periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup di zona merah pada perdagangan Selasa (12/5), seiring tekanan kuat dari eksternal, terutama penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketegangan geopolitik global.

“Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 114 poin ke level Rp17.528 per dolar AS, setelah sempat melemah 120 poin dari posisi sebelumnya Rp17.414,” ujar Pengamat Mata Uang Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Selasa (12/5).

Ibrahim menjelaskan, penguatan dolar dipicu meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian global. Negosiasi antara AS dan Iran yang berjalan alot kembali memicu kekhawatiran pasar. Perbedaan tuntutan terkait gencatan senjata, termasuk soal penghentian konflik, pencabutan blokade, hingga ekspor minyak Iran, membuat ketegangan tetap tinggi.

Kondisi tersebut turut menyeret sentimen pasar ke arah negatif terhadap mata uang emerging market. Selain itu, pasar juga menantikan rilis data inflasi AS yang akan menjadi penentu arah kebijakan moneter The Fed ke depan.

“CPI utama diperkirakan akan naik 0,6% MoM pada bulan April, melambat dari 0,9% sebelumnya. Secara tahunan inflasi diperkirakan naik menjadi 3,7% YoY dari 3,3%,” kata Ibrahim.

Ia menambahkan, inflasi inti masih menunjukkan tekanan yang relatif tinggi. CPI inti diproyeksikan meningkat menjadi 2,7% YoY dibandingkan 2,6% sebelumnya.

Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah juga belum kuat. Meski pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 mencapai 5,61%, angka tersebut dinilai lebih dipengaruhi efek basis rendah (base effect) dibandingkan perbaikan fundamental.

Selain itu, tekanan juga datang dari sektor manufaktur yang mengalami kontraksi pada April, serta ketidakpastian kebijakan fiskal yang masih membayangi pasar.