Periskop.id - Harga aset kripto utama melanjutkan penguatan pada akhir pekan ini, dipimpin oleh ether dan solana, seiring terjadinya short squeeze yang mendorong bitcoin mendekati level US$62.000. Kondisi ini sekaligus menutup pekan pertama yang benar-benar kuat sejak pertengahan Juni.

Data CoinDesk menunjukkan bitcoin diperdagangkan di kisaran US$61.360, atau naik sekitar 2,5% dalam sepekan terakhir dan mencapai level tertinggi dalam dua minggu. Ether mencatat kenaikan 4,2% dalam 24 jam terakhir ke sekitar US$1.702, dengan penguatan mingguan hampir 10%. Sementara itu, solana bertahan di kisaran US$80 dan melonjak 18,6% dalam sepekan, menjadi kinerja terbaik di antara kripto utama.

Kripto lainnya juga ikut menguat. XRP naik 5,7% dalam sepekan ke level US$1,09, sedangkan token HYPE dari Hyperliquid menguat 5,1% dalam sehari.

Kenaikan pasar kripto kali ini banyak didorong oleh fenomena short squeeze, yaitu kondisi ketika trader yang bertaruh harga turun (short) terpaksa menutup posisi mereka karena harga justru naik. Dalam 24 jam terakhir, trader bearish mengalami likuidasi sebesar US$281 juta, hampir dua kali lipat dibandingkan likuidasi posisi long yang mencapai US$159 juta. Secara total, nilai likuidasi mencapai US$440 juta dari sekitar 95.690 trader, menurut data Coinglass.

Saat posisi short dilikuidasi, para trader harus membeli kembali aset yang sebelumnya mereka jual, sehingga mendorong harga naik lebih tinggi dan memicu likuidasi lanjutan pada posisi short lainnya. Efek berantai ini membuat kenaikan harga yang awalnya terbatas berubah menjadi lonjakan yang lebih tajam.

Likuidasi terbesar tercatat pada posisi ether senilai US$18,2 juta di platform Hyperliquid. Secara keseluruhan, ether menjadi kontributor terbesar kerugian trader bearish dengan total likuidasi mencapai US$157 juta, melampaui bitcoin yang mencatat US$103 juta, sebuah kondisi yang tidak biasa.

Dari sisi makroekonomi, sentimen pasar juga turut mendukung. Data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk bulan Juni yang dirilis pada Kamis tercatat lebih lemah dari perkiraan. Hal ini mengurangi ekspektasi bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve) akan kembali menaikkan suku bunga, sekaligus melemahkan dolar AS terhadap mayoritas mata uang utama.

Melemahnya data tenaga kerja mengurangi alasan bagi kebijakan moneter ketat yang selama ini menekan pasar kripto, terutama setelah sikap hawkish The Fed pada Juni lalu. Di sisi lain, harga emas turut menguat selama tiga hari berturut-turut seiring meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga.

Pasar saham juga mulai stabil. Bursa saham Asia menguat setelah dua hari sebelumnya mengalami tekanan akibat saham teknologi. Indeks Kospi Korea Selatan bahkan melonjak 3% setelah sempat mendekati kondisi bear market secara teknikal.

Saham Samsung Electronics naik 6,8% setelah muncul laporan bahwa perusahaan AI Anthropic sedang menjajaki kerja sama dengan perusahaan tersebut untuk memproduksi chip AI khusus. Hal ini menjadi sinyal bahwa belanja di sektor kecerdasan buatan yang menopang reli pasar saham tahun ini masih terus berlanjut, meskipun investor masih memperdebatkan kecepatannya.

Stabilisasi sektor AI ini membantu meredakan tekanan rotasi dana keluar dari kripto dalam jangka pendek. Namun, di sisi lain, hal ini juga menghidupkan kembali persaingan aliran dana antara aset kripto dan pasar saham yang sudah terjadi sepanjang paruh pertama tahun ini.

Ke depan, pertanyaan utama adalah apakah kenaikan akibat short squeeze ini dapat berlanjut menjadi tren yang lebih berkelanjutan. Pergerakan yang dipicu oleh penutupan posisi short biasanya terjadi cepat, tetapi belum tentu mencerminkan permintaan yang kuat dalam jangka panjang.

Selain itu, ETF bitcoin spot di AS masih menghadapi arus keluar dana bulanan yang cukup besar, sementara pasar memasuki kuartal ketiga dengan likuiditas yang cenderung lebih tipis. Kondisi ini bisa memperbesar pergerakan harga, baik ke atas maupun ke bawah.