periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pukul 10.00 WIB, rupiah tercatat melemah ke level Rp17.613 per dolar AS atau turun 0,48%.

‎Pengamat ekonomi dan pasar keuangan, Ibrahim Assuabi, menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pasar keuangan.

‎Dari sisi eksternal, Ibrahim menyoroti meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Selat Hormuz yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan meningkat setelah Iran menggelar latihan militer berskala besar di kawasan tersebut, yang memicu kekhawatiran negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Oman, dan Arab Saudi.

‎"Dan kita juga melihat bahwa ada informasi tentang pada saat perang terjadi, kemudian Perdana Menteri Israel yang mengunjungi Uni Emirate Arab, kemudian Arab Saudi, walaupun ini sudah dibantah oleh negara-negara tersebut, tetapi indikasi ini adalah kuat sekali bagi intelijen bahwa ada pergerakan-pergerakan kerjasama antara Israel dengan negara-negara di Timur Tengah, terutama Arab Saudi, kemudian Uni Emirate Arab," ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima, Jumat (15/5).

‎Selain itu, insiden tenggelamnya kapal kargo di perairan lepas pantai Oman dan penahanan sejumlah kapal oleh Iran turut memperburuk situasi di Selat Hormuz. Kondisi tersebut dinilai memengaruhi sentimen investor global dan mendorong penguatan dolar AS.

‎"Siapakah yang sebagai dalang, ini pun juga membuat ketegangan tersendiri bagi Slat Hormuz Timur Tengah," imbuhnya. 

‎Menurutnya, pasar juga masih mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed). Ia menilai peluang penurunan suku bunga pada 2026 semakin kecil seiring meningkatnya inflasi di AS akibat kenaikan harga energi dan tensi geopolitik.

‎Di sisi lain, hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok kembali menjadi perhatian setelah pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping membahas perang dagang hingga isu Timur Tengah dan Taiwan. Ketegangan kedua negara dinilai berpotensi memperkuat dolar AS di pasar global.

‎"Nah ini yang secara geopolitik secara eksternal membuat dolar mengalami penguatan harga minyak naik rupiah mengalami dolar mengalami penguatan kemudian harga minyak naik rupiah melemah. Itu dari segi eksternal," terangnya. 

‎Sementara dari dalam negeri, Ibrahim mengatakan pelemahan rupiah juga dipengaruhi terbatasnya aktivitas pasar domestik selama periode libur panjang. Dalam kondisi tersebut, Bank Indonesia hanya dapat melakukan intervensi di pasar internasional untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

‎Ia menilai intervensi Bank Indonesia mulai terlihat efektif setelah rupiah sempat menyentuh level di atas Rp17.600 per dolar AS sebelum kembali bergerak di bawah level tersebut.

‎Ibrahim menyebut pemerintah dan Bank Indonesia diperkirakan akan memperkuat langkah stabilisasi pasar pada pembukaan perdagangan pekan depan, termasuk melalui intervensi dan lelang obligasi.

‎"Artinya apa? Artinya Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional. Ya mungkin nanti kita akan berbicara berbeda pada saat pembukaan pasar di hari Senin," tambahnya. 

Ia juga menyoroti tingginya kebutuhan impor minyak mentah Indonesia yang sebagian besar digunakan untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM). Kondisi itu dinilai meningkatkan kebutuhan dolar AS dan memberi tekanan tambahan terhadap rupiah.

Meski demikian, Ibrahim menegaskan fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat. Hal itu tercermin dari dominasi investor domestik dalam kepemilikan obligasi pemerintah yang mencapai sekitar 90%.

‎"Ya bisa saja 25 basis point sampai 50 basis point tujuannya adalah untuk menestabilkan mata uang rupiah. Memang ya dalam kondisi saat ini sangat sulit Bank Indonesia apakah tetap mempertahankan suku bunga atau menaikkan suku bunga tapi ada kemungkinan besar dalam bulan Mei ini pertemuan Bank Sentral Indonesia akan menaikkan suku bunga tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah," tutupnya