Periskop.id - Panggung sepak bola dunia berpotensi kembali mengalami perubahan format yang masif pada akhir dekade ini.
Induk organisasi sepak bola internasional, FIFA, dilaporkan tengah membuka peluang untuk mengevaluasi format kompetisi paling bergengsi di bumi dengan menambah jumlah peserta secara signifikan.
Dikutip oleh The New York Times, Minggu (12/7), Presiden FIFA, Gianni Infantino menyatakan bahwa FIFA akan mengkaji perluasan Piala Dunia dengan menambah 16 negara lagi menjadi turnamen dengan 64 tim menjelang edisi berikutnya pada 2030.
Langkah ini tentu menjadi sinyal ekspansi yang sangat agresif. Padahal, kompetisi ini sebelumnya baru saja diperluas menjadi format 48 tim untuk edisi 2026, yang diadakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Jumlah tersebut sejatinya sudah merupakan sebuah peningkatan dari versi 32 negara yang berjalan cukup lama, yaitu dari tahun 1998 hingga 2022.
Menilik Rencana Format dan Sejarah Pengusulan Ide
Sesuai dengan agenda yang telah disepakati sebelumnya, turnamen edisi 2030 rencananya akan tersebar di enam negara dan tiga benua sekaligus.
Uruguay selaku tuan rumah edisi pertama tahun 1930, bersama dengan pemenang edisi 2022 Argentina, serta Paraguay yang merupakan markas kantor CONMEBOL selaku badan pengatur sepak bola Amerika Selatan, dijadwalkan untuk menjamu masing-masing satu pertandingan di awal kompetisi.
Sementara itu, 101 pertandingan tersisa, dalam skenario turnamen format 48 tim yang memiliki total 104 pertandingan, akan dibagi antara Maroko, Portugal, dan Spanyol.
Kendati rencana awal sudah dirancang sedemikian rupa, wacana perombakan menuju 64 tim tetap menggelinding kuat. Infantino mengonfirmasi bahwa pembicaraan mengenai format baru yang diusulkan tersebut akan dilakukan setelah gelaran Piala Dunia 2026 berakhir.
"Ini pastinya merupakan masalah yang akan dikaji dan didiskusikan di komite-komite terkait setelah Piala Dunia ini," kata Infantino dalam sebuah wawancara dengan media Swiss, Bluewin.
Ide radikal ini sendiri tidak muncul secara tiba-tiba. Gagasan untuk memperbanyak peserta hingga 64 tim pertama kali diusulkan oleh pejabat sepak bola Uruguay, Ignacio Alonso, dalam pertemuan Dewan FIFA pada Maret 2025.
Dukungan terhadap wacana ini kemudian menguat pada November 2025, ketika Alejandro Dominguez, presiden CONMEBOL sekaligus wakil presiden FIFA, menggambarkan turnamen 64 tim pada 2030 sebagai impiannya.
Dominguez secara terbuka mengklaim bahwa perluasan berskala besar semacam itu akan mampu menyatukan dunia lewat sepak bola.
Risiko Penurunan Kualitas dan Ancaman terhadap Babak Kualifikasi
Meski terdengar inklusif, rencana penambahan kuota ini menyimpan risiko regulasi yang cukup pelik.
Turnamen dengan format 64 tim akan membuat lebih dari seperempat dari total 210 tim internasional pria yang berada di bawah naungan FIFA ikut berkompetisi di putaran final. Dampak negatifnya, kondisi ini berisiko membuat banyak proses kualifikasi di tingkat regional menjadi tidak berarti lagi atau kehilangan kesakralannya.
Sebagai contoh konkret, pelonggaran kuota ini akan sangat terasa di zona Amerika Selatan. Saat ini saja, enam dari 10 negara anggota CONMEBOL sudah dipastikan lolos secara otomatis ke putaran final yang berisi 48 tim, ditambah lagi dengan adanya satu slot kualifikasi tambahan yang bisa diperebutkan melalui babak play-off.
Jika jumlah peserta kembali ditambah menjadi 64 tim, maka babak kualifikasi di zona tersebut dinilai hampir kehilangan fungsi kompetitifnya.
Gelombang Penolakan dari Para Petinggi Konfederasi Sepak Bola
Tidak mengherankan jika rencana ekspansi yang digulirkan oleh FIFA ini langsung memicu reaksi keras dan gelombang penolakan dari para petinggi konfederasi sepak bola di belahan benua lain. Kebijakan ini dinilai berpotensi menurunkan mutu turnamen dan merugikan kalender kompetisi yang sudah padat.
Pada April lalu, Presiden UEFA, Aleksander Ceferin secara tegas menolak proposal tersebut dan menyebutnya sebagai ide yang buruk.
Menurut Ceferin, penambahan jumlah peserta yang terlalu masif justru akan merusak nilai dari turnamen itu sendiri serta merusak struktur kompetisi kualifikasi di zona Eropa.
Pandangan yang senada juga datang dari belahan benua Amerika Utara. Rekan sejawat Ceferin, yaitu Presiden CONCACAF, Victor Montagliani, memiliki penilaian yang serupa mengenai wacana ini.
Montagliani secara singkat menyatakan bahwa perluasan komparatif menjadi 64 tim tersebut bukanlah sebuah ide yang bagus untuk masa depan sepak bola.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar