periskop.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat perdagangan bursa karbon terus mencetak pertumbuhan positif di tengah kuatnya tekanan pasar keuangan global. Geliat instrumen investasi hijau ini justru muncul saat bursa saham domestik mengalami koreksi mendalam akibat aksi jual investor asing.

"Penambahan volume transaksi di bursa karbon pada Maret tercatat sebesar 43.117 ton of carbon dioxide equivalent atau TCO2e, dengan akumulasi nilai transaksi mencapai 93,71 miliar rupiah," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan secara daring di Jakarta, Senin (6/4).

Ekosistem perdagangan karbon di Indonesia menunjukkan perkembangan nyata seiring bertambahnya partisipasi pelaku usaha. Saat ini, otoritas mencatat sebanyak 153 pengguna jasa telah resmi terdaftar untuk bertransaksi.

Pertumbuhan kinerja positif juga terlihat pada aktivitas perdagangan pasar derivatif keuangan sepanjang bulan lalu. Sektor ini sukses mencatatkan volume transaksi hingga 34.480 lot dengan frekuensi perdagangan mencapai 308.260 kali.

Hasan memaparkan anomali tren positif bursa karbon ini terjadi justru saat pasar keuangan konvensional sedang lesu. Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah memicu eskalasi harga komoditas energi serta meningkatkan persepsi risiko global.

"Pasar saham domestik menunjukkan pergerakan yang dinamis pada Maret sebagaimana juga dialami oleh bursa global dan regional lainnya sebagai dampak terjadinya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah dan juga diikuti dengan lonjakan harga-harga komoditas energi di dunia,” jelasnya.

Tekanan sentimen negatif dari luar negeri memicu aksi pelepasan aset secara massal oleh pemodal di bursa saham lokal. Namun, instrumen berbasis pelestarian lingkungan ternyata bergerak ke arah yang sepenuhnya berbeda.

Daya tarik bursa karbon membuktikan instrumen investasi hijau memiliki ketahanan tersendiri dalam menghadapi guncangan eksternal. Pergerakannya dinilai tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dinamika arus modal di pasar konvensional.

Ia melanjutkan, tren penguatan ekosistem hijau ini tidak lepas dari dukungan penuh otoritas terkait. Penerapan regulasi yang semakin matang turut mendongkrak kepercayaan investor untuk melakukan diversifikasi aset.

Pengembangan bursa karbon sendiri merupakan bagian dari strategi jangka panjang pendalaman pasar keuangan nasional. Pemerintah terus mendorong hadirnya instrumen investasi alternatif di luar saham maupun obligasi konvensional.

Otoritas pengawas memastikan akan terus menjaga stabilitas seluruh sektor jasa keuangan dari berbagai risiko ketidakpastian dunia. 

"Terkait dampak dari dinamika global, OJK tentu terus memantau pergerakan pasar serta berkoordinasi dengan SRO dan seluruh pelaku usaha dalam upaya untuk mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan," pungkas Hasan.