargetkan eliminasi AIDS sebagai ancaman kesehatan masyarakat pada 2030 melalui strategi deteksi dini, pengobatan berkelanjutan, serta pengurangan stigma terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHIV).
Tinggalkan Komentar
Komentar