Periskop.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menargetkan Jakarta menjadi kota global yang semakin diminati menjelang usia lima abad pada 2027. Target itu tidak hanya akan dikejar melalui pembangunan fisik, tetapi juga lewat peningkatan kenyamanan, keamanan, kebersihan, dan budaya hidup warga.

Pramono menyampaikan arah tersebut bertepatan dengan momentum Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Jakarta. Menurut dia, usia 499 tahun menjadi fase penting bagi Jakarta untuk menyiapkan diri menuju babak baru sebagai kota global yang tetap nyaman ditinggali.

Advertisement

“Tentunya, kami akan mengadakan berbagai kegiatan untuk membuat Jakarta semakin menjadi kota global, kota yang digemari, kota yang nyaman, aman,” ungkap Pramono di Jakarta Pusat, Senin.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa ambisi Jakarta menuju kota global tidak hanya diukur dari gedung tinggi, transportasi modern, dan pusat bisnis. Lebih jauh, Jakarta juga harus mampu memberi rasa aman, mudah diakses, bersih, serta menghadirkan ruang hidup yang layak bagi warganya.

Infrastruktur Disiapkan untuk Membuat Jakarta Lebih Terkoneksi

Salah satu agenda besar yang disiapkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta adalah penguatan konektivitas kawasan pusat kota. Pramono menyebut Pemprov DKI akan memulai pencanangan pedestrian deck di Dukuh Atas.

Pedestrian deck ini diproyeksikan menjadi bagian penting dari kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD). Konsep tersebut menempatkan simpul transportasi publik sebagai pusat pergerakan warga, sehingga pengguna MRT, LRT, KRL, Transjakarta, dan moda lain bisa berpindah dengan lebih mudah.

Selain Dukuh Atas, Pemprov DKI juga tengah merenovasi Taman Semanggi. Pramono berharap revitalisasi taman tersebut dapat segera terlihat hasilnya. Penataan ruang hijau dan ruang publik seperti ini menjadi penting karena kota global tidak hanya membutuhkan infrastruktur transportasi, tetapi juga ruang yang nyaman untuk warga beraktivitas.

Pemprov DKI juga berencana menghubungkan kawasan Bundaran HI melalui jalur bawah tanah dengan sejumlah hotel besar, yakni Grand Hyatt, Pullman, Mandarin, dan Kempinski. Nantinya, hotel-hotel tersebut akan tersambung langsung dengan stasiun MRT di kawasan tersebut.

Konektivitas bawah tanah seperti ini dapat memperkuat wajah Jakarta sebagai kota yang ramah pejalan kaki, terutama di pusat bisnis dan kawasan wisata. Warga, pekerja, maupun wisatawan dapat berpindah dari hotel, pusat belanja, ruang publik, dan transportasi massal tanpa sepenuhnya bergantung pada kendaraan pribadi.

“Maka, penanganan-penanganan yang seperti ini akan terus kami lakukan, tapi yang paling penting adalah dalam rangka lima abad ini, Jakarta mempersiapkan diri untuk memberikan kenyamanan bagi warganya,” ujar Pramono.

Kota Global Tidak Cukup Dibangun Secara Fisik

Pramono menegaskan bahwa bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, Pemprov DKI tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik. Menurut dia, Jakarta juga harus dibangun dari sisi kenyamanan, rasa aman, kepedulian sosial, dan gotong royong warga.

Karena itu, gerakan Jaga Jakarta dan pilah sampah menjadi bagian dari strategi menuju kota global. Dua agenda ini menempatkan warga sebagai aktor penting dalam pembangunan kota, bukan hanya sebagai penerima manfaat kebijakan.

Pendekatan ini relevan karena kota global bukan sekadar kota yang memiliki fasilitas modern. Kota global juga harus mampu mengelola masalah sehari-hari seperti sampah, kebersihan lingkungan, keamanan ruang publik, transportasi, dan kualitas hidup warga.

Dalam konteks Jakarta, tantangan itu tidak kecil. Kota ini masih menghadapi persoalan kemacetan, polusi, banjir, keterbatasan ruang terbuka hijau, serta beban sampah harian yang sangat besar. Karena itu, target menjadi kota global harus dibarengi dengan kemampuan menyelesaikan persoalan dasar perkotaan.

Sampah Jadi Ujian Serius Jakarta Menjelang Lima Abad

Selain bicara soal konektivitas dan kenyamanan kota, Pramono juga memberi pesan khusus mengenai persoalan sampah. Ia meminta warga Jakarta menjadikan pilah sampah sebagai gerakan bersama agar beban lingkungan tidak diwariskan ke generasi mendatang.

“Menjelang lima abad Jakarta, kita tidak boleh mewariskan persoalan sampah kepada generasi berikutnya,” kata Pramono.

Menurut Pramono, gerakan pilah sampah harus dimulai dari rumah, lingkungan, dan ruang-ruang kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah di hilir, tetapi harus dimulai dari sumbernya.

Gerakan ini menjadi penting karena volume sampah Jakarta masih sangat besar. Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta sebelumnya menyebut produksi sampah harian Jakarta mencapai rata-rata sekitar 7.500 ton per hari dan bisa menembus 8.000 ton pada waktu tertentu. Sebagian besar beban sampah masih bertumpu pada TPST Bantargebang.

Karena itu, pilah sampah dari rumah menjadi langkah mendasar. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau bahan lain, sementara sampah anorganik seperti plastik, kertas, logam, dan kaca bisa masuk ke rantai daur ulang. Adapun sampah residu adalah sampah yang sulit diolah kembali dan biasanya tetap harus dikirim ke tempat pemrosesan akhir.

