periskop.id - Kerokan saat nyeri dada terasa seperti solusi yang lumrah di masyarakat Indonesia, tapi praktik ini ternyata tidak direkomendasikan secara medis. Dokter jantung menjelaskan alasannya dan apa yang seharusnya dilakukan sebagai pertolongan pertama.

Nyeri dada bisa menjadi tanda kondisi serius seperti gangguan jantung. Memberikan penanganan yang keliru di menit-menit awal justru bisa memperburuk situasi, bukan meringankannya.

Advertisement

Kenapa Kerokan Tidak Boleh untuk Nyeri Dada?

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Febtusia Puspitasari menjelaskan bahwa proses kerokan secara fisik menyebabkan pembuluh darah di permukaan kulit pecah, yang terlihat dari warna kemerahan yang muncul setelahnya.

"Jangan, karena pada saat kita kerok sebenarnya pembuluh darah yang di permukaan kulit itu pecah, jadi merah itu adalah pembuluh darah," ujar dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) itu dalam temu media di Jakarta, Selasa.

Kerokan yang umumnya dikombinasikan dengan balsem memang menciptakan tekanan pada otot. Namun, rasa nyaman yang dirasakan setelahnya bukan berasal dari efek terapeutik kerokan itu sendiri, melainkan dari sensasi hangat balsem dan faktor sugesti.

Febtusia menerangkan bahwa balsem memang dapat melebarkan pembuluh darah, tetapi efeknya bersifat sementara. "Kalau balsam itu kan hangat. Pada saat tubuh itu udah hangat, maka pembuluh darah itu akan melebar efeknya, tapi secara instan dan tidak panjang efek itu. Sedangkan obat-obatan misalnya pengencer darah itu efeknya long term. Jadi kalau balsam dia hanya short expect aja," paparnya.

Efek sementara inilah yang berbahaya. Pelebaran pembuluh darah akibat balsem tidak menyentuh akar masalah, termasuk apabila terdapat sumbatan di pembuluh darah yang justru membutuhkan penanganan medis segera.

Pertolongan Pertama Nyeri Dada yang Tepat

Alih-alih kerokan, ada beberapa langkah yang lebih tepat dilakukan saat seseorang di sekitar Anda mengalami nyeri dada atau sesak napas.

1. Tenangkan penderita. Kepanikan dari orang-orang di sekitar justru dapat memperparah kondisi. Febtusia menyarankan untuk mengendurkan pakaian yang menekan, seperti dasi atau kerah yang ketat, agar penderita merasa lebih nyaman.

2. Berikan oksigen jika tersedia. Suplai oksigen tambahan dapat membantu memperbaiki kondisi dan mendukung pelebaran pembuluh darah secara lebih efektif.

3. Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk pemantauan lebih lanjut. Jangan menunda dengan mencoba pengobatan rumahan yang belum terbukti efektif.

Tanda Nyeri Dada yang Harus Segera Diperiksa

Tidak semua nyeri dada berasal dari jantung, tapi ada ciri-ciri tertentu yang perlu diwaspadai sebagai sinyal risiko kardiovaskular, termasuk kondisi yang dikenal sebagai angin duduk.

Secara medis, angin duduk disebut angina pektoris, yaitu kondisi di mana otot jantung tidak mendapat pasokan darah dan oksigen yang memadai. Nyeri dada adalah salah satu gejala utamanya.

Febtusia menjelaskan cara membedakan nyeri dada yang perlu diwaspadai. "Kalau nyeri dada yang dengan ada perubahan posisi itu biasanya bukan dari jantung. Tapi kalau misalnya dia enggak bisa pointing 'kok makin lama makin intensitasnya makin sering ya', disertai dengan keluhan yang lain (sesak napas, mual, keringat dingin), itu harus kita waspadai," ungkapnya.

Dengan kata lain, nyeri dada yang lokasinya tidak bisa ditunjuk dengan jelas, intensitasnya semakin sering, dan disertai gejala lain seperti mual atau keringat dingin adalah tanda yang memerlukan pemeriksaan medis segera.

Jangan Tunggu Sampai Memburuk

Kerokan mungkin terasa seperti pertolongan yang mudah dan tersedia, tapi efeknya yang hanya bersifat sementara tidak sebanding dengan risiko menunda penanganan medis yang tepat.

Jika Anda atau orang terdekat mengalami nyeri dada dengan ciri-ciri yang disebutkan di atas, prioritaskan ketenangan, oksigen jika ada, dan segera cari bantuan medis profesional.