periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 28 April 2026, di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS) yang dipicu memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah ditutup melemah 32 poin ke level Rp17.243 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.211. Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat tertekan hingga 45 poin.
Dari sentimen eksternal, penguatan dolar AS dipicu oleh ketidakpastian terkait konflik antara AS dan Iran yang belum menemukan titik terang. Upaya untuk membuka kembali Selat Hormuz masih menemui jalan buntu, setelah Washington bersikap skeptis terhadap proposal terbaru dari Teheran.
“Ketidakpuasan Presiden AS Donald Trump terhadap proposal Iran membuat konflik semakin berlarut, sementara Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20% pasokan energi global masih terganggu,” jelas Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (28/4).
Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS.
Selain itu, pasar juga menantikan hasil pertemuan bank sentral AS (The Fed) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga. Namun, arah kebijakan moneter ke depan masih menjadi perhatian pelaku pasar di tengah tekanan inflasi akibat konflik geopolitik.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh faktor struktural. Meski sejumlah indikator makro seperti inflasi dan pertumbuhan ekonomi relatif stabil, ketergantungan terhadap aliran modal asing jangka pendek masih menjadi sumber kerentanan.
Ibrahim menilai, narasi bahwa rupiah undervalued kerap digunakan untuk menjaga sentimen pasar. Namun, tanpa perbaikan fundamental ekonomi yang nyata, kepercayaan terhadap rupiah akan sulit diperkuat dalam jangka panjang.
Tinggalkan Komentar
Komentar