Periskop.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkuat kolaborasi dengan Netflix untuk mewujudkan Jakarta sebagai kota sinema. Kerja sama ini diarahkan bukan hanya untuk menarik produksi film dan serial internasional, tetapi juga membangun ekosistem industri kreatif yang memberi dampak ekonomi bagi warga Jakarta.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengatakan, visi Jakarta sebagai kota sinema harus dilihat sebagai strategi ekonomi kreatif jangka panjang. Menurut dia, industri film dapat menggerakkan banyak sektor lain, mulai dari pariwisata, kuliner, fesyen, musik, transportasi, hingga jasa pendukung produksi.
"Ini bukan sekadar ambisi, melainkan visi besar agar industri film dan sektor ekonomi kreatif lainnya dapat memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi Jakarta," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno dikutip Kamis (18/6).
Pernyataan itu disampaikan Rano setelah bertemu dengan jajaran Netflix di sela rangkaian Asia Pacific Video Operators Summit atau APOS 2026 di Nusa Dua, Bali. Dalam forum tersebut, Jakarta menjadi salah satu kota yang membangun komunikasi langsung dengan para pelaku industri hiburan dan teknologi global.
Rano menegaskan, Pemprov DKI siap mendukung kerja sama jangka panjang dengan Netflix. Dukungan itu tidak hanya berkaitan dengan produksi film dan serial, tetapi juga pengembangan industri perfilman, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta penguatan ekosistem kreatif di Jakarta.
Menurut Rano, kerja sama dengan Netflix tidak boleh dipahami semata sebagai urusan investasi atau bisnis platform streaming. Kolaborasi ini dinilai dapat membuka peluang pengembangan talenta lokal, penciptaan lapangan kerja, penguatan sektor pariwisata, dan program yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Tiga Judul Film dan serial Netflix Akan Diproduksi di Jakarta
Ke depan, sedikitnya tiga judul film dan serial Netflix direncanakan akan diproduksi di Jakarta. Selain itu, Pemprov DKI dan Netflix juga tengah menyiapkan program pengembangan sumber daya manusia di bidang perfilman untuk menjawab kebutuhan industri yang terus berubah.
Langkah ini menjadi penting karena industri film modern tidak hanya membutuhkan aktor dan sutradara. Produksi film juga memerlukan penulis skenario, kru kamera, penata artistik, penata suara, penata busana, perias, editor, animator, manajer lokasi, pengelola logistik, hingga tenaga pascaproduksi.
Jika produksi internasional semakin sering dilakukan di Jakarta, maka peluang kerja bagi talenta lokal dapat terbuka lebih luas. Kota juga bisa mendapat efek ekonomi dari penyewaan lokasi, akomodasi, konsumsi, transportasi, perizinan, jasa produksi, dan kunjungan wisata yang muncul setelah sebuah lokasi tampil dalam film atau serial.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta Andhika Permata mengatakan, subsektor film memiliki daya gerak luas karena terhubung dengan subsektor kreatif lain. Ia menilai peningkatan produksi film internasional di Jakarta dapat memperkuat ekonomi kota sekaligus menarik wisatawan.
"Kami meyakini subsektor ekonomi kreatif mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Jakarta sekaligus meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara," ujar Andhika.
Dalam pertemuan itu, Director of Public Policy Netflix Asia Pacific Ruben Hattari menyebut konten lokal memiliki peran besar dalam pertumbuhan bisnis Netflix. Menurut dia, karya Indonesia telah membuktikan bahwa cerita lokal bisa menjangkau penonton global.
"Di Indonesia, misalnya, ada 'Gadis Kretek' hingga 'Abadi Nan Jaya' yang sukses secara global melalui Netflix," ungkap Ruben.
Ruben berharap kerja sama dengan Jakarta dapat diperluas. Tidak hanya untuk produksi konten, tetapi juga untuk pengembangan talenta di bidang perfilman. Harapan itu sejalan dengan kebutuhan Jakarta yang sedang membangun ekosistem sebagai kota sinema.
Vice President Netflix Asia Pacific Andrew Ure juga menyampaikan apresiasi terhadap visi Jakarta sebagai kota sinema. Ia menilai Jakarta memiliki potensi besar menjadi salah satu lokasi syuting terbaik di Asia Tenggara.
Dukungan Netflix terhadap Jakarta menjadi sinyal penting karena platform streaming global memiliki jaringan distribusi luas. Jika Jakarta mampu menjadi lokasi produksi yang ramah sineas, kota ini bisa lebih sering muncul dalam konten global dan dikenal sebagai ruang kreatif yang kompetitif.
