periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026, di tengah penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi menyampaikan, rupiah pada perdagangan sore ini ditutup melemah 47 poin ke level Rp16.884 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp16.837. Sebelumnya, rupiah sempat melemah hingga 60 poin pada perdagangan intraday.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 47 poin ke level Rp16.884 dari penutupan sebelumnya Rp16.837,” ujar Ibrahim dalam keterangan resmi, Rabu (18/2).
Dari sentimen eksternal, pasar menyoroti pembicaraan nuklir antara Iran dan AS. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menekankan, kesepakatan prinsip tidak berarti kesepakatan akan segera tercapai. Risiko militer di Selat Hormuz tetap tinggi, sementara pasukan AS terus ditempatkan besar-besaran di Timur Tengah.
Selain itu, negosiasi perdamaian antara Ukraina dan Rusia yang dimediasi AS turut menjadi perhatian pelaku pasar. Sementara, investor menantikan risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve Januari dan data indeks harga PCE AS yang dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga.
Dari sisi domestik, kondisi defisit APBN menjadi sorotan. Menurut Ibrahim, ketergantungan terhadap defisit berpotensi menunda reformasi struktural. APBN juga berperan sebagai penopang permintaan agregat, meski basis penerimaan belum tumbuh sebanding dengan kebutuhan belanja dan biaya bunga.
Pada akhir 2025, defisit APBN tercatat Rp695,1 triliun atau 2,92% dari PDB, lebih tinggi dari target awal Rp616,2 triliun atau 2,53% dari PDB. Ibrahim menilai, ruang fiskal sudah menipis dan kemampuan APBN menyerap guncangan tidak selega beberapa tahun lalu. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengatur defisit APBN dibatasi paling tinggi 3% dari PDB.
“Meski masih berada di bawah ambang batas 3%, tetap secara ekonomi ruang fiskal sudah menipis. Bila dikaji lebih dalam, persoalannya bukan sekadar angka rasio, melainkan kemampuan APBN menyerap guncangan dan melakukan stabilisasi,” ulas Ibrahim.
Saat penerimaan negara belum kuat sementara keseimbangan primer masih defisit, maka setiap terjadi guncangan eksternal kenaikan imbal hasil (yield) global, pelemahan rupiah, dan arus modal keluar akan langsung menekan kas negara melalui beban bunga dan kebutuhan pembiayaan baru. Artinya, secara headline (defisit) terlihat aman, tetapi daya tahan fiskal terhadap volatilitas global sudah tidak selega beberapa tahun lalu.
Tinggalkan Komentar
Komentar