Periskop.id - Indonesia Tourism Information Centre (TIC) bersama Yayasan Kota Tua Jakarta menggelar kegiatan berkumpul dan bermain atau “Berkain” di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, sebagai upaya melestarikan budaya tradisional di tengah masyarakat. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari perayaan HUT ke-499 DKI Jakarta.

Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Denny Aputra mengatakan Berkain digelar untuk menampilkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus mempertemukan komunitas pencinta kain tradisional dan kebaya.

Advertisement

"Tujuan kegiatan adalah ingin menampilkan budaya Indonesia, memperingati HUT ke-499 DKI Jakarta dan mengumpulkan komunitas berkain atau berkebaya," kata Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Denny Aputra saat ditemui di Kota Tua Jakarta, Minggu (14/6). 

Denny menjelaskan, kegiatan Berkain terbuka untuk masyarakat umum dan tidak dipungut biaya. Pengunjung dapat mengikuti berbagai rangkaian acara, mulai dari kunjungan museum, forum diskusi, karnaval, lokakarya, permainan anak-anak, hingga permainan angklung.

"Kami konsisten melaksanakan kegiatan Berkain setiap tahunnya dan ini yang kelima," ucap dia.

Kegiatan tersebut tidak hanya mengajak masyarakat mengenakan kain tradisional, tetapi juga memperkenalkan kembali cara merayakan budaya dalam format yang lebih santai dan partisipatif. Dengan konsep berkumpul dan bermain, budaya tidak dihadirkan sebagai sesuatu yang kaku, melainkan sebagai pengalaman yang bisa dinikmati lintas usia.

Berkain juga menjadi bagian dari strategi Kota Tua untuk memperkuat posisinya sebagai kawasan wisata sejarah dan budaya. Di tengah perayaan HUT Jakarta, kawasan ini tidak hanya menjadi tempat berfoto, tetapi juga ruang untuk mengenalkan identitas budaya, termasuk kain Nusantara, kebaya, angklung, permainan tradisional, dan budaya Betawi.

Denny berharap kegiatan ini dapat menarik sebanyak mungkin pengunjung. Ia juga ingin masyarakat tidak hanya datang sebagai penonton, tetapi ikut berperan aktif dan berkolaborasi dalam acara.

Kota Tua selama ini menjadi salah satu destinasi wisata yang ramai dikunjungi warga Jakarta, wisatawan domestik, hingga turis mancanegara. Menurut Denny, rata-rata kunjungan di kawasan Kota Tua mencapai 7.000 hingga 11.000 orang per hari pada hari kerja. Pada hari libur, jumlahnya dapat melonjak hingga lebih dari 50.000 pengunjung per hari.

Tingginya kunjungan itu membuat Kota Tua menjadi ruang strategis untuk mengenalkan budaya kepada publik. Karena itu, kegiatan budaya seperti Berkain dinilai dapat menjangkau masyarakat secara langsung, terutama anak muda yang banyak datang untuk berwisata, berburu foto, dan membuat konten media sosial.

Denny menyebut Berkain diinisiasi Indonesia TIC dan menjadi kegiatan tahunan Kota Tua Jakarta. Salah satu tujuannya adalah merayakan ulang tahun Jakarta dengan melestarikan serta mengembangkan kain Nusantara yang dipakai para peserta selama kegiatan.

Ia berharap Berkain menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi warga Jakarta dan sekitarnya, termasuk pengunjung dari luar kota maupun luar negeri. Dalam pandangannya, kegiatan seperti ini juga sejalan dengan tujuan Jakarta menjadi kota global.

Berkain, menurut Denny, sudah melangkah pada tujuan kota Jakarta menjadi Jakarta Kota Global.

Upaya pelestarian budaya di Kota Tua juga menyasar generasi muda. Pengelola Kota Tua menyadari anak muda memiliki cara sendiri dalam menikmati ruang publik, termasuk memilih tempat yang gratis, mudah diakses, menarik secara visual, dan punya potensi menjadi konten viral.

"Anak muda itu suka yang pertama gratis, spot fotonya bagus, mudah sampai aksesnya, dan konten viral," kata Denny.

Budaya Dikemas Lewat Pengalaman
Menurut Denny, mengenalkan budaya kepada anak muda tidak cukup hanya dengan ceramah sejarah. Budaya perlu dikemas lewat pengalaman yang dekat dengan gaya hidup mereka, termasuk melalui media sosial, spot foto, kegiatan komunitas, kuliner, museum, dan acara kreatif.