Salah satu modal penting Jakarta adalah keberagaman lanskap kota. Jakarta memiliki kawasan modern, kota tua, permukiman padat, gedung bersejarah, ruang publik, pusat bisnis, pesisir, hingga kawasan budaya Betawi. Variasi ini dapat menjadi nilai tambah bagi produksi film yang membutuhkan banyak karakter lokasi.
Namun, potensi lokasi saja tidak cukup. Kota sinema membutuhkan ekosistem yang rapi, mulai dari perizinan yang mudah, kepastian biaya, database lokasi syuting, akses terhadap talenta lokal, dukungan keamanan, koordinasi antarinstansi, hingga insentif yang kompetitif.
Karena itu, gagasan Jakarta Film Commission menjadi bagian penting dari visi ini. Pemprov DKI sebelumnya telah merancang Komisi Film Jakarta sebagai lembaga yang dapat menjadi pintu masuk layanan terpadu bagi sineas lokal maupun internasional.
"Nah, hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang untuk kita membentuk satu komisi yang kita bilang Jakarta Film Commission," kata Rano Karno dalam Jakarta Future Festival bertajuk "Mengembangkan Jakarta Kota Sinema" di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, Minggu.
Jakarta Film Commission diharapkan berfungsi sebagai layanan satu pintu untuk membantu perizinan, menyediakan database lokasi syuting, menghubungkan sineas dengan talenta lokal, serta mempromosikan Jakarta sebagai destinasi produksi film.
Dukungan Fiskal untuk Produksi Film
Dalam konteks produksi internasional, keberadaan film commission sangat penting. Banyak kota besar dunia sudah memiliki lembaga serupa untuk menarik produksi film, mengatur layanan syuting, menjaga hubungan dengan warga, dan memastikan produksi memberi manfaat ekonomi bagi kota.
Rano juga pernah menyebut Jakarta memiliki dukungan fiskal untuk mendorong produksi film. Salah satu instrumen yang disiapkan adalah insentif pajak tontonan yang rencananya dapat diarahkan untuk modal produksi film.
"Dulu, ada kebijakan Jakarta mengembalikan pajak tontonan kepada produser agar produksi film banyak. Dari mulai tahun 2025 sampai sekarang, kami masih pegang kira-kira Rp84 miliar. Makanya, kemarin produser saya kumpulkan. Ingin kami kembalikan kepada produser, untuk produksi," kata dia.
Selain Netflix, Pemprov DKI juga aktif menjajaki kerja sama dengan pelaku industri film global lain. Pada Mei 2026, Pemprov DKI menjajaki kerja sama investasi film dengan Goldfinch International Ltd., perusahaan berbasis di London yang bergerak di bidang investasi film, media, konten, dan hiburan.
“Saya yakin penjajakan kerja sama ini akan membuka peluang baru untuk pengembangan industri film di Jakarta dan tentunya akan memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi Kota Jakarta,” ujar Rano dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Sabtu.
Kerja sama dengan Goldfinch mencakup pertukaran informasi dan pengetahuan terkait ekosistem film, pengembangan talenta, pembangunan infrastruktur perfilman, hingga kajian kebijakan insentif untuk industri film.
Chief Operating Officer Goldfinch International Ltd. Phill McKenzie juga melihat Jakarta punya peluang besar menjadi pusat film di Asia.
“Saya sudah berkeliling di negara dunia bagian selatan, dan Indonesia, dalam hal ini Jakarta, bertumbuh sangat pesat di industri konten. Saya harap ini bisa menjadi langkah kerja sama yang baik untuk bersama membangun ekosistem film yang kuat,” kata Phill.
Sebelumnya, Pemprov DKI juga memperkuat kolaborasi internasional dengan Busan Film Commission dari Korea Selatan. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya Jakarta memperluas jaringan dalam industri perfilman Asia dan dunia.
“Jakarta punya potensi besar sebagai pusat industri kreatif, termasuk perfilman. Kehadiran Jakarta Film Commission nantinya diharapkan menjadi pintu masuk layanan terpadu yang memudahkan sineas, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk berkarya di Jakarta,” kata Rano.
Rano menyebut Pemprov DKI terus mendorong pembentukan Jakarta Film Commission agar Jakarta tidak hanya menjadi lokasi produksi, tetapi juga pusat pertumbuhan industri perfilman yang berkelanjutan.
"Pemprov DKI Jakarta bersama para pemangku kepentingan akan terus mendorong percepatan pembentukan Jakarta Film Commission, guna menghadirkan ekosistem yang memudahkan sineas berkarya sekaligus membawa cerita Jakarta ke panggung dunia," tuturnya.
Jakarta Youth Film Festival 2026
Sinergi untuk memperkuat ekosistem film juga dilakukan bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta melalui Jakarta Youth Film Festival 2026. Rano menilai kerja sama seperti ini dapat memberi ruang lebih luas bagi generasi muda.
"Sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi generasi muda untuk berkreasi dan berkontribusi dalam perekonomian," kata Rano dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia DKI Jakarta Iwan Setiawan menilai industri film punya dampak berantai yang besar terhadap sektor lain.
“Industri perfilman tidak hanya menjadi ruang ekspresi kreatif bagi generasi muda, tetapi juga memiliki multiplier effect yang besar terhadap sektor lain, seperti pariwisata, kuliner, transportasi, hingga hospitality," ujar Iwan.
Data industri juga menunjukkan pasar film Indonesia memiliki basis penonton besar. Pada 2024, industri perfilman Indonesia mencatat 122 juta penonton bioskop, angka tertinggi sepanjang masa. Dari jumlah itu, lebih dari 65 persen atau sekitar 80 juta penonton menonton film lokal.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa film lokal memiliki daya tarik kuat di pasar domestik. Ketika dikombinasikan dengan distribusi global lewat platform streaming, cerita Indonesia dapat menjangkau audiens yang jauh lebih luas.
Kesuksesan "Gadis Kretek" menjadi salah satu contoh. Serial tersebut masuk daftar Top 10 Global Netflix untuk kategori TV non-English dan berada dalam daftar Top 10 di sejumlah negara. Capaian ini menunjukkan cerita dengan akar budaya lokal tetap bisa diterima penonton internasional.
Netflix juga sudah menjalankan program pengembangan talenta bersama Jogja-NETPAC Asian Film Festival melalui REEL LIFE Film Camp. Program ini menjadi ruang pelatihan bagi komunitas kreatif Indonesia dan membuka jalur bagi talenta baru di berbagai bidang produksi film.
Kehadiran program seperti ini relevan dengan kebutuhan Jakarta. Jika kota ingin menjadi pusat produksi internasional, maka talenta lokal harus siap bekerja dengan standar global. Produksi besar membutuhkan kecepatan, disiplin, kemampuan teknis, bahasa kerja yang baik, dan pemahaman industri.
Di sisi lain, Jakarta juga sedang berproses untuk mendapatkan status kota sinema dalam jaringan kota kreatif UNESCO atau UNESCO Creative Cities Network. Status ini akan memperkuat posisi Jakarta sebagai kota kreatif yang mengandalkan film sebagai salah satu identitas ekonomi dan budaya.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta Andhika Permata sebelumnya menyebut Jakarta sedang melengkapi dokumentasi untuk proses tersebut.
"Jakarta sudah layak menjadi kota sinema, dan kami bersama Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO sedang melengkapi untuk dokumentasi Jakarta menjadi kota sinema dalam konteks UCCN, yakni The UNESCO Creative Cities Network," kata Andhika.
Visi kota sinema juga sejalan dengan status Jakarta sebagai kota global setelah tidak lagi menjadi ibu kota negara secara penuh. Jakarta membutuhkan sumber pertumbuhan baru yang tidak hanya bertumpu pada birokrasi dan pusat pemerintahan, tetapi juga jasa, pariwisata, hiburan, budaya, dan ekonomi kreatif.
Film dapat menjadi wajah baru Jakarta. Melalui film, kota tidak hanya dipromosikan sebagai tempat tinggal dan pusat bisnis, tetapi juga sebagai ruang cerita, ruang produksi, dan ruang kerja kreatif bagi generasi muda.
Namun, ambisi ini juga memiliki tantangan. Jakarta harus memastikan proses syuting tidak mengganggu aktivitas warga, perizinan tidak berbelit, lokasi publik tetap tertib, dan manfaat ekonomi tidak hanya dinikmati perusahaan besar. UMKM, komunitas seni, pekerja lepas, dan talenta lokal perlu dilibatkan.
Pemprov DKI juga perlu memastikan kolaborasi dengan platform global tidak membuat industri lokal hanya menjadi penyedia lokasi. Jakarta harus mendorong transfer pengetahuan, pelatihan kru, kolaborasi penulis dan sutradara, kesempatan bagi aktor lokal, serta pemanfaatan cerita lokal.
Jika dikelola dengan baik, kerja sama dengan Netflix dapat menjadi pintu masuk bagi Jakarta untuk membangun reputasi sebagai pusat produksi Asia Tenggara. Namun, keberhasilannya akan ditentukan oleh kesiapan ekosistem, bukan sekadar banyaknya judul yang diproduksi.
Pada akhirnya, kolaborasi DKI Jakarta dan Netflix menjadi langkah penting dalam perjalanan Jakarta menuju kota sinema. Tiga produksi baru Netflix di Jakarta dapat menjadi momentum awal, tetapi pekerjaan besarnya adalah memastikan industri film tumbuh menjadi sumber ekonomi kreatif yang inklusif, berkelanjutan, dan mengangkat cerita Jakarta ke panggung dunia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar