periskop.id - Rupiah ditutup menguat pada perdagangan Rabu (13/5/2026) di tengah volatilitas pasar global yang masih tinggi akibat ketegangan geopolitik dan tekanan inflasi Amerika Serikat (AS). Untuk perdagangan jangka pendek, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif.

“Rupiah sempat menguat 75 poin dan ditutup menguat 53 poin di level Rp17.475, dari penutupan sebelumnya di Rp17.528,” ulas Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Rabu (13/5).

Pada perdagangan Senin depan, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.470-Rp17.530, dengan rentang sepekan di Rp17.420-Rp17.650.

Penguatan rupiah terjadi meski indeks dolar AS ikut menguat di pasar global, dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik Timur Tengah serta tekanan inflasi di AS. Sentimen pasar tetap rapuh setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik Iran

“Negosiasi dengan Iran berada dalam kondisi kritis setelah penolakan proposal yang didukung AS, di tengah kekhawatiran gangguan Selat Hormuz yang merupakan jalur transit minyak global utama,” kata Ibrahim.

Ketegangan tersebut meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak dunia, yang berpotensi mendorong inflasi global lebih tinggi dan memperumit arah kebijakan suku bunga.

Dari sisi data ekonomi, inflasi AS juga masih menunjukkan tekanan yang tinggi. Tercatat CPI AS naik 0,6% pada April, sementara inflasi tahunan meningkat menjadi 3,8%, yang merupakan level tertinggi sejak pertengahan 2023, dengan inflasi inti juga berada di atas ekspektasi.

Pasar kini menunggu rilis indeks harga produsen (PPI) AS untuk membaca arah inflasi selanjutnya, di tengah penurunan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.

Investor juga mencermati agenda diplomasi global, termasuk rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei di Beijing, yang akan membahas isu perdagangan, Iran, Taiwan, dan rantai pasok global.

Sentimen Domestik: Utang Naik, BI Jaga Stabilitas Pasar

Dari dalam negeri, pemerintah menegaskan posisi utang masih berada dalam batas aman meski mengalami kenaikan. Posisi utang pemerintah mencapai Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026, naik dari Rp9.637,90 triliun pada akhir Desember 2025.

Pemerintah menekankan bahwa rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih terjaga jauh di bawah batas ketentuan. Rasio utang terhadap PDB berada di level 40,75%, masih di bawah batas aman 60% PDB, sehingga dinilai masih dalam koridor fiskal yang sehat.

Dari total tersebut, struktur utang masih didominasi instrumen domestik. Sebesar Rp8.652,89 triliun atau sekitar 87,22% dari total utang pemerintah berasal dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).

Stabilitas nilai tukar juga didukung langkah intervensi Bank Indonesia di pasar global maupun domestik. Bank sentral disebut aktif menjaga volatilitas melalui pasar offshore, spot, DNDF, hingga pembelian SBN di pasar sekunder.