Denny mengatakan ada banyak cara mengenalkan sejarah serta asal-usul Betawi agar identitas budaya Jakarta tetap bertahan. Budaya Betawi, menurut dia, merupakan bagian penting dari perjalanan Kota Jakarta dan perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.

"Anak-anak zaman sekarang saya lihat adalah orang yang mencampurkan gaya baik dari pengaruh media sosial, budaya luar negeri, dan hanya sering mengenal saja. Nah, inilah peran kita mengajak mereka," ucap dia.

Karena itu, pengelola Kota Tua menawarkan berbagai tempat yang dianggap menarik bagi anak muda, mulai dari rumah hantu, kafe jamu aracaki, hingga es krim Tianlala. Tempat-tempat tersebut diharapkan menjadi pintu masuk agar anak muda datang lebih dulu, lalu mengenal sejarah dan budaya yang ada di sekitarnya.

Kawasan Kota Tua juga rutin menggelar kegiatan budaya dan komunitas. Selain Berkain, berbagai kegiatan tematik dihadirkan untuk membuat ruang sejarah ini tetap hidup dan relevan bagi publik masa kini.

Melalui pendekatan tersebut, pengelola berharap anak muda tidak hanya datang untuk berwisata atau berburu foto. Mereka juga diharapkan memahami sejarah Jakarta, mengenal budaya Betawi, dan melihat kain tradisional sebagai bagian dari identitas yang masih bisa dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

Strategi ini penting karena pelestarian budaya tidak bisa hanya bergantung pada seremoni tahunan. Budaya perlu hadir dalam ruang yang sering didatangi warga, terutama ruang publik seperti Kota Tua. Ketika kain, kebaya, permainan tradisional, angklung, museum, dan karnaval hadir dalam satu kawasan wisata, masyarakat dapat mengenal budaya lewat pengalaman langsung.

Momentum HUT ke-499 Jakarta juga memberi konteks yang lebih luas. Jakarta sedang bergerak menuju usia lima abad pada 2027. Dalam perjalanan itu, identitas budaya menjadi salah satu fondasi agar Jakarta tidak hanya dikenal sebagai kota modern, tetapi juga kota yang memiliki akar sejarah dan tradisi kuat.

Kota Tua memiliki posisi penting dalam narasi tersebut. Kawasan ini menyimpan jejak sejarah panjang Jakarta, dari masa Batavia hingga menjadi ruang wisata heritage yang ramai dikunjungi publik. Dengan kegiatan seperti Berkain, kawasan bersejarah itu tidak hanya menjadi latar foto, tetapi juga panggung pelestarian budaya.

Kegiatan mengenakan kain tradisional dan kebaya juga memiliki relevansi lebih luas setelah kebaya diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan pada 2024 melalui nominasi bersama beberapa negara Asia Tenggara. Pengakuan ini menjadi pengingat bahwa busana tradisional tidak hanya bernilai estetika, tetapi juga menyimpan pengetahuan, keterampilan, tradisi, dan identitas komunitas.

Karena itu, kegiatan Berkain dapat dibaca sebagai upaya sederhana tetapi bermakna untuk menjaga budaya tetap hidup. Masyarakat diajak tidak hanya melihat kain sebagai pakaian acara resmi, tetapi sebagai bagian dari gaya hidup, ekspresi identitas, dan kebanggaan budaya.

Bagi Jakarta, keberhasilan kegiatan seperti ini akan terlihat dari kemampuan menarik partisipasi publik, terutama generasi muda. Jika anak muda merasa budaya bisa menyenangkan, mudah diakses, dan relevan dengan kehidupan mereka, peluang pelestarian akan lebih besar.

Dengan format gratis, terbuka, dan ramah konten, Berkain menjadi salah satu cara Kota Tua menjembatani tradisi dan gaya hidup modern. Budaya tidak ditempatkan jauh dari keseharian, melainkan dibawa ke ruang publik yang ramai, mudah dijangkau, dan dekat dengan masyarakat.

Pada akhirnya, Berkain tidak hanya menjadi agenda perayaan HUT Jakarta. Kegiatan ini menjadi pesan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang inklusif, kreatif, dan menyenangkan. Di tengah arus budaya populer dan media sosial, Kota Tua mencoba membuktikan bahwa kain Nusantara, kebaya, budaya Betawi, dan permainan tradisional tetap punya tempat di hati warga kota.