periskop.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyerahkan sepenuhnya proses tinjauan berkala (index review) Morgan Stanley Capital International (MSCI) periode Maret 2026 kepada kewenangan independen penyedia indeks global tersebut. Pejabat Sementara (Pjs) Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi menjelaskan otoritas menghormati keputusan penyesuaian bobot maupun komposisi saham Indonesia dalam indeks tersebut.

“Tentu kami menyerahkan sepenuhnya karena ini merupakan independensi mereka,” ujar Hasan saat ditemui di Gedung BEI, Rabu (11/2).

Hasan menilai para pelaku pasar saat ini sudah mengantisipasi perubahan yang terjadi pada konstituen indeks. Penyesuaian periode kali ini disebut lebih dominan pada perubahan bobot saham, meskipun tetap terdapat emiten yang masuk dan keluar dari daftar.

Menurut pantauan otoritas, reaksi pasar terhadap pengumuman hasil tinjauan tersebut tergolong cukup positif. Hal ini mencerminkan investor telah memahami dinamika rutin yang dilakukan lembaga indeks internasional.

“Sebagian masuk, sebagian bobotnya meningkat, sebagian keluar. Namun jika dilihat dari sisi market, responsnya cukup baik,” sambungnya.

Hasan menekankan pergerakan pasar saat ini menunjukkan kesiapan dalam menghadapi proses penyeimbangan ulang portofolio global. Antisipasi ini sangat penting agar tidak terjadi gejolak berlebih di bursa domestik.

“Artinya market sudah mengantisipasi apa yang kira-kira akan terjadi melalui rebalancing yang dilakukan oleh MSCI,” tambahnya.

Berdasarkan rilis terbaru, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) tercatat keluar dari MSCI Global Standard Indexes. Meski demikian, emiten konsumer tersebut tidak sepenuhnya didepak karena dipindahkan ke kategori MSCI Small Cap Indexes.

Di sisi lain, terdapat dua saham yang harus keluar dari daftar MSCI Small Cap Indexes. Kedua emiten tersebut adalah PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO).

MSCI sendiri telah menerapkan kebijakan pembekuan sementara (interim freeze) atas sejumlah penyesuaian indeks untuk sekuritas asal Indonesia sejak Januari lalu. Langkah ini mencakup penghentian kenaikan faktor inklusi asing hingga peniadaan penambahan saham baru.

Kebijakan tersebut diambil guna memitigasi risiko investasi serta menekan tingkat perputaran indeks. Selain itu, langkah ini memberikan ruang bagi otoritas pasar modal Indonesia guna meningkatkan transparansi secara signifikan.

Lembaga indeks global tersebut memberikan sinyal tegas akan mengevaluasi kembali status pasar Indonesia pada Mei mendatang. Jika tidak terlihat kemajuan memadai dalam aspek aksesibilitas pasar, terdapat potensi penurunan bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Index.

Skenario lebih jauh bahkan memungkinkan klasifikasi Indonesia turun dari Emerging Market menjadi Frontier Market. OJK terus berkomitmen mendorong transparansi emiten agar kredibilitas pasar modal domestik tetap terjaga di mata investor global.