Jika pemilahan berjalan konsisten, beban pengangkutan dan pembuangan ke Bantargebang dapat berkurang. Selain itu, pengelolaan sampah dari sumber juga dapat membuka peluang ekonomi sirkular melalui bank sampah, daur ulang, kompos, dan pengolahan energi berbasis limbah.

Jakarta Ingin Jadi Contoh Gerakan Pilah Sampah

Pramono mengaku bersyukur karena Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mendorong Jakarta menjadi contoh dalam gerakan pilah sampah. Ia menilai dukungan itu penting agar gerakan yang dimulai di Jakarta bisa menginspirasi daerah lain.

“Kami bersyukur sekarang ini, seperti yang disampaikan oleh Bapak Menko kemarin (Minggu, 21 Juni 2026), pilah sampah yang dilakukan di Jakarta menjadi role model bagi daerah-daerah lain,” ungkap Pramono.

Menurut Pramono, Jakarta yang bersih, sehat, dan berkelanjutan hanya bisa terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Pemerintah dapat menyediakan aturan, fasilitas, dan sistem pengolahan, tetapi perubahan perilaku tetap harus dimulai dari warga.

"Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus berkomitmen untuk bekerja secara responsif dan adaptif agar masyarakat dapat beraktivitas sekaligus memastikan kota ini terus melangkah menuju masa depannya," ujar Pramono.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pilah sampah bukan sekadar kampanye sesaat. Gerakan ini diarahkan menjadi kebiasaan baru warga Jakarta, terutama menjelang usia kota yang ke-500 tahun.

Peringkat Kota Dunia Jadi Modal Jakarta

Ambisi Jakarta menjadi kota global juga mendapat modal positif dari sejumlah capaian internasional. Seperti diketahui, Jakarta masuk peringkat ke-53 dunia dalam daftar 100 Kota Terbaik Dunia 2026 versi Resonance Consultancy. Posisi tersebut bahkan berada di atas Washington DC yang berada di peringkat ke-57.

Penilaian itu mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari daya tarik wisata, popularitas media sosial, konektivitas transportasi, hingga aktivitas ekonomi. Jakarta juga disebut masih terus berkembang meski menghadapi berbagai tantangan perkotaan.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menilai capaian itu menjadi pemacu bagi Pemprov DKI untuk terus memperbaiki posisi Jakarta dalam indeks kota global.

"Kalau kemarin 71, ini akan melonjak. Saya sangat yakin indeks Global City Kota Jakarta akan segera naik, mungkin bisa ada di nomor 65 sekian deh. Mudah-mudahan itu menjadi target yang tidak muluk, tapi insya Allah bisa," tutur Rano.

Capaian tersebut memberi sinyal bahwa Jakarta punya daya tarik kuat sebagai kota metropolitan. Namun, peringkat kota dunia tidak boleh membuat Jakarta berpuas diri. Pengakuan internasional perlu diikuti dengan perbaikan nyata yang dirasakan warga, mulai dari transportasi publik, trotoar, taman kota, kebersihan, udara, hingga layanan publik.

Teknologi dan AI Ikut Didorong dalam Tata Kelola Kota

Selain infrastruktur dan lingkungan, Pemprov DKI juga mendorong pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam tata kelola kota. Transformasi digital dinilai menjadi salah satu syarat penting agar Jakarta mampu bersaing dengan kota-kota besar dunia.

Sebelumnya, Pramono menyebut data dan teknologi kini menjadi faktor penting dalam daya saing kota. “Data, teknologi digital, dan AI kini menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing bangsa dan kota. Jakarta sebagai pusat perekonomian nasional punya tanggung jawab menjadi penggerak transformasi ini,” cetus Pramono.

Pemanfaatan teknologi dapat membantu pemerintah membaca kebutuhan warga dengan lebih cepat. Misalnya untuk pengelolaan lalu lintas, pengendalian banjir, layanan aduan masyarakat, perencanaan ruang, pengawasan sampah, hingga pengambilan keputusan berbasis data.

Dengan begitu, pembangunan Jakarta menuju kota global tidak hanya mengandalkan proyek fisik, tetapi juga sistem pemerintahan yang lebih responsif dan berbasis bukti.

Jakarta Menuju 500 Tahun, Ukurannya Tetap Warga

Menjelang lima abad, Jakarta memiliki modal besar untuk terus bergerak sebagai kota global. Infrastruktur transportasi semakin berkembang, kawasan TOD mulai diperkuat, ruang publik ditata, teknologi mulai dioptimalkan, dan gerakan lingkungan terus didorong.

Namun, ukuran keberhasilan Jakarta tidak hanya terletak pada peringkat internasional atau megahnya proyek pembangunan. Tantangan yang lebih penting adalah memastikan warga benar-benar merasakan kota yang lebih nyaman, aman, bersih, dan mudah diakses.

Pilah sampah, gotong royong, transportasi terintegrasi, dan ruang publik yang nyaman menjadi bagian dari wajah kota global yang lebih manusiawi. Jika seluruh agenda itu berjalan konsisten, Jakarta tidak hanya akan menjadi kota yang diminati wisatawan dan investor, tetapi juga kota yang layak dan membanggakan bagi warganya sendiri.

Menjelang usia 500 tahun pada 2027, Jakarta sedang menyiapkan lompatan besar. Pertanyaannya bukan hanya apakah Jakarta bisa menjadi kota global, tetapi apakah transformasi itu benar-benar membuat kehidupan warga menjadi lebih baik.