Periskop.id – Penyelidikan kecelakaan maut antara kereta rel listrik (KRL) dan kendaraan di Stasiun Bekasi Timur terus bergulir. Polda Metro Jaya telah memeriksa puluhan saksi untuk mengungkap penyebab pasti insiden yang menewaskan 16 orang tersebut.
"Sampai dengan saat ini, penyidik telah meminta keterangan dari 36 orang saksi," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Dari total saksi yang diperiksa, polisi menggali keterangan dari berbagai pihak. Mulai dari korban, warga sekitar lokasi kejadian, hingga pihak operasional perkeretaapian dan instansi terkait. Termasuk juga pengemudi dan staf operasional taksi Green SM yang terlibat dalam peristiwa tersebut.
Pemeriksaan lanjutan dijadwalkan dilakukan terhadap pengemudi taksi Richard Rudolf Passelima, bersama tim Pusat Laboratorium Forensik. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kondisi kendaraan serta kemungkinan faktor teknis yang menjadi pemicu kecelakaan.
Barang Bukti dan Sketsa Kejadian
Selain itu, penyidik juga melakukan sejumlah langkah lanjutan, seperti berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Dinas Perhubungan Kota Bekasi, hingga mengajukan penyitaan barang bukti dan pembuatan sketsa lokasi kejadian.
"Berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kota Bekasi, mengajukan permohonan penyitaan barang bukti, mengajukan permohonan pembuatan gambar sketsa tempat kejadian perkara, menghadirkan saksi ahli dari Pusat Laboratorium Forensik dan menindaklanjuti hasil visum korban dari rumah sakit," tuturnya.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal, kecelakaan diduga terjadi akibat kendaraan taksi yang mogok di tengah perlintasan sebidang karena gangguan sistem kelistrikan. Dalam kondisi tersebut, mobil tidak sempat dipindahkan sebelum akhirnya tertabrak KRL yang melintas.
Perlintasan sebidang sendiri masih menjadi titik rawan kecelakaan di Indonesia. Data Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan menunjukkan hingga 2026 terdapat ribuan perlintasan sebidang di Pulau Jawa dan Sumatra, dengan sebagian di antaranya belum dilengkapi sistem pengamanan memadai.
PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebelumnya juga mencatat ratusan kecelakaan terjadi setiap tahun di perlintasan, mayoritas disebabkan oleh kelalaian pengguna jalan dan kondisi kendaraan.
Tragedi di Bekasi Timur kembali menegaskan pentingnya peningkatan keselamatan di perlintasan sebidang, baik dari sisi infrastruktur, pengawasan, maupun kesadaran pengguna jalan. Polisi memastikan proses penyelidikan akan terus dilakukan secara menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti serta menentukan pihak yang bertanggung jawab.
Tinggalkan Komentar
Komentar