periskop.id - Pelemahan nilai tukar rupiah pada perdagangan Jumat (29/8) sedikit banyak dipengaruhi oleh situasi domestik, termasuk aksi unjuk rasa yang berujung ricuh sehari sebelumnya. Hal ini disampaikan Ekonom Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto.

“Hari ini masih ada ruang pelemahan karena faktor global dan juga mungkin ada sedikit dampak negatif dari demo,” ujarnya dikutip dari Antara, Jumat (29/8).

Sebelumnya, media sosial diramaikan oleh video insiden kendaraan taktis barracuda Brimob yang melindas pengendara ojek online di kawasan Pejompongan, Jakarta. 

Setelah kejadian, kendaraan tersebut terus melaju dan meninggalkan lokasi, memicu kemarahan warga yang kemudian mengejar hingga ke Jalan Layang Non-Tol Kasablanka. Korban dilaporkan meninggal dunia saat dilarikan ke rumah sakit di Jakarta Pusat.

Aksi unjuk rasa yang awalnya berlangsung di depan Kompleks MPR/DPR/DPD RI pada Kamis siang berlanjut hingga sore dan memicu kericuhan. 

Bentrokan antara massa dan aparat terjadi di sejumlah titik sekitar Senayan, seperti Jalan Penjernihan, Jalan Penjompongan, Bendungan Hilir, KS Tubun Petamburan, dan Palmerah. Situasi ini menambah sentimen negatif di pasar.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga didorong faktor eksternal. Rully menjelaskan bahwa indeks dolar AS (DXY) sedang menguat dalam empat hari terakhir dan bertahan di level di atas 98. 

“DXY-nya (US Dollar Index) juga sedang mengalami penguatan dalam 4 hari terakhir di atas 98,” kata Rully, menandakan tekanan global yang turut memengaruhi kurs rupiah.

Pada pembukaan perdagangan Jumat, nilai tukar rupiah melemah tipis 1 poin atau 0,01% menjadi Rp16.354 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.353 per dolar AS. Pergerakan ini mencerminkan kombinasi faktor global dan domestik yang mempengaruhi sentimen pasar.

Tekanan terhadap rupiah kemungkinan masih akan berlanjut jika faktor eksternal, seperti penguatan dolar AS, bersamaan dengan ketidakpastian situasi dalam negeri, tidak mereda. Pasar menantikan perkembangan lanjutan baik dari kondisi global maupun stabilitas domestik untuk menentukan arah pergerakan kurs berikutnya.