periskop.id - Harga minyak dunia hari ini turun setelah aktivitas muat minyak kembali normal di pelabuhan ekspor Rusia, Novorossiysk, yang sempat dihentikan selama dua hari akibat serangan Ukraina di Laut Hitam. Brent turun 19 sen atau 0,3% menjadi US$64,20 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 18 sen atau 0,3% ke US$59,91 per barel.

Kedua acuan harga ini sebelumnya naik lebih dari 2% pada Jumat lalu, menutup pekan dengan keuntungan tipis, setelah ekspor di Novorossiysk dan terminal Konsorsium Pipa Kaspi berhenti sementara, yang setara dengan sekitar 2% pasokan minyak global.

Novorossiysk memulai kembali aktivitas muat minyak pada Minggu, menurut dua sumber industri dan data LSEG. Namun, serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia masih menjadi perhatian.

“Penurunan awal terjadi karena aktivitas muat minyak di Novorossiysk kembali normal, tapi efeknya cepat hilang,” kata Scott Shelton, spesialis energi di TP ICAP Group, dikutip dari Reuters, Sealsa (18/11).

Militer Ukraina melaporkan pada Sabtu bahwa mereka menarget kilang minyak Ryazan di Rusia. Kemudian, Kepala Staf Umum Ukraina menyebut pada Minggu bahwa kilang Novokuibyshevsk di wilayah Samara, Rusia, juga menjadi sasaran serangan.

“Investor sedang mencoba menilai bagaimana serangan Ukraina akan mempengaruhi ekspor minyak mentah Rusia dalam jangka panjang,” kata Toshitaka Tazawa, analis Fujitomi Securities.

Investor juga memperhatikan dampak sanksi Barat terhadap pasokan dan aliran perdagangan minyak Rusia. AS memberlakukan sanksi yang melarang transaksi dengan perusahaan minyak Rusia, Lukoil dan Rosneft, mulai 21 November, sebagai upaya mendorong Moskow untuk masuk ke meja perundingan perdamaian dengan Ukraina.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Minggu bahwa Partai Republik sedang menyiapkan undang-undang yang akan menjatuhkan sanksi bagi negara yang berbisnis dengan Rusia, dan Iran kemungkinan bisa ditambahkan dalam daftar tersebut.

Di sisi lain, OPEC+ bulan ini menyetujui kenaikan target produksi Desember sebesar 137.000 barel per hari, sama seperti untuk Oktober dan November, serta menyepakati jeda kenaikan produksi pada kuartal pertama 2026.

Laporan ING menyebut pasar minyak diperkirakan tetap mengalami surplus besar hingga 2026. Namun, mereka memperingatkan risiko pasokan meningkat akibat serangan drone Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia, dan menyoroti penahanan kapal tanker oleh Iran di Teluk Oman setelah melewati Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar 20 juta barel per hari aliran minyak global.

“Kondisi harga minyak akan tetap fluktuatif karena risiko geopolitik tinggi meski pasokan global diperkirakan meningkat,” kata Dennis Kissler, wakil presiden senior perdagangan di BOK Financial.

Data posisi terbaru menunjukkan spekulan menambah posisi net long di ICE Brent sebesar 12.636 lot selama pekan pelaporan terakhir, menjadi 164.867 lot hingga Selasa lalu. ING menyebut kenaikan ini terutama didorong oleh aksi tutup posisi short, karena pelaku pasar enggan mengambil posisi short di tengah risiko pasokan dan ketidakpastian sanksi. Sementara itu, analis UBS Giovanni Staunovo memperkirakan harga minyak tetap didukung.

“Kenaikan level minyak di kapal belum mendorong peningkatan stok di darat. Kami memperkirakan harga bisa turun ke bagian bawah kisaran perdagangan beberapa bulan ke depan, tapi kami lebih optimistis untuk paruh kedua 2026,” tulis Staunovo dalam catatannya.

Goldman Sachs menambahkan, harga minyak diperkirakan akan turun sepanjang 2026 karena lonjakan produksi yang akan mempertahankan surplus pasar sekitar 2 juta barel per hari.