Periskop.id - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan, telah mengajukan anggaran sekitar Rp25 miliar untuk melakukan revitalisasi tambak garam yang rusak akibat banjir di Aceh.

“Itu nanti masuk dalam program pemulihan,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Koswara saat ditemui di Jakarta, Selasa (27/1). 

Koswara menegaskan, KKP akan melakukan revitalisasi tambak garam yang terdampak, namun pelaksanaannya masih menunggu persetujuan pembiayaan dari DPR.

Ia menambahkan, program pemulihan tidak hanya menyasar tambak garam, tetapi juga sektor perikanan dan kelautan lain seperti tambak ikan. “Iya (revitalisasi) yang terdampak, yang sektornya KKP ya. Kami masih ajukan (anggaran),” tambahnya. 

KKP sebelumnya melaporkan tambak garam di delapan kabupaten di Aceh rusak setelah terendam banjir. Daerah tersebut meliputi Aceh Besar, Aceh Timur, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Utara, Pidie, Pidie Jaya, dan Bireuen.

Garam Rebus
Direktur Sumber Daya Kelautan Ditjen Pengelolaan Kelautan KKP Frista Yorhanita menyebut mayoritas tambak garam di wilayah itu terendam. “Selain itu, terdapat kerusakan pada tunnel atau rumah garam, dan sekitar 50% garam rebus juga mengalami kerusakan,” ujarnya.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP Miftahul Huda menambahkan, saat ini yang berkembang di Aceh adalah garam rebus, yakni garam yang diproduksi dengan merebus air tua hingga menghasilkan kristal garam.

Miftahul mengatakan sejak 2018, KKP telah memberikan dukungan berupa pembangunan tunnel di sejumlah lokasi tambak garam di Aceh yang kini ikut terdampak banjir. Ia menyebut kerusakan tidak hanya terjadi pada tambak, tetapi juga pada fasilitas pendukung produksi.

Saat ini Aceh memiliki 11 daerah sentra produksi garam, di antaranya Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Timur, Aceh Barat Daya, dan Aceh Selatan.

Di Kabupaten Pidie, misalnya, Dinas Kelautan dan Perikanan setempat mencatat pada 2025 luas tambak garam rakyat mencapai 37,18 hektare dengan melibatkan 413 petani. Produksi garam rakyat di Pidie pada 2024 mencapai 5.083 ton, sementara total produksi garam Aceh pada tahun yang sama sebesar 12.380 ton.