Periskop.id - PT Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda) memprediksi kebutuhan beras di Jakarta akan mengalami kenaikan sebesar delapan persen pada momen Ramadhan 1457 Hijriah dibandingkan hari biasa.
"Kalau beras kenaikannya tidak terlalu banyak, kurang lebih sekitar delapan%, sedangkan telur ayam sekitar 7-17%. Jadi memang konsumsinya naik," kata Direktur Utama Food Station Tjipinang Jaya (Perseroda) Dodot Tri Widodo saat "Balkoters Talk" di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (11/2).
Untuk mengamankan pasokan, Dodot mengatakan, Food Station memperluas kerja sama lintas daerah dengan dua pola. Pertama, standby buyer atau membeli gabah dari daerah penghasil dan on farming atau membiayai petani untuk menanam padi.
"Dalam memenuhi stok beras itu kami bekerjasama dengan daerah-daerah, mulai dari Lampung, kemudian di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, bahkan terakhir kami di Bali," ujar Dodot.
Berdasarkan data yang dia punya, stok beras yang dimiliki Food Station saat ini mencapai 80.000 ton, dengan prognosa kebutuhan rumah tangga periode Februari-Maret sebesar 151.023 ton.
Kemudian stok beras untuk Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) mencapai 18.000 ton dengan kebutuhan beras di Jakarta normalnya di kisaran 2.500 ton per hari. Sehingga dalam sebulan kebutuhannya 70.000-75.000 ton.
"Ini angkanya cukup karena kami juga mengelola PIBC (Pasar Induk Beras Cipinang) yang rata-rata stok per hari itu 40.000 ton, dibagi dengan 2.500 maka untuk 20 hari ke depan itu aman," tuturnya.
Dia menyampaikan, permintaan gula pasir saat Ramadan dan Idulfitri juga cenderung naik untuk membuat makanan berat atau kue. Saat ini stok gula pasir yang tersedia mencapai 192 ton dan perseroan berencana melakukan pengadaan 1.447 ton dengan melibatkan PT PN dan ID Food.
Begitu juga dengan minyak goreng dengan stok saat ini sebanyak 36.234 liter, Food Station akan melakukan pengadaan sebesar 643.530 liter untuk kebutuhan HBKN. Sedangkan stok telur ayam 4,1 ton akan ditambah 1.002 ton, dan stok tepung terigu 25 ton, bakal ditambah sebesar 63,2 ton.
Di sektor distribusi, Food Station memaksimalkan jaringan perdagangan modern trade di 39.000 lokasi dan konvensional dengan 1.000 pelanggan. Untuk menjaga keterjangkauan harga, Dodot menyebut pihaknya menggencarkan operasi pasar murah bersubsidi.
"Pasar murah itu kami jalan setiap hari 10 titik di kelurahan-kelurahan, di rusun, untuk melayani kebutuhan masyarakat, terutama menengah ke bawah untuk menjangkau harga pangan yang murah," ucap Dodot.
Ketersedian Pangan
Sementara itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan tetap memantau ketersediaan pangan jelang Imlek, Ramadan hingga Idulfitri 1447 Hijriah meski stok dipastikan aman.
“Kami bersama dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DKI Jakarta melakukan sejumlah kegiatan, seperti monitoring rutin ketersediaan dan harga pangan,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) Jakarta Uus Kuswanto di Jakarta, Rabu.
Salah satu kebutuhan yang akan terus dimonitor ketersediaan dan harganya adalah elpiji (LPG) 3 kilogram. Uus memastikan, pihaknya akan memantau secara langsung untuk hal ini. LPG 3 kilogram sendiri merupakan kebutuhan yang banyak digunakan untuk masyarakat menengah ke bawah serta sering dipergunakan oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Untuk itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melakukan pemantauan rutin bersama TPID guna mengetahui perkembangan harga, ketersediaan dan informasi mengenai pangan.
Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga memberikan subsidi pangan untuk masyarakat yang membutuhkan. Juga melakukan kampanye bijak belanja dan tidak melakukan panic buying hingga melakukan urban farming.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pun menginformasikan terkait pangan di ibu kota melalui aplikasi JAKI yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat, hingga melakukan kerja sama antar daerah serta B2B (Business to Business) oleh BUMD Pangan.
Tinggalkan Komentar
Komentar