Periskop.id - Arah pasar keuangan global dalam waktu dekat dinilai masih akan dipengaruhi ketidakpastian geopolitik, terutama terkait hasil negosiasi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang hingga kini belum menemukan kejelasan.
Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar juga dihadapkan pada meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Israel melancarkan serangan ke Lebanon. Situasi ini memperkuat sentimen kehati-hatian di pasar global.
Dari sisi kebijakan moneter, Federal Reserve (The Fed) memutuskan menahan suku bunga acuannya dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru. Keputusan ini membuat investor masih menunggu sinyal lanjutan terkait arah kebijakan ke depan.
Kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan moneter tersebut turut memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk kripto dan indeks saham Amerika Serikat.
Volatilitas Meningkat di Tengah Ketidakpastian
Berdasarkan data CoinMarketCap per Selasa (23/6), harga Bitcoin berada di level USD62.300, turun 3,94% dalam 24 jam terakhir dan melemah 6,58% dalam sepekan. Koreksi ini mencerminkan meningkatnya sensitivitas pasar terhadap dinamika global.
Di pasar saham AS, pergerakan indeks terpantau bervariasi. Nasdaq turun 1,32%, sementara NYSE Composite menguat 0,41%. S&P 500 terkoreksi 0,37% dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,30%.
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menilai hasil negosiasi AS–Iran berpotensi menjadi faktor penentu pergerakan pasar ke depan.
"Pasar saat ini berada dalam fase menunggu kepastian. Apa pun hasil negosiasi AS-Iran nantinya dapat menjadi katalis yang mendorong pergerakan signifikan di berbagai instrumen investasi global,” ujar Ryan dalam keterangannya, Rabu (24/6).
Peluang di Tengah Gejolak
Ryan menambahkan, meningkatnya ketidakpastian biasanya diikuti kenaikan volatilitas, namun kondisi tersebut juga bisa dimanfaatkan investor.
“Ketika ketidakpastian meningkat, volatilitas biasanya ikut naik. Namun kondisi seperti ini juga dapat menciptakan peluang bagi investor untuk mengidentifikasi titik masuk yang lebih menarik sesuai dengan strategi dan profil risikonya,” tutur Ryan.
Ia juga menyoroti perkembangan tokenized US stocks sebagai salah satu inovasi di sektor aset digital. Instrumen ini memungkinkan saham AS direpresentasikan dalam bentuk token berbasis blockchain.
"Investor yang ingin mendapatkan eksposur ke saham Amerika Serikat tanpa harus memiliki aset secara langsung dapat mempertimbangkan tokenized US stocks, yang memungkinkan akses lebih fleksibel terhadap pergerakan saham global dalam satu ekosistem investasi,” jelasnya.
Di tengah ketidakpastian global, saham-saham AS masih menjadi perhatian investor, didukung kinerja perusahaan teknologi besar dan prospek ekonomi yang relatif stabil.
Seiring berkembangnya tren tokenisasi aset, berbagai instrumen berbasis real-world assets (RWA) mulai diminati, termasuk token emas, perak, ETF berbasis indeks, hingga tokenized saham perusahaan global seperti Tesla, Alphabet, Apple, dan Nvidia.
"Melalui beragam pilihan tokenized US stocks yang tersedia di Bittime, investor Indonesia memiliki lebih banyak alternatif untuk memperoleh eksposur terhadap perusahaan-perusahaan global terkemuka," pungkas Ryan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar