periskop.id - Pukul 20.51 WIB, Senin (27/4) malam, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel tante dari Arinjani Novitasari (25). Arinjani, seorang auditor di Ernst & Young yang setiap harinya menempuh rute Sudirman–Bekasi menggunakan KRL, mengeluh lapar dan menanyakan lauk di rumah.

Candaan sempat terjalin ketika Arinjani membalas tawaran pempek dengan kelakar takut kolesterol pada pukul 20.52 WIB. Namun, itu menjadi kalimat terakhirnya.

Tak lama setelah pesan itu terputus, kabar kecelakaan di Bekasi Timur menyeruak. Sang ibu, Yani, mengenang betapa gemetar keluarganya saat menyadari putrinya belum tiba di rumah sementara nomor ponselnya hanya berdering tanpa jawaban.

Di tengah duka, Yani mengungkap satu keyakinan yang sempat membuatnya berpikir Arinjani aman. Putrinya itu dikenal paling menghindari gerbong khusus wanita.

“Tidak ada firasat, karena saya yakin anak saya itu jarang naik di gerbong wanita. Biasanya tidak mau dia, ‘Ah tidak mau mah di gerbong wanita itu penuh, maksudnya bar-bar malahan gitu, maunya di gerbong campuran’. Saya yakin begitu karena anak saya tidak pernah di gerbong wanita,” kata Yani, usai pemakaman di Tambun Selatan, Rabu (29/4).

Keluarga sempat memutar otak mencari Arinjani ke seluruh rumah sakit di Bekasi hingga pagi buta. Harapan sempat membubung saat nama Arinjani tidak ada di daftar korban luka.

Namun, pihak petugas akhirnya mengarahkan mereka ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati. Kepastian baru didapat pada Selasa sore pukul 16.00 WIB melalui tes DNA.

“Tapi kan saat ke sana (RS Polri) itu mengisi formulir, mengisi ciri-cirinya apa, pakai baju apa, kami kasih ciri-cirinya semua tapi tetap harus tes DNA untuk memastikan. Kami tidak tahu kalau di Rumah Sakit Polri itu sudah korban yang meninggal semua. Kami benar-benar berpikir positif, mungkin rumah sakit sini penuh jadi dibawa ke sana,” ungkapnya.

Arinjani dikenal sebagai sosok ceria, ramai, dan dermawan. Yani mengisahkan betapa putrinya sering kali tidak tega melihat orang kesusahan dan kerap menyisihkan rezekinya untuk memberi makan orang lain.

Di balik keceriaannya, Arinjani ternyata memendam sebuah niat suci.

“Itu terakhir ingin umroh di bulan Agustus ini sebetulnya. Dia sudah nazar tahun ini mau umroh, mau jalan dulu sendiri,” kenang Yani.

Keinginan itu sangat kuat hingga ia menolak ajakan kakaknya untuk berangkat tahun depan. Sebelum memenuhi nazar tersebut, Arinjani sudah mempersiapkan diri untuk menikmati hobi masa mudanya, yaitu menonton konser grup K-pop EXO pada bulan Juni.

“Dia sudah beli tiket EXO, sudah beli lightstick segala. Papanya marah, ‘Kamu kok malah nonton begitu sih Mbak?’. Dia bilang, ‘Ya tidak apa-apa, nanti habis ini baru umroh’,” tambah Yani.

Ironisnya, Yani tidak sempat bertemu putrinya di hari Senin karena harus berangkat kerja pukul 06.00 WIB. Sang ibu hanya bertemu Arinjani di Minggu (26/4).

Namun, sikap berbeda dari Arinjani terlihat sejak Minggu. Arinjani yang biasanya menikmati hari libur dengan beristirahat, saat itu memilih untuk makan bersama keluarga.

“Anak itu kalau kerja kan capek, kadang-kadang suka diajak keluar malas. Itu dia malah mengajak, ‘Ayo makan keluar yuk’. Ya sudah kami makan, ngobrol-ngobrol biasa saja,” ucapnya.

Tak hanya itu, para tetangga juga menangkap gelagat berbeda. Arinjani yang biasanya menyapa dengan teriakan ceria “Ibu! Ibu!”, Senin pagi itu hanya tertunduk dan melempar senyum tipis.

“Tetangga cerita, ‘Biasanya manggil teriak-teriak ceria, ini kemarin ketemu kok mukanya sedih’,” kata Yani.

Kini, keceriaan itu telah senyap. Auditor muda yang dikenal baik hati ini tak akan pernah membuka tiket umrohnya di bulan Agustus nanti. Pilihan untuk tetap berada di gerbong campuran demi menghindari keramaian “bar-bar” ternyata membawanya pada titik pemberhentian terakhir yang tak pernah diduga siapa pun.