periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait gugatan terhadap Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (UU APBN) yang diajukan sejumlah pihak. Gugatan tersebut mempersoalkan alokasi anggaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai menyerap anggaran pendidikan.
Menanggapi hal itu, Purbaya mengatakan masih menunggu putusan pengadilan. Namun ia beranggapan bahwa gugatan tersebut juga bisa saja dikabulkan ataupun ditolak.
“Ya biar aja kita lihat hasilnya seperti apa. Gugatan bisa kalah bisa menang kan,” ujar Purbaya kepada media, saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (18/2).
Mantan Ketua LPS itu menilai substansi gugatan tersebut tidak kuat. Namun demikian, pemerintah tetap menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme hukum yang berlaku.
“Saya rasa lemah, kalau lemah ya pasti kalah. Tapi nanti kita lihat hasilnya seperti apa,” kata Purbaya.
Asal tahu saja, sejumlah pihak yang terdiri dari guru hingga mahasiswa menggugat UU APBN 2026 ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang menilai anggaran program MBG mengambil jatah dari anggaran pendidikan. Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti menyatakan bahwa program MBG merupakan investasi masa depan Indonesia.
"Generasi kuat Indonesia Emas 2045 adalah mereka yang saat ini masih belajar di TK, SD, SMP, dan SMA hingga anak yang masih dalam kandungan atau ibu hamil," ucap Abdul Mu'ti didampingi Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya usai peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) di Kampus IV UMSU, Percut Seituan, Deli Serang, Sumatera Utara, Senin.
Melansir Antara, Mendikdasmen mengatakan, banyak penelitian yang menunjukkan perkembangan manusia sangat ditentukan oleh tiga tahapan. Tahap pertama adalah masa di dalam kandungan. Kedua masa golden age, yakni sejak lahir hingga usia lima tahun. Ketiga, masa pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya.
"Itulah masa-masa penting. Di situlah gizi diperlukan. Ketika MBG menyasar ibu menyusui dan ibu hamil, golden age berada pada masa itu. Ini adalah investasi yang luar biasa,” kata Abdul Mu’ti.
Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya mengajak seluruh pihak terkait untuk memperluas pelayanan makan bergizi gratis hingga menyasar balita dan ibu hamil. Menurut Surya, sesungguhnya kualitas suatu daerah 10 hingga 20 tahun mendatang tidak ditentukan oleh apa yang dibangun hari ini.
"Tetapi bagaimana anak-anak kita tumbuh. Hari ini anak yang sehat akan belajar lebih baik, anak yang cukup gizi akan berpikir lebih kuat, dan generasi yang kuat membangun bangsa yang kuat. Inilah esensi dari program MBG," katanya.
Surya juga mengajak seluruh pihak bersama-sama melakukan tiga hal, yakni menggunakan bahan pangan daerah sendiri, sehingga manfaat ekonomi kembali ke masyarakat. Kedua, lanjut dia, menjaga kualitas makanan agar anak-anak tidak hanya kenyang, tetapi juga sehat.
Ketiga, melakukan pengawasan bersama secara terbuka dan berkelanjutan, terakhir mempercepat pembangunan SPPG di seluruh wilayah Sumatera Utara. Sebab, dikatakan Surya, program MBG selaras dengan arah pembangunan daerah, yakni kolaborasi Sumut Berkah menuju Sumut yang unggul, maju, dan berkelanjutan.
"Unggul bukan hanya soal infrastruktur, dan bukan pula semata-mata soal ekonomi. Karena itu, program pemenuhan gizi menjadi investasi pembangunan pendidikan, kesehatan, dan juga ekonomi," ujar Surya.
Tinggalkan Komentar
Komentar