Periskop.id – Antrean truk yang hendak melakukan bongkar muat di sejumlah depo kembali memicu kemacetan parah di koridor Cakung-Cilincing, Selasa, 21 Juli 2026. Kepadatan meluas dari Jalan Raya Bekasi hingga Jalan Raya Cakung-Cilincing dan membuat kendaraan tertahan selama berjam-jam.
Satuan Lalu Lintas Polres Metro Jakarta Timur menyebut tingginya aktivitas keluar masuk truk ke area depo mengurangi kapasitas jalan. Dampaknya tidak hanya dirasakan kendaraan logistik, tetapi juga pengguna kendaraan pribadi dan angkutan umum yang melintasi jalur tersebut.
"Betul, jadi penyebab kemacetan panjang itu akibat truk-truk bongkar muat di beberapa depo di Cakung," kata Kepala Satuan Lalu Lintas Polres Metro Jakarta Timur Kompol Harnas Prihandito saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa.
Jalan Raya Bekasi dan Jalan Raya Cakung-Cilincing merupakan koridor penting bagi pergerakan kendaraan dari wilayah timur Jakarta menuju kawasan Cilincing dan Pelabuhan Tanjung Priok. Ketika antrean truk meluber dari pintu masuk depo ke badan jalan, ruang bagi kendaraan lain semakin menyempit dan arus lalu lintas ikut tersendat.
Polisi Turun Sejak Pagi
Harnas mengatakan petugas telah memantau kepadatan sejak pagi. Sejumlah personel lalu lintas ditempatkan di lokasi untuk mengatur pergerakan kendaraan dan mencegah antrean semakin panjang.
"Anggota kami dari pagi sudah di lapangan untuk membantu menguraikan truk-truk bongkar muat tersebut," ujarnya.
Polisi juga berkoordinasi dengan pihak terkait sambil memantau perkembangan lalu lintas. Namun, pengaturan di jalan dinilai hanya menjadi penanganan sementara apabila proses keluar masuk truk dan pelayanan bongkar muat di dalam depo belum berjalan lebih teratur.
Kemacetan tersebut membuat sejumlah pengemudi tertahan sejak dini hari. Salah seorang sopir truk, Suprapto, mengaku telah tiba di sekitar Gerbang Tol Cakung sejak pukul 00.00 WIB. Akan tetapi, kendaraannya nyaris tidak bergerak karena antrean terus mengular menuju kawasan pergudangan. "Terus sampai sekarang tidak ada pergerakan, ini di depo (pergudangan) pelayanan makin banyak jadi mobil antre," kata Suprapto.
Menurut dia, lambatnya proses pelayanan di pintu masuk dan area bongkar muat menjadi salah satu penyebab truk tertahan di jalan.
"Harusnya biar tidak macet diatur biar tidak mandek, ini sudah macet di pintu masuk (gudang) mandek," ucap Suprapto.
Ia meminta pengelola depo memperbaiki pengaturan kedatangan dan pelayanan truk agar antrean tidak kembali memenuhi badan jalan.
Kemacetan Berulang di Koridor Logistik
Kemacetan akibat aktivitas depo bukan kali pertama terjadi di jalur Cakung-Cilincing. Pada 25 Mei 2026, kepadatan dari Jalan Yos Sudarso hingga Cilincing juga dikaitkan dengan aktivitas sejumlah depo kontainer di kawasan Cakung. Saat itu, petugas Dinas Perhubungan dan kepolisian diterjunkan ke beberapa titik untuk mengurai antrean.
“Penyebab kemacetan ini memang tingginya aktivitas di depo truk kontainer sehingga menimbulkan kemacetan,” kata Kepala Seksi Operasional Suku Dinas Perhubungan Jakarta Utara Yulza Romadhoni ketika menjelaskan kepadatan pada Mei 2026.
Kondisi serupa kembali terjadi pada 28 Mei 2026. Antrean truk kontainer dan kendaraan pribadi saat itu mengular dari kawasan Pelabuhan Tanjung Priok menuju Cilincing, Marunda, hingga Cakung-Cilincing. Kemacetan disebut dipicu kegiatan bongkar muat di depo kawasan Cilincing dan Marunda.
Keluhan warga juga muncul pada Juni 2026. Antrean truk yang hendak masuk ke depo dilaporkan meluber ke badan Jalan Cakung-Cilincing dan berlangsung berjam-jam. Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan persoalan tidak hanya muncul karena volume kendaraan sesaat, tetapi juga berkaitan dengan kapasitas dan tata kelola operasional depo.
Tekanan kendaraan logistik di kawasan utara Jakarta memang cukup besar. Saat kemacetan Pelabuhan Tanjung Priok pada April 2025, jumlah truk menuju salah satu terminal peti kemas dilaporkan melonjak dari rata-rata sekitar 2.500 menjadi 4.000 kendaraan dalam sehari. Walaupun kasus dan lokasinya berbeda, data tersebut menggambarkan besarnya dampak lonjakan kendaraan logistik terhadap akses jalan di sekitar pelabuhan dan depo kontainer.
Pengaturan Jadwal Truk Perlu Diperkuat
Untuk mencegah kemacetan berulang, pengelola depo perlu menerapkan pengaturan jadwal kedatangan truk, mempercepat pelayanan pintu masuk, menyediakan ruang antre di dalam area, dan memastikan kendaraan tidak menunggu di badan jalan.
Pelindo sebelumnya juga mendorong penerapan sistem pengaturan kedatangan truk serta operasi ganda, yakni kendaraan membawa peti kemas ketika masuk dan kembali membawa muatan saat keluar. Skema tersebut dinilai dapat menekan perjalanan truk kosong dan mengurangi kepadatan lalu lintas.
Sebagai solusi jangka panjang, Pelindo menyiapkan New Priok Eastern Access yang dirancang menghubungkan terminal New Priok langsung dengan akses jalan tol pelabuhan. Jalur khusus ini ditujukan untuk memperlancar pergerakan barang dari kawasan industri Cikarang, Cibitung, dan wilayah timur Jakarta menuju Tanjung Priok.
Namun, pembangunan akses baru tetap perlu dibarengi pembenahan operasional di tingkat depo. Tanpa pengaturan waktu bongkar muat, kapasitas pelayanan, dan ruang tunggu yang memadai, antrean truk berpotensi terus meluber ke jalan umum dan mengganggu mobilitas masyarakat di koridor Cakung-Cilincing.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar