Periskop.id - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membangun dua jalan layang (flyover) baru, yakni di Jalan Latumenten, Jakarta Barat dan Bintaro Puspita hingga tahun 2030. Kedua flyover ini diharapkan dapat meningkatkan keselamatan dan kelancaran lalu lintas di perlintasan kereta api.

Staf Khusus Gubernur Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota Nirwono Joga mengatakan, dua jalan layang ini dipilih dari tujuh lokasi yang sudah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

"Ternyata berdasarkan pemotongan anggaran, sampai tahun 2030 terpaksa hanya ada dua yang dipilih oleh Pemprov Daerah Jakarta untuk dibangun," ujarnya, di Jakarta, Rabu (15/4), seperti dilansir Antara.

Sementara lima lokasi lainnya merujuk data Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta yakni di Tanjung Priok, Semanan, Lenteng Agung-Srengseng Sawah, Pejompongan, dan Panjang.

"Bukan berarti kemudian Tanjung Priok, Semanan, atau Lenteng Agung tidak penting," kata Nirwono.

Adapun pembangunan jalan layang ini merupakan bagian dari upaya dan komitmen Pemerintah daerah (Pemda) dalam tata kelola perlintasan. Terutama untuk memindahkan semua perlintasan sebidang atau liar kereta api, karena dinilai merupakan salah satu lokasi rawan kecelakaan.

Komitmen ini diwujudkan dengan memasukkan rencana pemindahan perlintasan sebidang ke dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW), RPJMD dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

"Komitmen itu harus dibuat oleh kepala daerah. Bagaimana mendorong setiap daerah, terutama yang memiliki perlintasan rawan kecelakaan, memasukkan menjadi program prioritas daerahnya tadi di dalam RTRW-nya," kata Nirwono.

Adapun jalan layang Latumenten di Jalan Latumenten yang akan melintasi rel kereta api. Pembangunan dilakukan di sisi timur dan barat jalan, dengan panjang sisi barat 440,86 meter dan lebar (Right of Way/ROW) 11 meter, serta panjang sisi timur 439,23 meter dengan ROW 10 meter.

Sementara flyover Bintaro Puspita direncanakan memiliki panjang 441 meter dengan ROW 9 meter dan dibangun untuk mengatasi kemacetan di perlintasan kereta api di kawasan Bintaro. Pembangunan kedua flyover tersebut dilakukan menggunakan anggaran tahun jamak (multiyears).

Sementara itu, PT KAI Daop 1 Jakarta menegaskan, perlintasan liar kereta api berisiko tinggi terjadi kecelakaan. Merujuk data, sebanyak 40 titik perlintasan kereta api sebidang liar telah ditutup sejak tahun 2023 hingga awal 2025 karena membahayakan keselamatan pejalan kaki maupun perjalanan kereta api.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 15 titik perlintasan liar ditutup pada tahun 2023, 24 titik pada 2024, dan baru satu titik pada 2025.