periskop.id - Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, pada malam Natal, Rabu (24/12), berubah menjadi panggung cahaya raksasa di tengah Jakarta. Bukan sekadar lampu hias, melainkan rangkaian ornamen Natal berukuran besar berdiri mencolok, menyala lembut di antara arus manusia yang terus mengalir.
Di sisi bundaran, tampak ornamen berbentuk lonceng Natal raksasa berwarna emas, dihiasi pola bintang dan cahaya putih yang berkilau. Tidak jauh dari sana, berdiri pohon Natal menjulang dengan rangka metal berlapis lampu LED hijau dan merah, dipuncaki bintang besar yang bersinar hangat.
Di beberapa sudut, ornamen berbentuk rusa, bola Natal, dan lengkungan cahaya membentuk lorong bercahaya. Ornamen-ornamen ini mengundang siapa pun untuk berhenti sejenak, melangkah masuk, dan merasakan suasana.
Lampu-lampu itu memantul di air kolam Bundaran HI, di wajah-wajah pengunjung, dan di lensa ponsel yang nyaris tak pernah turun. Jakarta, malam itu, tidak hanya terang, tetapi juga terasa lebih pelan, lebih ramah, dan lebih hangat.
Ornamen-ornamen itu bukan hanya dinikmati dari kejauhan. Orang-orang berjalan di sekitarnya, berpose, tertawa, dan menunggu giliran untuk berfoto. Bahkan, di tengah keramaian itu, seorang anak perempuan kecil mengenakan hijab berwarna krem tampak menarik tangan ibunya. Matanya berbinar saat berdiri tepat di depan salah satu ornamen Natal bercahaya.
“Bu, fotoin aku di sini!” katanya lantang. Meski lantang, suara anak kecil ini nyaris tenggelam oleh riuh kota.
Ibunya tersenyum, mengangkat ponsel, dan mengabadikan momen itu. Tidak ada rasa canggung. Tidak ada sekat. Seorang anak muslim berdiri di tengah ornamen Natal, dengan wajah penuh kegembiraan, sebuah potret kecil tentang Jakarta malam itu.
Keramaian semakin padat seiring malam berjalan. Ada keluarga, pasangan muda, rombongan teman, hingga warga yang datang sendiri hanya untuk berjalan dan menikmati suasana. Bundaran HI menjelma sebagai ruang bersama, tempat perayaan bertemu dengan rasa ingin tahu, dan perbedaan melebur tanpa perlu dijelaskan.
Di tengah suasana itu, Zakky, warga asal Bekasi, mengaku datang bukan untuk merayakan Natal secara personal, melainkan merasakan atmosfernya.
“Saya datang ke Bundaran HI ini sebenarnya untuk melihat nuansa malam Natal di jantung Kota Jakarta, dan sekaligus mempererat tali persaudaraan bagi teman-teman Nasrani yang merayakan Natal pada tahun ini,” ujar Zakky, kepada Periskop.id.
Menurut Zakky, kehadiran ornamen Natal, di ruang publik seperti ini, menjadi bentuk sederhana dari toleransi yang nyata.
“Yang memunculkan rasa toleransi itu adalah kita saling menghormati terhadap setiap umat beragama di Indonesia. Jadi secara tidak langsung ketika datang melihat nuansa malam Natal seperti ini, sama saja menunjukkan rasa toleransi antar umat beragama di Indonesia,” ungkap dia.
Zakky pun berharap semangat menjalin toleransi antara umat beragama terus terawat dengan baik, tak hanya di tahun ini dan momen Natal.
“Semoga rakyat Indonesia dapat terus menjaga kerukunan dan toleransi sesama umat beragama. Saya harap momentum malam Natal ini bisa memperkokoh tali persaudaraan antara rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” tutur Zakky.
Senada dengan Zakky, perempuan bernama Nova, warga Depok, menyebut Bundaran HI selalu menjadi magnet setiap akhir tahun, terutama ketika perayaan besar. Ia melihat keunikan dari Bundaran HI kali ini. Biasanya, Bundaran HI ramai ketika perayaan Tahun Baru, kali ini didatangi banyak orang karena momen Natal. Jarang terjadi di Jakarta.
“Bundaran HI itu ikonik banget. Rasanya belum lengkap akhir tahun kalau belum ke sini. Apa lagi sekarang momen Natal, jarang-jarang perayaannya sehangat ini. Lampunya ramai, suasananya hidup, dan jadi tempat kumpul warga dari mana-mana,” kata Nova, kepada Periskop.id.
Meski tidak merayakan Natal, Nova menilai ornamen dan suasana malam itu bisa dinikmati siapa saja.
“Hiasan ini bisa dianggap sebagai bagian dari perayaan akhir tahun. Bukan cuma soal Natal, melainkan soal kebersamaan. Semua orang bisa datang, foto-foto, dan nikmatin Jakarta yang lagi cantik-cantiknya,” ujar Nova.
Menurut Nova, suasana hangat seperti ini menjadi pengingat tentang perbedaan yang tidak selalu harus dibicarakan, tetapi cukup dijalani. Saling jaga antara setiap insan manusia, tanpa melihat ras, suku, dan agama, menjadi nilai utama. Justru perbedaan ini yang membuat Nova merasakan Bhineka Tunggal Ika semakin kuat dalam setiap orang.
“Walaupun beda-beda, kita tetap hidup di kota yang sama. Penting buat saling jaga dan saling menghormati. Semoga suasana damai kayak gini bisa terus kerasa, bukan cuma pas Natal atau akhir tahun aja,” jelas dia.
Komitmen untuk menjaga kebersamaan itu juga ditegaskan oleh Pemerintah Provinsi Jakarta. Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno menyatakan, ruang publik akan terus dijaga sebagai ruang inklusif bagi seluruh warga.
“Ini menjadi bukti bahwa keberagaman di Jakarta dapat berpadu dalam satu harmoni,” kata Rano saat menutup rangkaian Christmas Carol Colossal Tahun 2025, di Bundaran HI, Selasa (23/12).
Menurut Rano, Jakarta akan selalu menjadi kota yang terbuka dan memberi ruang bagi setiap warga untuk mengekspresikan kebersamaan, tanpa memandang latar belakang.
“Keluarga adalah dasar kehidupan. Tidak hanya keluarga di rumah, tetapi juga keluarga besar kita sebagai warga Jakarta yang hidup berdampingan dalam keberagaman,” lanjut Rano.
Di tengah suka cita Natal, Rano juga mengajak masyarakat untuk tidak melupakan saudara-saudara yang terdampak bencana di tiga provinsi Indonesia, Aceh Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Kita tidak boleh menutup mata terhadap duka saudara-saudara kita. Mari kita panjatkan doa agar mereka diberi kekuatan dan harapan untuk bangkit kembali,” tegas Rano.
Meskipun malam semakin larut, tetapi lampu-lampu di Bundaran HI tetap menyala. Di bawah cahaya itu, Jakarta memperlihatkan wajah lain dirinya. Jakarta menjadi sebuah kota yang riuh, berbeda-beda, tetapi memilih berdiri bersama, setidaknya pada satu malam di bulan Desember. Malam Natal, saat keberagaman menyatu dengan suka cita.
Tinggalkan Komentar
Komentar