periskop.id - Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kian dalam setelah menembus level psikologis Rp17.600 per dolar AS di pasar internasional. Level ini dinilai menjadi titik krusial yang membuka ruang pelemahan lanjutan menuju Rp18.000 dalam waktu dekat.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menegaskan, pergerakan rupiah sempat melewati batas tersebut sebelum akhirnya sedikit tertahan oleh aksi stabilisasi otoritas moneter.
“Tadi pagi ya di Rp17.600an lebih. Kemudian sekarang sudah kembali di bawah Rp17.600. Artinya apa? Artinya Bank Indonesia benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional,” ujar Ibrahim Assuaibi dalam keterangan resmi, Jumat (15/5).
Level Psikologis Jebol, Tekanan Belum Selesai
Menembus level Rp17.600 bukan sekadar pergerakan biasa, melainkan sinyal bahwa tekanan eksternal masih sangat dominan. Dalam kondisi seperti ini, pasar cenderung menguji level berikutnya, yakni Rp18.000 sebagai batas psikologis baru.
Ibrahim melihat, selama tidak ada perubahan signifikan dari sisi global maupun domestik, kecenderungan pelemahan masih akan berlanjut.
“Dalam perdagangan di bulan Mei ini kemungkinan besar 18 ribu akan tembus,” tegasnya. Bahkan, ia membuka kemungkinan skenario lebih ekstrem jika tekanan berlanjut tanpa intervensi yang cukup kuat.
Kombinasi Risiko Global Dorong Dolar
Dorongan utama datang dari penguatan dolar AS yang didukung kombinasi faktor global. Ketegangan geopolitik di jalur energi dunia, khususnya kawasan Timur Tengah, membuat harga minyak meningkat dan mendorong arus dana global kembali ke aset safe haven.
Di saat yang sama, ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat memperkuat posisi dolar. Kenaikan harga energi dinilai berpotensi menjaga inflasi tetap tinggi, sehingga ruang penurunan suku bunga menjadi semakin sempit.
Mempertahankan suku bunga lebih tinggi lagi ini akan berdampak terhadap penguatan indeks dolar,” jelas Ibrahim.
Selain itu, dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga kembali memanas, menambah lapisan ketidakpastian global yang membuat pelaku pasar cenderung menghindari aset berisiko, termasuk mata uang emerging market seperti rupiah.
Intervensi BI Jadi Penahan Sementara
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia disebut aktif melakukan intervensi di pasar internasional, terutama selama periode libur panjang ketika pasar domestik tidak beroperasi penuh. Langkah ini terbukti mampu menahan pelemahan lebih dalam, meski sifatnya masih sementara karena tekanan utama berasal dari eksternal.
Ke depan, saat pasar kembali aktif, intervensi diperkirakan akan diperkuat, baik melalui operasi moneter maupun koordinasi dengan pemerintah.
Faktor Domestik Perbesar Tekanan
Dari dalam negeri, kebutuhan dolar yang tinggi masih menjadi tantangan utama. Ketergantungan pada impor energi, terutama minyak mentah, membuat permintaan terhadap dolar tetap besar, terlebih saat harga minyak global meningkat.
“Dari 1,5 juta barel minyak mentah yang diimpor 85% adalah untuk subsidi bahan bakar minyak,” ungkap Ibrahim.
Kondisi ini mempersempit ruang stabilisasi rupiah karena tekanan tidak hanya datang dari luar, tetapi juga dari struktur kebutuhan domestik.
Arah Kebijakan: Suku Bunga Jadi Kunci
Dalam menghadapi situasi ini, Bank Indonesia dihadapkan pada pilihan sulit: menjaga stabilitas nilai tukar atau mempertahankan momentum pertumbuhan. Ibrahim menilai, opsi kenaikan suku bunga tetap terbuka sebagai langkah defensif untuk meredam tekanan terhadap rupiah.
“Ya bisa saja 25 basis point sampai 50 basis point tujuannya adalah untuk menstabilkan mata uang rupiah,” katanya. Namun demikian, kebijakan tersebut harus diambil secara hati-hati mengingat dampaknya terhadap sektor riil.
Meski tekanan terhadap rupiah meningkat, Ibrahim menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid. Hal ini tercermin dari dominasi investor domestik di pasar obligasi yang mencapai sekitar 90%.
Kondisi tersebut menjadi bantalan penting di tengah gejolak global, meskipun belum cukup kuat untuk sepenuhnya menahan tekanan eksternal dalam jangka pendek.
Tinggalkan Komentar
Komentar